Mengenal Makna Kemenangan

Oleh : Razu Ibnu Syuhada

Kemenangan, merupakan salah satu dari tujuan kehidupan di dunia yang penuh dengan beragam kompetisi. Karena hakikatnya adanya kehidupan di dunia ini adalah semata untuk sebuah kompetisi di hadapan Allah. Siapa di antara hamba-Nya yang paling baik amalannya di sisi Allah.
“(Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS Al Mulk : 2)
Kemenangan, juga merupakan suatu penghargaan bagi segolongan manusia yang mampu melewati segala jenis rintangan dan ujian dalam perjalanan panjang yang tak berujung. Disebut jalan perjuangan tak berujung karena sesungguhnya memang tak akan pernah ditemui ujung dari sebuah perjalanan kehidupan kecuali ia dipotong oleh yang dinamakan dengan kematian. Sedangkan siapapun yang bernyawa tak pernah tahu kapan datangnya kematian. Hingga seseorang baru akan menyadari bahwa saat tiba baginya kematian, ternyata ia adalah ujung dari perjalanannya.
Masih soal kemenangan, sebagai bentuk pembuktian diri seorang muslim mewujudkan sebuah cita agung menjadi insan rabbani, tentu saja kita tak mau lebih berobsesi disebut sebagai pemenang menurut pandangan manusia dibanding sebagai pemenang di hadapan Allah. Karena kemenangan menurut penilaian Allah adalah sebuah kemenangan yang nyata dan tak layak dinomorduakan. Sementara saat kemenangan menurut pandangan makhluk lebih dinanti-nanti, maka dia boleh jadi berevolusi hanyalah sebagai sebuah kekalahan. Dan di ranah kehidupan di dunia yang sementara ini, sungguh kekalahan itu tak akan pernah sedikitpun memberikan kemanfaatan apapun selain sebuah kerugian yang sebesar-besarnya.
Lantas apa sebenarnya tolak ukur bagi seorang muslim dalam memahami arti kemenangan itu?
Imam Ahmad memberikan definisi sederhana dari kemenangan yang cukup memberikan gambaran sebagaimana adalah, “Luzuumul Haq fii Quluubina ...” ‘Selama kebenaran itu masih bersemayam kokoh dalam hati, maka itu adalah kemenangan. Itulah sebuah kesuksesan.’
Perlu jadi catatan, dalam menyerap makna kebenaran atau yang disebut dengan Al Haq itu pun harus sesuai dan tak keluar dari garis tujuan yang disampaikan Alquran dan Sunnah sebagai sumber hidayah bagi manusia. Jika ia ada di dalam hati dan kita berjuang keras untuk selalu menjaga dan memperjuangkannya, maka barulah yang demikian itu bisa kita namakan kemenangan.
Pemeran Utama dalam Mewujudkan Kemenangan dan Kebangkitan
Mengambil sari pemikiran seorang tokoh mujaddid abad 20, Al Imam Hasan Al Banna, beliau merumuskan empat faktor yang mampu mewujudkan cita-cita akan kemenangan dan kebangkitan ummat Islam (‘awamilu an najaah), diantaranya; Al Iman, Al Ikhlas, Al Hamasah (semangat), dan Al Amal (kerja nyata).
Dari keempat faktor tersebut, Iman dan Ikhlas adalah modal paling awal dalam pergerakan. Keduanya menjadi pondasi utama yang mengokohkan setiap langkah dalam rangka mewujudkan kemenangan hakiki yang dielu-elukan Islam saat ini. Dan ternyata, kalau ditambah dengan dua faktor sisanya yaitu Al Hamasah dan Al Amal maka bisa disimpulkan dan disinyalir bahwa yang paling berpotensi mewujudkan keempat pilar itu adalah generasi para pemuda. Karena dalam diri para pemuda, kekuatan dan semangat beramal berada dalam kondisi yang paling prima.
Nampaknya kita pun sudah tak asing lagi mendengar sebuah ungkapan fenomenal dari bapak proklamator Indonesia, Bapak Soekarno yang dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa sepuluh pemuda mampu menjadi modal untuk mengguncang dunia. Hal ini boleh dibenarkan karena maksudnya adalah bahwa pemuda adalah pemegang peran penting dalam mewujudkan kebangkitan.
Kunci Kemenangan Menurut Al Quran
Nash Al Quran (Teks Al Quran) memang sudah paten dan tak lagi berubah baik itu berupa tambahan maupun pengurangan. Namun maknanya akan selalu terus mengikuti perkembangan zaman yang terus berubah. Ayat Al Quran sangat relevan dengan kehidupan manusia di setiap makan wa zaman (tempat dan waktu). Inilah kitab yang memiliki nilai keunggulan tersendiri yang tak bisa dipatahkan oleh siapapun tentang kebenaran dari Allah yang terkandung di dalamnya.
Jika melangkah sedikit lebih jauh ke depan maka kita akan menyingkap rahasia makna surat Al Anfal ayat 65-66. Coba perhatikan tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diperintahkan mengajak kaum mukminin untuk berperang jihad membela Al Haq (Islam) di jalan Allah. Intinya, memberi dorongan motivasi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam agar tak boleh ada keraguan sedikitpun andai jumlah pasukan muslim yang ada saat itu hanya 20 orang.
Ternyata konteksnya seolah memberikan syarat tertentu bahwa yang dimaksud dengan 20 orang ini tidak cukup dengan beriman, tapi mereka juga memiliki hati yang kokoh dengan sabar. Maka dari makna “Isyruuna shaabiruuna” ‘Dua puluh orang (mukmin) yang sabar’ dihadiahkan  sebuah janji Allah dengan, “yaghlibuu mi’atain...” ‘Dapat mengalahkan dua ratus musuh (orang-orang kafir). Dan jika yang ada di antara kalian sejumlah 100 orang yang serupa, maka janji Allah adalah mereka akan mampu mengalahkan sebanding dengan 2000 jiwa musuh.
Ayat ini menuntun kita untuk mengambil pelajaran bahwa kunci utama kemenangan versi Al Quran adalah iman dan kesabaran. Iman dan kesabaran Ini juga menjadi jawaban bagi kita mengapa doa pertama yang dilirihkan oleh Thalut dan pasukannya saat melawan Jalut adalah, “Rabbana, afrigh alaina shabraa,”
Dalam keterjepitan, dalam himpitan, dalam krisis yang tak terelakkan, mereka masih memiliki iman dan harapan kuat dari keimanan dan kesabaran. Kemudian doa itu pun bersambung, “wa tsabbit aqdaamana wanshurna alal qoumil kaafirin.” Maka berputarlah segala kemustahilan. Sungguh kemenangan menjadi sebuah keharusan yang mesti dibayar lunas.
Firman Allah, “Dan merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang beriman.” (Ar-Rum : 47)
Dan ketahuilah, bahwa kabar gembira bagi orang-orang yang sabar bukan hanya kemenangan. Tapi juga cinta dari Ar Rahiim Al Waduud

Mengenal Makna Kemenangan Mengenal Makna Kemenangan Reviewed by FLP cabang Jakarta on 08.07 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.