Pemandangan Indah di Daarul Ikhwan


Ada satu pemandangan yang mengagumkan di Musholla Daarul Ikhwan. Terutama di waktu Subuh. Dua orang anak kecil, rutin menunaikan sholat Subuh berjamaah di musholla itu.

Ayah (atau mungkin ayahnya) senantiasa sholat Subuh juga di sana. Anak yang satu biasa datang tidak berbarengan dengan ayahnya. Kalo tidak dia datang lebih dulu, maka ayahnya yang lebih dulu sampai di musholla. Bila sholat sudah tertunaikan, terkadang si anak pulang lebih dulu. Sambil mencium tangan ayahnya, dia meminta kunci rumah.

Sementara anak kecil yang satu lagi, kerap kali datang bersama ayahnya. Bila sampai di musholla, sering kali ingin berada di shof terdepan. Beberapa kali, saya tidak memperoleh shof terdepan, karena mereka dan beberapa orang lainnya telah terlebih dahulu mengisinya. Menurut keterangan ayahnya, anak ini baru berusia 10 tahun.

Menunaikan sholat Subuh bukan perkara mudah, terutama bagi yang belum terbiasa. Harus bangun tidur, sewaktu sedang lelapnya tidur. Sholat Subuh berjamaah di musholla atau masjid juga perlu perjuangan.

Tapi kedua anak kecil luar biasa. Bisa menunaikan sholat Subuh berjama’ah di musholla. Itu berarti mereka bangun tidur sebelum adzan Subuh berkumandang. Karena sebelum sampai di musholla, mereka harus persiapan terlebih dahulu. Terlebih jalan kaki menuju musholla juga memerlukan waktu.

Khusus untuk anak kecil yang kedua, dia luar biasa. Karena selain tidak terlambat menunaikan sholat Subuh, dia juga sholat Subuh berjamaah di shof terdepan. Shof terdepan merupakan shof terbaik bagi kaum pria. Shof terdepan merupakan shof yang didoakan oleh para malaikat.

Seandainya manusia mengetahui apa yang ada (yaitu keutamaan) di dalam seruan (adzan) dan shaf pertama, lalu mereka tidak bisa mendapatkan shaf tersebut kecuali dengan undian, sungguh mereka akan melakukan undian untuk mendapatkannya.” (HR. Bukhari 580)

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan." (HR. Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dari Barra' bin 'Azib)

Orang tua kedua anak kecil juga tidak kalah luar biasa. Peran mereka teramat penting untuk mencetak generasi penerus yang berkualitas. Merekalah yang turut berperan dalam membentuk diri menjadi muslim dan mukmin sejati. Mungkin dari dua orang tua dan dari dua anak kecil ini, cikal bakal munculnya semangat kaum muslimin menunaikan sholat Subuh berjamaah hingga jamaahnya bisa mencapai sebanyak jamaah sholat Jum’at. Suatu kondisi yang amat ditakutkan oleh orang-orang Yahudi.

Suatu ketika Syaikh Maulana Tariq Jamil –seorang ulama besar Pakistan-  pergi berdakwah ke daerah perbatasan Jordania-Israel. Di daerah perbatasan, ketika rombongan Syaikh Maulana Tariq selesai menunaikan sholat Subuh, di salah satu masjid, tiba-tiba dari luar seorang tentara Israel melihat ke arah dalam masjid. Usai melihat sebentar, tentara Israel itu pergi. Syaikh Maulana Tariq Jamil segera menghampiri tentara Israel itu dan bertanya mengenai apa yang dilakukannya barusan.

“Saya hanya ingin melihat berapa jumlah orang Islam yang hadir sholat Subuh di masjid,” ujar tentara Israel itu.

“Mengapa?” tanya Syaikh

“Di dalam kitab kami (Kitab Taurat) ada tertulis ‘Jika di seluruh dunia jumlah orang Islam yang hadir untuk sholat Subuh berjamaah di masjid sama banyak dengan jumlah jamaah sholat Jum’at, maka saat itu Israel akan hancur.’ Akan tetapi, tadi saya lihat jumlah orang Islam yang hadir di masjid untuk sholat Subuh berjamaah masih sedikit, saya pun menjadi tenang, karena umat Islam pasti tidak bisa mengalahkan kami.”

Syaikh Maulana Tariq Jamil pun menjadi sangat keheranan usai mendengar pembicaraan ini.
  
Ada cerita senada. Cerita ini berasal dari Ustadz Syamsi Ali dari New York. Ustadz yang sudah tinggal lama di komunitas Yahudi dunia ini menyaksikan dua orang rabi bercakap-cakap.

Salah seorang rabi Yahudi menyatakan kekhawatirannya pada jama’ah sholat Jum’at. Karena pertemuan kaum muslimin di saat itu bias dijadikan wadah untuk bergerak dalam rangka mengadakan perlawanan terhadap Yahudi.

Rabi yang kedua malah tertawa, lalu berkata, “Sholat Jum’at jangan dijadikan standar bahwa umat Islam sudah bersatu. Sholat Jum’at bukan indikasi bahwa umat Islam sudah bersatu. Walau mereka memenuhi masjid di waktu siang dan jumlahnya banyak, tapi mereka itu tercerai berai.”

“Jika seperti itu, apa yang bias dijadikan ukuran bahwa mereka sudah bersatu padu dan apa tandanya mereka akan segera menghancurkan kita?” tanya rabi pertama kebingungan.

Dengan berbisik, seolah takut pembicaraannya didengar orang lain, rabi kedua menjawab, “Sholat Jum’at memang bukan standar kekuatan mereka. Satu-satunya yang bias dijadikan tolok ukur dan harus diwaspadai serta dicemaskan adalah jika kaum muslimin sudah menunaikan sholat Subuh berjamaah sebanyak mereka melaksanakan sholat Jum’at. Bila sholat Subuh mereka sudah memenuhi masjid-masjid seperti halnya sholat Jum’at, barulah itu pertanda akan datangnya kehancuran bagi kita. Di hari itulah, kita wajib waspada.”


Sumber:https://www.kaskus.co.id (ditulis ulang dengan sedikit perubahan)

sumber image: https://4.bp.blogspot.com/


Pemandangan Indah di Daarul Ikhwan Pemandangan Indah di Daarul Ikhwan Reviewed by ARYA NOOR AMARSYAH on 23.36 Rating: 5

2 komentar:

  1. Masya Allah, sampai merinding bacanya...
    Semoga dalam waktu dekat seluruh masjid/surau dipenuhi jamaah yang akan melaksanakan shalat berjamaah, terlebih khusus shalat subuh...Aamiin Ya Rabbal'alamiin

    BalasHapus
  2. Aamiin. Jazakillah El. Alhamdulillah copasannya di atas sudah ditulis ulang.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.