Mengembangkan Kemampuan Menulis di Era Digital


Mengembangkan Kemampuan Menulis di Era Digital
Talkshow dalam Pesantren Literasi
Sabtu-Ahad, 26-27 Mei 2018 Forum Lingkar Pena Jakarta mengadakan acara pesantren Ramadhan dengan sebutan yang berbeda, yaitu Pesantren Literasi, mengingat komunitas ini adalah kemunitas kepenulisan. Pesantren Literasi ini diadakan di dua lokasi, Rumah Makan Jamur Sweden, Beji, Depok dan WAMY (World Assembly Moslem Youth), Jakarta Selatan.

Acara ini diawali dengan talkshow yang menghadirkan para pembicara yang ahli di bidangnya. Mereka adalah Pipiet Senja (penulis senior), Irfan Azizi (ketua divisi jaringan wilayah FLP Pusat) dan Ali Hasibuan (jurnalis & penulis). 

Talkshow yang dimulai sejak pukul 14.00 hingga menjelang waktu berbuka puasa berjalan dengan seru dan penuh inspirasi. Tema dari talkshow sendiri, yaitu "Pasang Surut Karya Kepenulisan di Era Digital".

Dengan penuh semangat, para pembicara memaparkan pengalaman dan suka duka di dunia kepenulisan yang awalnya berada di era kertas atau cetak menjadi era digital. Berikut pemaparan para pembicara:

Pipiet Senja (penulis senior)

Teh Pipiet mengaku sudah mulai menulis sejak tahun 1975. Mulanya, ia resah dengan berbagai tulisan yang isinya cenderung vulgar serta jauh dari spirit keislaman. Dari keresahan tersebut, beliau bertekad untuk menuliskan tentang Islam.

Usahanya menuliskan tentang Islam ternyata jauh dari harapan alias tidak berjalan mulus. Banyak karya yang sudah ditulisnya tidak mendapat respon baik dari penerbit maupun media pada saat itu. Sekali ada yang menerima, malah hasil terbitnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pengalaman Teh Pipiet ketika tulisannya diterima di sebuah media dengan judul dan ilustrasi yang tidak sesuai dengan isinya membuat Teh Pipiet kesal dan marah kepada media tersebut. Pasalnya, judul tulisan beliau diubah dengan kata-kata vulgar dengan ilustrasi yang mengumbar aurat, padahal isinya jauh dari hal-hal tersebut.

Hingga saat ini Teh Pipiet telah menghasilkan 196 karya buku. Beliau memiliki waktu khusus untuk menulis setiap hari, yaitu pada pukul dua pagi. Kebiasaan itu sudah ia lakukan sejak dulu. Setiap hari ia pasti akan menulis di jam tersebut. Jika sekali saja tidak menulis, ia merasa ada yang kurang di hari itu.

Walapun dengan berbagai rintangan yang mengiringi, seperti penyakit yang dideritanya, Talasemia, asma dan penglihatan yang mulai berkurang, beliau masih terus menulis, bahkan ketika sedang dirawat di rumah sakit pun ia mencuri-curi waktu untuk menulis.

Menurutnya, dengan berkembangnya zaman digital ini, bukan penghalang untuk menulis. Ia berpesan tetaplah menulis di era apapun, era tradisional maupun digital. Justru dengan perkembangan teknologi digital akan mempermudah seorang penulis untuk memviralkan karyanya. Beliau bercerita bahwa ada seorang penulis yang baru menuliskan sinopsis novelnya, sudah banyak orang memesan bukunya, padahal tulisan itu belum tuntas.

Era digital juga memiliki sisi negatif, yaitu ketika seorang ibu membiarkan anaknya mengeksplor gawai sendiri tanpa pengawasan. Jadi, pastikan era teknologi digital ini kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga dan orang lain.

Irfan Azizi (ketua div. jaringan wilayah FLP Pusat)
Mengawali pemaparannya tentang dunia kepenulisan di dunia digital, pemuda yang aktif di FLP Bogor ini mengajukan pertanyaan kepada para peserta talkshow. Pertanyaannya adalah “Apa sih digital itu?”

Dalam KBBI V,
di.gi.tal
berhubungan dengan angka-angka untuk sistem perhitungan tertentu; berhubungan dengan penomoran.

