Kisah Ramadhan di Masa Kecil

Bulan Ramadhan di waktu kecil tak terlupakan. Waktu itu kami sekeluarga tinggal di daerah Menteng Jaya. Suatu Daerah yang terletak di belakang Gedung Perintis Kemerdekaan, tempat pembacaan teks Proklamasi 17 Agustus 1945.
Kami (saya dan adik) sudah menjalani shaum hingga Maghrib sejak kecil. Waktu itu masih SD. Bila adzan Maghrib tiba, maka terjadilah perlombaan lari menuju ruang makan.
“Bedug…bedug..” begitu teriak kami
Rumah kami memanjang ke belakang. Kami berlari melewati kebun, teras, ruang tamu, kami tidur kami, kamar tidur orang tua dan sampailah di ruang makan.
Begitu setiap adzan Maghrib tiba. Begitu pula setiap Ramadhan di tiap tahunnya. Menyegerakan berbuka, bila waktunya telah tiba.
Belakangan diketahui bahwa menyegerakan berbuka, termasuk hal yang dianjurkan oleh Rasulullah saw.Secara tidak sadar, kami telah melaksanakan anjuran Rasulullah itu.
Hanya saja kami melakukannya bukan karena anjuran Rasulullah. Mungkin karena sudah teramat haus dan lapar. Mungkin karena sudah tergiur oleh bayang-bayang makanan yang akan menjadi pembuka.
Memang begitulah. Kita dapat melihat berbagai perbuatan manusia. Dilihat langsung dengan mata, terlihat sama. Tidak ada yang berbeda sedikitpun. Di masjid akan terlihat semua orang ruku’, mengikuti ‘komando’ imam. Semua sujud. Tidak ada bedanya.
Tapi ternyata Al-Quran menjelaskan. Ada shalatnya orang-orang munafik yang shalat untuk mencari perhatian. Ada pula shalatnya orang-orang beriman yang ditunaikan dengan khusyu’.

Demikian pula menyegerakan berbuka puasa. Bagaimanakah sebenarnya sikap kita? Apakah menyegerakan berbuka puasa seperti anak kecil? Atau menyegerakan berbuka karena anjuran Rasulullah? Atau malah kita tidak menyegerakan berbuka karena alasan yang bermacam-macam, padahal waktu berbuka telah tiba. 
Kisah Ramadhan di Masa Kecil Kisah Ramadhan di Masa Kecil Reviewed by ARYA NOOR AMARSYAH on 02.27 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.