Pemenang Lomba Cinta Ibu; Kisah Inspirasi

    Berbagi Kasih
    oleh Aulia Nurdini

       Berawal dari kebiasaannya yang senang berbagi, dia mulai membuka usaha di bagian belakang rumahnya. Entah apa yang tepat untuk menyebutkan bentuk usahanya, sebagian merupakan toko kelontong yang menjual barang-barang untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian lagi tempat menjual makanan jadi. Setelah menunaikan ibadah shalat shubuh, tiap pagi sampai sekitar pukul 10 siang, biasanya banyak orang berkumpul di belakang rumah ini untuk membeli bubur ayam. Bagaimana tidak laku keras, harganya hanya seribu Rupiah per porsi. Ini harga di awal tahun 2000-an sik. Para pembeli ada yang hanya sekedar datang dengan membawa rantang, yang bertingkat-tingkat, untuk membeli beberapa porsi bubur ayam untuk keluarganya di rumah atau yang sekaligus membeli bahan masakan lainnya. Ada yang datang membeli seporsi bubur ayam, lalu berlama-lama duduk di bangku panjang di bagian belakang rumah dan mengobrol dengan para pembeli lainnya sambil sesekali menyeruput teh tawar. Ada yang duduk di kursi-kursi yang mengitari meja makan. Sebagian lagi yang tidak dapatkan tempat duduk, lebih memilih makan sambil berdiri daripada tidak mendapatkan sarapan bubur ayam di tempat Mak. Bubur ayam Mak memang terkenal enak dan murah.
        Dalam satu bulan, hanya satu-dua kali jualan bubur Mak tidak habis. Bila demikian, maka Mak atau Bapak akan membuang sisa bubur ke dalam balong untuk jadi makanan ikan. Satu Kampung Leuwihalang mengenal Mak. Banyak sekali hal yang menyebabkan Mak mudah dikenal orang sekampung. Pertama karena Mak suka sekali membangunkan orang-orang untuk shalat subuh melalui pengeras suara masjid. Mak melakukannya tiap pagi dengan melantunkan doa sambil bernyanyi. Salah satunya yang dilantunkannya adalah, Doa Nabi Adam AS sebagai berikut: “Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamana lana kunnana minal khosirin.” Artinya : Ya Allah, kami telah mendholimi pada diri kami sendiri, jika tidak engkau ampuni kami dan merahmati kami tentulah kami menjadi orang yang rugi.
           Lalu, dilanjutkan dengan lantunan lagu berikut :

Du gusti pangeran abdi
Abdi dzolim ka diri abdi
Upami gusti teu ngahapunten
Tangtos abdi janten jalmi anu rugi

Abdi nganiaya diri
Pami gusti teu ngahapunten
Sareng gusti teu welas asih
Tangtos abdi janten jalmi anu rugi

Lantunan tersebut beberapa kali dinyanyikan, hingga kemudian Mak beralih ke doa-doa dan puja-pujian lainnya, seperti:

Eling-eling umat muslimin muslimat
Hayu urang berjamaah sholat.
Eta kawajiban keur urang di dunia
Kanggo pibekeleun jaga di akherat

Mun terang ganjaran sholat berjamaah
Kabeh lalaki moal sholat di imah
Masjid pinuh persatuan moal bengkah
Khusu’ na ibadah jeung pinuh barokah