Mengapa kita butuh menulis di era angka-angka ini? Irfan Azizi membacakan sebuah puisi tentang angka dan huruf sebagai jawabannya. Puisi yang menarik dan menginspirasi tersebut membuat peserta talkshow yang hadir sadar akan pentingnya menulis.

Semakin digital, semakin perlu banyak konten. Maka di zaman inilah kita semakin butuh banyak penulis,” ungkapnya.

Irfan juga mengingatkan kepada para pegiat literasi, khususnya anggota FLP, mengenai niat atau motivasi menulis. Kembali kepada niat kita menulis, apakah untuk berbagi atau untuk popularitas. Jika niatnya ingin berbagai, maka menulis dan sebarkan sebanyak mungkin tanpa memikirkan materi dan popularitas, insyaallah rezeki dan popularitas akan menjadi bonus yang Allah berikan.

Ali Hasibuan (jurnalis)
Ali Hasibuan telah mengenal dunia literasi sejak usia SD. Pada masa itu, ia lebih suka memilih buku bahasa Indonesia dibanding buku-buku pelajaran lain sebagai buku favoritnya. Kenapa? Karena di dalam buku bahasa Indonesia banyak cerita menarik yang bisa dinikmati. Ia akan membaca buku tersebut berulang-ulang sebab buku cerita di daerah tempatnya tinggal masih sulit didapat.

Jurnalis media islam ini cukup bersyukur karena saat ini sudah banyak donatur atau komunitas literasi yang peduli dengan kebutuhan buku-buku untuk anak-anak di desa. Saat ini, sudah ada mobil buku, kapal buku, kuda buku yang menjangkau desa-desa, sehingga anak-anak pun bisa menikmati dan meraup ilmu dari buku-buku yang dibawa. Menurut pemaparannya, anak-anak di desa tidak pernah tersentuh dunia luar, apalagi buku. Tapi sekarang mereka justru dicekoki oleh televisi yang menjamur ke desa-desa.

Mengenai era digital, Ali Hasibuan mengungkapkan sisi positif dan negatifnya. Di era teknologi digital seperti sekarang, orang akan dengan mudah mendapatkan infomasi tentang apa pun. Misalnya, sebuah kegiatan yang diadakan di Jakarta akan dengan mudahnya diketahui oleh masyarakat di daerah lain melalui situs web, media sosial, portal berita, dan lain-lain.

Sisi negatifnya, yaitu dengan maraknya berita-berita di berbagai media daring, tidak menutup kemungkinan munculnya berita bohong atau hoaks. Sebuah berita bohong muncul akibat adanya persaingan berbagai media digital yang berlomba-lomba menyajikan berita dalam hitungan detik. Dengan demikian, berita yang ditulis belum sempat dikonfirmasi kebenarannya oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

Bang Ali memberikan tips bagaimana cara mengetahui sebuah portal berita yang resmi dan isi berita yang bisa dipertanggungjawabkan. Pertama, cari tahu alamat kantor berita dari portal berita tersebut. Biasanya situs web atau portal berita yang resmi akan mencantumkan alamat kantor di halaman web-nya. Kedua, hindari berita dengan judul-judul yang memprovokasi. Saat ini marak berita-berita dengan judul memprovokasi. Hal itu dibuat untuk menarik orang mengeklik dan membaca isinya walaupun jauh dari kebenaran.

Para Narasumber dan Peserta Talkshow "Pasang Surut Karya di Era Digital"
Para Narasumber dan Peserta Talkshow "Pasang Surut Karya di Era Digital"
Itulah uraian singkat dari para narasumber di acara talkshow “Pasang Surut Karya di Era Digital”. Marilah kita sebagai masyarakat yang hidup di era digital, menjadi pribadi cerdas dalam memilah sebuah berita atau informasi yang datang dari media apa pun. Bacalah dengan cermat dan teliti sebuah berita dan jangan mudah menelan berita-berita yang belum bisa dipastikan kebenarannya.

Bagi para penulis, menulislah kapan pun di media mana pun. Karena tugas penulis adalah menulis, tidak peduli di era digital maupun era tradisional. Menulislah untuk kebaikan, manfaat dan perubahan positif bagi pembaca lintas generasi.

Salam literasi!






  









Mengembangkan Kemampuan Menulis di Era Digital Mengembangkan Kemampuan Menulis di Era Digital Reviewed by FLP cabang Jakarta on 22.45 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.