Ada Ustadz di Bazar Buku


Ahad, saya ‘performance’. Bantu teman-teman divisi marketing penerbit Buku Yusuf Mansur dalam acara bazar buku. Bazar buku digelar di Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an, Ketapang, Tangerang.


Ahad, 9 Juli 2017 bertepatan dengan hari pendaftaran santri baru pesantren milik ustadz Yusuf Mansur (UYM). Banyak orang tua yang menemani anak-anaknya yang ingin menjadi santri. Adik atau kakak dari para calon santri juga menemani, bahkan kakek dan neneknya pun ikut serta.


Ada yang ayahnya menarik-narik koper, sementara ibunya yang menenteng ember berisikan peralatan mandi dan gantungan baju. Sementara anaknya ‘menggendong’ ransel.


Di sisi lain, para orang tua mengantri untuk mengambil berkas-berkas yang harus dipersiapkan sebagai prasyarat pendaftaran santri baru.


Selain bazar buku yang kami adakan, ada juga stand-stand makanan yang bertebaran di lokasi. Stand penjualan merchandise khas Daarul Qur’an juga nampak turut meramaikan.


Penjualan buku karya-karya Ustadz Yusuf Mansur dibagi ke 3 lokasi. Lokasi dekat masjid, lokasi dekat tempat pendaftaran dan di bagian belakang dari pesantren.


Saya membantu penjualan buku di dekat masjid. Sebagaimana biasa, bila ada calon pembeli mendekat, saya coba menjelaskan sedikit tentang buku yang diketahui. Karena menurut saya, calon pembeli atau pembeli perlu tahu apa isi dari buku-buku itu.


Seorang bapak mendekat, melihat buku-buku yang dipajang. Saya pun menjelaskan buku yang dipegangnya. Tak lama kemudian, bapak itu pun mengajak saya berdiskusi tentang ayat 11 dari surat Ar-Ra’du. Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang merubahnya.”


“Bagaimana menurut pendapat mas tentang ayat ini?”
“Allah akan merubah nasib hamba-Nya, selama hamba-Nya itu mau merubahnya. Usaha untuk merubah, kalo menurut ustadz Yusuf Mansur sepemahaman saya, dilakukan dari dua arah. Dari sisi kemanusiaannya, sebagai adab, akhlak kita kepada Allah. Pendek kata, usaha-usaha yang biasa dilakukan manusia untuk mencapai sesuatu. Cara keduanya adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah, dengan berbagai macam ibadah. Sebanyak-banyaknya dilakukan dan dilakukan secara terus menerus.”


Saya menambahkan, “Di dalam ayat ini, Allah seolah memberi syarat, jika ingin berubah, berusahalah merubah dengan diri sendiri.”


Bapak tua yang saya panggil ‘ustadz’ itu menanggapi. “Kalo setiap orang berusaha, maka tidak ada yang gagal dong? Tapi kenapa sudah berusaha, pendidikannya sama, sama-sama lulusan dengan nilai terbaik, tapi yang satu jadi ‘orang’, sedangkan yang satunya lagi tidak jadi ‘orang’?”


Ustadz itu menambahkan, “Keduanya orang shalih dan tidak melanggar hukum. Tapi kenapa nasibnya berbeda?”


Saya terus mendengarkan penjelasannya.


“Ayat ini memang menggugah manusia untuk berupaya semaksimal mungkin. Tapi kita harus tetap mempunyai adab kepada Allah. Keberhasilan atau tidaknya suatu usaha tergantung Allah,” jelas ustadz itu


“Selanjutnya…sebagai sandingan dari ayat di atas, kita perlu juga memperhatikan ayat 53 dari surat Al-Anfaal,” tambah ustadz.


Arti dari ayat itu adalah, “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,”


Bisa jadi Allah telah menganugerahkan kepandaian kepada seseorang, tapi anugerah ini digunakan untuk ‘minterin orang lain’ atau menipu orang, nah pada saat itulah Allah merubah nikmat itu menjadi siksaan.


Ustadz itu menjelaskan bahwa dirinya mengantarkan cucunya untuk nyantri di pesantren Tahfidz Daarul Quran, Ketapang, Tangerang.


“Terima kasih ustadz. Doakan kami ya, ustadz.”

sumber image: https://rizkianto.files.wordpress.com


  
Ada Ustadz di Bazar Buku Ada Ustadz di Bazar Buku Reviewed by ARYA NOOR AMARSYAH on 23.55 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.