Bagaimana Menyikapi Literasi Digital?



Jakarta - Studium Generale Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Jakarta berlangsung sukses. Kemarin, Ahad (24/11), bertempat di Perpustakaan Umum DKI Jakarta Taman Ismail Marzuki, para peserta, yakni Pramuda Angkatan ke-22 tampak  antusias mendatangi tempat acara sejak pagi. SG kali ini menghadirkan dua penulis yang telah menghasilkan puluhan karya, Boim Lebon dan Yanuardi Syukur. Kedua senior di FLP ini bergantian menyapa dan memberikan materi kepada para anggota baru Pramuda. 

Boim Lebon, selaku pembicara pertama menyampaikan materi tentang bagaimana sikap seorang penulis dalam menghadapi fenomena literasi digital saat ini. 

"Bagaimana menyikapi perubahan media dari cetak ke digital?" tanya sosok yang akrab disapa Bang Boim ini. "Sebetulnya nggak usah disikapi ya. Biarin aja gitu," lanjutnya santai.

Di sela-sela banyolan renyahnya, menurutnya, fenomena digital tidak perlu dikhawatirkan, malah harus dimanfaatkan dengan baik karena fenomena yang sama juga pernah terjadi di era 60an. Saat televisi mulai muncul. Dulu muncul kekhawatiran dengan hadirnya televisi. Ketika televisi mulai muncul, mulai jarang terdengar suara ngaji Al-Qur'an di rumah-rumah di daerah Dukuh Atas, Jakarta, tempat tinggalnya, karena setiap rumah banyak yang menonton televisi. Begitu pun dengan smartphone yang saat ini seperti kebutuhan primer masyarakat.

"Kita harus mengenali sisi positif dari perkembangan smartphone dalam hal ini. Sebetulnya, medianya apa pun, karya harus tetap terus bertambah," tegas penasihat FLP ini.

Senada dengan Bang Boim, Yanuardi Syukur alias Mas Yankur memberikan tips kepada peserta agar tidak tenggelam oleh fenomena digital saat ini. Menurutnya, setidaknya ada enam hal yang sangat mendukung penulis dalam menghasilkan sebuah karya. Di antaranya, memasukkan Islamic value dalam tulisan. Hal ini berlaku sesuai nilai-nilai dalam agama penulis. Lalu, berpikir integrasi dan global minded, tabayyun (memastikan kebenaran) pada setiap hal, memperluas jaringan, dan produktif.

"Potensi apa pun yang Tuhan kasih ke kita, kita manfaatkan," tegasnya.

Sebagai mana tema SG, Literasi 4.0: Cerdas Berliterasi Menuju Peradaban Tinggi, ketua pelaksana SG, Asri pun turut berpesan kepada para peserta, "Luruskan niat, bangun semangat, bila ingin menulis menulis lah, bila ingin mendapatkan teman berbaurlah."

Hudayfi, pemandu acara yang juga Wakil Ketua FLP Jakarta tak ketinggalan memotivasi para Pramuda.

"Karya itu nggak harus bagus, temen temen nulis, jadi karya, bagus tidak bagusnya itu nanti. Yang penting punya karya. Itu karya temen2 bukan ciplak sana ciplak sini, itu perjuangan temen-temen," tandasnya hingga akhir. (Lail)

Pramuda Angkatan ke-22 bersama Boim Lebon



Bagaimana Menyikapi Literasi Digital? Bagaimana Menyikapi Literasi Digital? Reviewed by FLP cabang Jakarta on Monday, November 25, 2019 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.