         Baru kemudian, Mak biasanya mengatakan “Gugaahh, gugaaah”, yang artinya “bangun”. Mak rutin melakukannya tiap subuh setelah selesai memasak bubur ayam dan beberapa penganan lainnya, seperti gorengan, di jam 3 pagi. Untungnya, masjid terletak persis di depan rumahnya sehingga Mak tidak perlu susah payah berjalan kaki untuk melakukan kebiasaannya di usia senjanya. Selain terbiasa membangunkan orang-orang sekampungnya untuk shalat, Mak juga rajin menyediakan makanan dan minuman untuk acara pengajian yang seringnya juga diadakan masjid di depan rumahnya atau di balai desa, yang jaraknya beberapa rumah saja dari rumah Mak. Para pelanggannya pun sudah tahu bahwa belanja di warung Mak biasanya suka dapat barang lebih daripada uang yang dibelanjakan. Terlebih bila mak tahu kalau yang belanja memang sedang dalam kondisi susah dan kekurangan. Bagi Mak, kalau memberi kepada seseorang, bisa jadi Mak akan mendapat balasannya tidak melalui orang yang sama, tetapi melalui orang yang lainnya lagi. Balasannya pun tidak selalu dalam bentuk benda yang sama. Mak sangat percaya bahwa balasannya akan jauh lebih dari setimpal. Bagi Mak, mendapat atensi dan kebaikan dari para penduduk di kampungnya adalah salah satu balasannya.
         Mak tidak pernah mengajarkan soal berbagi ini dengan mengatakannya secara langsung pada putrinya, Ade. Namun, semuanya terlihat dengan jelas melalui perbuatan baiknya. Mak lulusan SD, jadi Mak punya batasan dalam menyampaikan pendapat dan pemikirannya. Orang yang baru pertama kali mengenal Mak mungkin akan lebih mengira kalau Mak ini orang yang galak dan tidak toleran. Karena memang Mak menggunakan bahasa Sunda yang kasar. Namun, apa pun yang Mak katakan sebenarnya demi kebaikan orang yang Mak ajak bicara. Ade paham betul kebiasaan Mak untuk selalu berbagai dan memberi. Oleh karenanya, diusia dewasanya, Adekemudian terinspirasi dari kebiasaan Mak dalam berbagi dan memberi ini dengan memilih guru sebagai profesinya. Ade meninggalkan kampung Leuwihalang dan hijrah ke Jakarta. Meski sempat berprofesi sebagai konsultan pendidikan, yang bergaji bonafid, Ade kemudian mengambil kesempatan untuk mewujudkan profesi impiannya sebagai guru, yang gajinya tidak seberapa saat itu. Baginya menjadi guru adalah panggilan jiwanya.
         Bapaknya sendiri awalnya menyangsikan pilihannya karena dia jarang sekali berbicara, terlebih di depan umum. Namun, waktu membuktikan kalau pilihannya tidaklah salah. Ade percaya bahwa “bisa itu karena biasa”. Jadi dia tinggal membiasakan diri saja, maka dia akan bisa berbicara dan mengajar di depan murid-muridnya. Oleh karena dia keluaranSekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama (SKKP) dan Sekolah Kesejahteraan Keluarga (SKKA), maka Ade pertama kali mengajar PKK di salah satu sekolah menengah pertama di Jakarta dan mendapat panggilan Bu Ade.
          Ternyata profesi barunya itu, bukan hanya mengubah kebiasaannya yang awalnya suka berdiam diri dan tidak banyak bicara, melainkan juga menjadi pribadi pemaaf, berani bertanya, menikmati hidup, mudah tersenyum dan tertawa, berani mencoba, menunjukkan afeksi, serta mudah menerima perbedaan. Semuanya karena Bu Ade senang mengamati tingkah polah anak didiknya. Perilaku anak-anak, seperti mudah “melepaskan”, menjadi pelajaran bagi Bu Ade untuk “Forgive and Forget!”. Bu Ade menjadi terbiasa untuk mengungkapkan kemarahan (dengan cara yang sesuai) sehingga entah itu kepada rekan kerjanya ataupun muridnya, tahu bahwa Bu Ade sedang marah, lalu Bu Ade akan memaafkannya. Ini menjadikan Ibu belajar untuk bersikap legowo dalam segala hal. Daripada terobsesi bahwa segala hal dapat “beres”serta rutin dan teratur bisa melakukan semua pekerjaan, lebih baik relaks saja dan menikmati perkembangan diri, anak didiknya, dan keluarganya, yang semuanya terjadi sangat cepat. 
          Dengan profesi barunya, Bu Ade terbiasa di-bombardir dengan pertanyaan anak-anak, mulai dari “Itu apa?”, “Kenapa?”, “Kok, bisa?”, “Kalau begini bisa?”, dan masih banyak lagi lainnya. Anak-anak tidak berhenti bertanya selama masih memiliki rasa penasaran dengan sesuatu yang mereka ingin ketahui. Bu Ade jadi tidak malu dan tidak takut untuk bertanya, meskipun terkadang pertanyaan itu terdengar konyol.
Ada saja “ritual-ritual” anak-anak didiknya yang biasanya dianggap ajaib oleh orang dewasa. Padahal, apa yang mereka lakukan adalah bentuk dari menikmati masa kanak-kanaknya. Dengan memperhatikan detail kebiasaan anak-anak seperti ini, bu Ade jadi belajar menikmati setiap kehidupannya dan mensyukurinya. Bahagia setiap hari, hanya dengan  menikmatime time, menikmati secangkir kopi di taman rumah, dan sebagainya.  
