Serupa Tapi Tak Sama


Senang melihat pemandangan di masjid. Para supir taksi memarkirkan kendaraannya di halaman masjid, bukan hanya satu, dua. Tapi banyak. Bahkan mungkin pernah mendengar cerita supir taksi yang menolak menerima penumpang dengan alasan ingin menunaikan sholat terlebih dahulu.

Di era-nya kendaraan online, pemandangan di atas juga bisa ditemui di masjid-masjid. Jaket-jaket khas pengendara motor online menunjukkan hal itu. Bukan hanya sekedar istirahat, tapi ikut sholat berjamaah.

Pedagang es krim, tukang sekoteng juga tidak mau ketinggalan. Mereka menghadap Allah swt di rumah-Nya. Seorang gadis berlari-lari ke masjid, takut kehabisan waktu sholat Maghrib.

Semuanya di atas, mendatangi masjid untuk beribadah, menunaikan kewajiban kepada Allah swt, menundukkan hati dan kepala untuk sujud pada-Nya.

Tapi tidak semua yang datang ke masjid untuk keperluan itu. Orang seperti ini datang bukan untuk beribadah. Juga tidak untuk tunaikan kewajiban kepada Allah swt. Sama sekali tidak terbetik niat untuk menundukkan hati dan kepala untuk Allah swt.

Itulah yang terjadi dalam minggu-minggu ini (saya lupa persisnya). Seorang jamaah sholat Maghrib kehilangan tas kecilnya. Di dalam tas itu ada uang, ada ATM, ada kontrak kerja yang baru saja disepakatinya dengan seseorang.

Orang itu menceritakan bagaimana posisi tasnya berada. Seorang saksi curiga terhadap seseorang. “Kemungkinan pencurinya adalah orang yang pura-pura menerima telepon, lalu pergi ke luar masjid,” ujarnya.

Kejadian di masjid seperti ini sudah sering terjadi. Saya pernah kehilangan sepatu di masjid sekitar Kp Melayu. Teman saya pernah kehilangan tas yang berisi laptop di masjid di daerah Bogor. Adik saya juga seperti itu. Dia kehilangan tas berisi ijazah, ketika sedang melamar kerjaan di daerah Cilegon. Dan, amat disayangkan, hilangnya juga di sebuah masjid.

Betul kata Rasulullah saw, semua amal tergantung niatnya. Ada yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya. Namun ada yang berhijrah, karena wanita yang akan dinikahinya kelak.

Nampak dari luar, sama-sama berangkat dari Mekkah menuju Madinah. Terlihat jelas sama-sama berangkat berhijrah. Tapi yang terlihat sama itu, bisa jadi berbeda. Salah satu perbedaannya terletak di niat.

Silahkan saja orang mengatakan bahwa Islam dengan Demokrasi. Dengan alasan, Demokrasi mengajarkan musyawarah. Islam pun mengajarkan musyawarah.

Tapi cobalah periksa lebih dalam lagi. Adanya persamaan karena sama-sama ada musyawarah, benarkah itu menujukkan hal yang sama? Apakah Islam selalu memusyawarahkan segala urusan?

Apakah karena pendapatan pemerintah daerah sangat minim, lalu lokalisasi dibenarkan menurut Islam? Tentu kita sepakat, hal seperti ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Tidak perlu dimusyawarahkan lagi.

Sekali lagi, nampak dari luar boleh sama. Tapi niat bisa berbeda. Nampak dari luar boleh sama, tapi landasan, alasannya bisa berbeda.

Semoga manfaat… 

sumber image: https://luciafajarfile.files.wordpress.com





Serupa Tapi Tak Sama Serupa Tapi Tak Sama Reviewed by ARYA NOOR AMARSYAH on 3:25 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.