Al Baqarah 185



Oleh: Rahmat Zubair

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian ada di dalam bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka wajib menggantinya sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” [QS. Al Baqarah:185]

Saudaraku yang seiman dan seakidah, alhamdulillah hari ini kita masih diberikan kesempatan kembali oleh Allah untuk bernafas di bulan penuh berkah ini. Ramadhan, adalah bulan mulia yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya. Rasanya, baru saja kemarin kita berpisah, sekarang sudah kembali dipertemukan di tahun yang berbeda. Di antara kita mungkin ada yang pernah menyesal karena belum bisa memanfaatkan jiwa dan raganya dengan maksimal pada bulan Ramadhan yang lalu. Maka, sekaranglah waktunya untuk menambal segala kekurangan-kekurangan tersebut. Telah hadir di hadapan kita kesempatan itu. Mari kembali bercermin diri, menata hati sambil memperbaiki diri.

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang dihargai oleh Allah swt. Ada amalan-amalan sunnah pada bulan-bulan biasa yang ganjarannya serupa dengan amalan-amalan wajib bila ia dilakukan pada bulan Ramadhan ini. Dan begitu pula dengan ganjaran-ganjaran pahala yang dilakukan di bulan selain Ramadhan, semua akan dilipatgandakan hingga tujuh puluh kali lebih banyak oleh Allah, khusus bila ia dilaksanakan di bulan ini. Mengapa bisa begitu? Karena di dalamnya terdapat peristiwa penting yaitu pada malam ketika diturunkannya Al-Qur’an. Semua sepakat bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan ini di malam hari. Dan malam itulah yang dikenal dengan malam Lailatul Qadr.

Kemudian, mari kita perhatikan ayat di atas. Saat Allah menyebutkan kalimat, شَهْرُ رَمَضَانَ, tahukah kita bahwa Allah sesungguhnya telah menekankan dan membuat suatu rekayasa yang baik bagi manusia khususnya ummat muslim. Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa kebaikan di bulan ini terasa begitu mudah? Sedekah, berpuasa, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan lain-lain.

Orang yang berpuasa tidak akan merasa susah karena banyak juga yang melaksanakan puasa. Justru sebaliknya, yang tidak berpuasalah yang akan merasakan begitu banyak kesukaran. Bisa dibayangkan jika seorang kepala keluarga misalkan,  yang pergi kerja mencari nafkah, kemudian kelelahan dan merasa lapar dan dahaga. Bapak itu harus mengendap-endap sembunyi sambil melirik kesana kemari saat mampir ke warung makan karena takut ketahuan orang. Sudah begitu, ketika pulang ke rumah, si bapak ditanya oleh anaknya yang masih kecil, “Bapak masih puasa, kan?” Nah, di sinilah muncul lagi kesulitan kedua yang akhirnya mengharuskan diri untuk berdusta pada anaknya sendiri. Belum lagi saat tiba waktu berbuka bersama keluarganya. Si bapak tadi akan merasa lebih cemas dan gundah gulana saat melihat istri dan anak-anaknya bersemangat puasa dan menanti berbuka, sedangkan dia sendiri sedang tidak berpuasa. Dari sini pulalah timbul kesulitan berikutnya; hati yang tidak tenang. Dan inilah yang Allah inginkan. Jika kita sudah terekayasa dengan kebaikan, maka diharapkan dengan terbiasanya diri dengan rekayasa kebaikan-kebaikan ini, selama 30 hari bulan ramadhan kita sudah membentuk pribadi baru untuk diterapkan di 11 bulan lainnya.

Jangan sebaliknya. Jika kita terekayasa dengan kemunkaran, dan ketika kemunkaran itu menjadi marak, maka dia akan menjadi hal yang ma’ruf (wajar). Sebagaimana sebuah kaidah, idza katsura al munkar, shara ma’ruufan. Apa itu berarti kemunkaran itu jadi diperbolehkan? Tidak! Bahkan yang bertentangan dengan kemunkaran itulah yang disebut munkar.

Contoh, ada tiga orang pemuda. Dua diantaranya meminum minuman alkohol, sedangkan yang satunya tidak. Maka yang menjadi munkar adalah yang tidak meminum alkohol karena ia mengingkari suatu kewajaran. Jika orang-orang pacaran dan ada satu yang tidak, maka yang tidak dan menolak pacaran itu akan disebut orang yang munkar. Karena dia telah menyalahi kewajaran. Ini menjadi bencana.

Kemudian kalimat selanjutnya, الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ Allah telah menurunkan pada bulan ini Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi seluruh manusia karena Al-Qur’an turun tidak untuk eksklusif, dan penjelasan akan petunjuk-petunjuk itu dan furqoon.

Lantas, apa sih yang dimaksud dengan furqaan di sini? Furqaan berarti pembeda. Al-furqaan di sini tidak sekadar berarti suatu pembeda yang membedakan antara yang bathil dan yang haq. Tapi yang membedakan antara yang benar dan yang lebih benar. Seumpama ada kertas dan sebuah peci putih, kemudian ditanyakan, “Mana yang lebih putih di antara keduanya?” Maka makna Al-Furqoon inilah yang menjadi sesuatu yang menambah keistimewaan Al-Qur’an.

Kembali kepada ayat, فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ, jika seseorang sudah melihat bulan ramadhan, maka wajib baginya berpuasa. Sedangkan kalimat, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر, ini adalah penegasan dari ayat sebelumnya bahwa orang yang sedang dalam keadaan sakit dan bepergian, maka diperbolehkan baginya untuk tidak berpuasa. Sakit yang dimaksud di sini adalah jika memang penyakitnya benar-benar mengancam hidupnya. Tapi jika masih sanggup, maka berpuasa akan menjadi lebih baik baginya. Karena Allah selalu ingin memudahkan segala urusan hamba-Nya dan tak pernah ingin sedikitpun membuat hamba-Nya merasa kesukaran. Dan perlu kita renungkan juga, jika setiap amalan ibadah justru malah terasa sulit, maka perlu dipertanyakan hatinya. Sudahkah kita mengerti arti dari ketakwaan yang hakiki?

Al Baqarah 185 Al Baqarah 185 Reviewed by Ahmad Lamuna on 21.19 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.