          Anak-anak cenderung tidak peduli dengan perbedaan, baik jenis kelamin, warna kulit, usia, bahkan agama dan ras. Apa pun tampilan dan latar belakangnya, anak-anak tidak ragu untuk menegur dan mengajak main teman barunya. Hal ini membuat siapa pun belajar menerima perbedaan dan fokus pada kebaikan orang lain, bukan pada kejelekan/keanehan seseorang secara fisik atau perbedaannya. Menertawakan momen sangat lekat dengan dunia anak-anak. Apa pun momennya, baik lucu atau pun garing, anak-anak sering kali meresponsnya dengan tawa. Mungkin anak-anak sepaham dengan tokoh Charlie Chaplin, “A day without laughter is a day wasted!” Menurut Lee Berk, Associate Professor dari University School of Medicine, California, Amerika Serikat, tertawa dapat meningkatkan  kemampuan tubuh dalam menghadapi tekanan dan melawan penyakit. Bahkan tertawa juga merupakan bentuk latihan olahraga menurut beberapa penelitian. Tertawa 100 kali sama sehatnya dengan 15 menit bersepeda. Selain lebih menikmati setiap momen kehidupan dengan tertawa dan tersenyum, Bu Ade juga belajar lebih menunjukkan afeksi dari anak-anak. Belajar spontanitas dan mengungkapkan apa yang dirasakan. Biasanya bentuk spontanitas itu jujur, apa adanya. Nah, bentuk spontanitas ini yang seringnya membawa kejutan bagi orang-orang sekitar.
          Meski belajar dari sekitar dan mengalami perubahan karenanya, tinggal di Jakarta bertahun-tahun tidak mengubah kebiasaan yang sudah Mak contohkan selama bertahun-tahun pada Bu Ade. Ada saja kebiasaan berbagi yang selalu dilakoni Bu Ade. Misalnya, kebiasaannya menaruh beberapa kardus di satu sisi rumah, untuk bisa ditaruh baju-baju layak pakai, bahan makanan, atau buku. Barang-barang ini, yang pada akhir tahun atau di masa mudik, bisa dibawa pulang ke kampung untuk kemudian dibagikan kepada yang membutuhkan.
           Sebagai perempuan, Ibu suka membeli barang-barang diskon-an, yang kemudian ditumpuknya dalam suatu kontainer di rumahnya. Nah, tumpukan yang satu ini, suatu kali nanti bila ada momennya, seringnya dimanfaatkan kembali menjadi hadiah doorprize untuk acara kumpul ibu-ibu PKK di lingkungan RT di sekitar rumahnya, atau menjadi hadiah yang dapat dibagi-bagikan saat acara kumpul keluarga besarnya. Di gerbang sekolah, pernah suatu kali ada anak kecil yang suka menjajakan majalah remaja dan suka melongok ke arah anak-anak yang sedangbermain di lapangan sekolah. Ibu yang saat itu sedang piket di dekat gerbang sekolah, memanggil penjaja majalah ini dan membuatnya curhat. Dari ceritanya, ibu kemudian tahu kalau anak ini masih bersekolah di satu SD petang, dan karenanya di pagi hari, dia dapat menjajakan dagangan terlebih dahulu, baru kemudian bersekolah di petang harinya. Setelah mengetahui hal ini, ibu kemudian selalu membeli barang dagangan si anak, lalu mempengaruhi rekan sesama guru lainnya untuk juga membeli majalah si anak.
          Bu Ade melakukan kegiatan berbaginya secara terus-menerus tiap tahun, baik di lingkungan rumah ataupun di sekolah tempatnya bekerja. Mungkin sudah banyak yang mendengar ungkapan "Children are great imitators. So give them something great to imitate."—Anonim. Ini sejalan dengan pendapat Daniel B. Kessler, M.D., Direktur Ikatan Dokter Anak Spesialisasi Perkembangan dan Perilaku Anak di Children’s Health Center of St. Joseph’s Hospital, Phoenix, yang mengatakan “anak-anak biasanya akan mengamati dan mencermati informasi yang mereka lihat atau dapatkan sebelum mereka menirunya. Di usia 1 tahun, anak biasanya meniru apa yang mereka lihat dan dengar”. Maksudnya adalah anak-anak yang ada di sekitar Ibu Ade, termasuk saya,menjadi anak yang memperhatikan dan mencermati segala apapun yang ibu lakukan di rumah. Oleh karenanya, ibu sudah menjadi rolemodel yang baik dengan bersikap dan berperilaku yang terbaik.
          Mak dan Ibu Ade adalah perempuan-perempuan yang bepengaruh dalam hidup saya dengan menjadi nenek dan ibu kandung saya. Saya hanya berharap dapat menjadi peniru ulung yang lebih baik dari semua kebaikan yang sudah mereka lakukan semasa hidupnya. Yaitu, meniru kebiasaan mereka untuk berbagi dengan orang-orang sekitar, tanpa bersikap seperti pedagang yang memperhitungkan untung ruginya pemberian yang sudah mereka lakukan. “Happy Mother’s Day, grand ma n mum!”


Catatan :
Aulia Nurdini merupakan pemenang utama dalam Lomba Cinta Ibu yang diadakan internal oleh Divisi Karya FLP Jakarta periode 22 Desember 2016 s/d 14 Januari 2017. Walau masih ada kekurangan, tetapi kisah inspirasi di atas tergolong memenuhi kriteria-kriteria yang ditentukan. Pemenang mendapatkan hadiah bingkisan, piagam dari Divisi Karya FLP Jakarta dan karyanya berhasil dimuat di situs ini. Selamat ya, Aulia! :)
 

Pemenang Lomba Cinta Ibu; Kisah Inspirasi Pemenang Lomba Cinta Ibu; Kisah Inspirasi Reviewed by Divisi Karya FLP Jakarta on 4:53 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.