Tukang Sekoteng Itu...


Selepas tunaikan sholat Maghrib di sebuah masjid, hampiri seorang tukang sekoteng. Bisa dikatakan, bila sholat di masjid itu, saya seringkali beli sekoteng yang dijual bapak setengah tua itu. Sudah langganan. Sekotengnya enak, lebih berasa jahe dan bumbu-bumbu yang lainnya.

Alasan lainnya, bapak tersebut rajin tunaikan sholat Maghrib berjama’ah di masjid itu.

Imam Syafi’I pernah bertamu dan menginap di rumah salah seorang sahabatnya. Putri dari sahabatnya itu ingin tahu bagaimana ibadah dari sang imam madzhab. Menurutnya tidak ada yang istimewa, bahkan satu hal yang membuatnya bertanya, “Mengapa tuan imam terlihat banyak sekali makannya?”

Imam Syafi’I menjawab bahwa dia senang makan di rumah sahabatnya yang beriman. Itu berarti makanan yang disajikannya adalah makanan-makanan yang halal. Oleh karenanya dia manfaatkan kondisi ini dengan memakan dengan banyak.

Walau tidak persis seperti kondisi imam Syafi’i, saya ingin sedikit membagi rezeki yang diberikan Allah dengan membeli sekoteng yang dijual seseorang yang rajin tunaikan sholat Maghrib berjamaah. Sehingga dengan begitu, saya berharap rezeki yang diperoleh tukang sekoteng adalah rezeki yang halal.

Akhir Juli, Senin kemarin, saya kembali membeli sekoteng. Usai menikmati semangkuk sekoteng, saya serahkan uang pecahan Rp 20 ribu dan pecahan Rp 1000. Supaya kembalian yang saya terima menjadi Rp 15 ribu.Tapi ternyata dia tidak memiliki kembalian. PecahanRp 20 ribu dikembalikan, seraya dia berkata, “Lima ribunya besok aja deh.”

Dia nampak pasrah.Padahal khan belum tentu ketemu saya keesokkan harinya.

Keesokkan harinya, saya sengaja kembali sholat di masjid itu. Usai Maghrib, menghampiri tukang sekoteng. Bayar hutang hari sebelumnya dan membeli satu porsi.

“Saya ga enak hutang sama bapak.”

“Oh gapapa.Tenang aja,” begitu dia menanggapi

“Bahkan…” bapak itu bercerita.Ternyata dia sering member secara cuma-cuma semangkuk sekoteng kepada ibu-ibu yang anaknya merengek minta dibelikan sekoteng. Ibu-ibu itu terus terang bahwa dia tidak mempunyai uang. Maka, bapak penjual sekoteng itu memberikannya gratis.


“Rezeki, insya Allah ada aja. Benar setelah itu, ada saja rezeki lainnya.” begitu si bapak menjelaskan.

sumber image: http://farm7.static.flickr.com
Tukang Sekoteng Itu... Tukang Sekoteng Itu... Reviewed by ARYA NOOR AMARSYAH on 01.07 Rating: 5

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.