Hakikat Shalat


Memanfaatkan momentum Isra’ Mi’raj, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syamil Sampoerna University menggelar acara seminar Islamic Culture Day (ICD) 2016 di Kalibata City Square, Jakarta Selatan, Sabtu (7/5). Hadir sebagai pembicara Akmal Sjafril dan Peggy Melati Sukma. Adapun saya (Nur Afilin) didaulat menjadi moderator.

Acara dimulai sekitar pukul 10.30 dengan didahului sambutan-sambutan dari ketua panitia, Ketua LDK, dan perwakilan Sampoerna University. Berlanjut kemudian penampilan nasyid Daim Voice dari Politeknik Negeri Jakarta. Kemudian, acara berlanjut dengan sesi inti, yakni seminar.

Usai MC Deas Pratama mengundang moderator untuk naik panggung, kedua pembicara tak lama kemudian menyusul menempati kursi yang sudah disiapkan di atas panggung. Usai pembacaan CV kedua pembicara, bincang-bincang dengan pembicara seputar tema acara pun dimulai. 

“Sebenarnya ada dua peristiwa, yaitu Isra’ dan Mi’raj. Isra’ adalah ketika Rasulullah SAW diperjalankan Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, sedangkan Mi’raj ialah saat Rasulullah diperjalankan lagi oleh Allah ke Sidratul Muntaha untuk langsung menghadap-Nya,” terang Peggy saat ditanya tentang makna Isra’ Mi’raj dalam pandangannya.

Bagi Peggy, kita bisa mengambil ‘ibrah ihwal memakmurkan masjid dari peristiwa Isra’ karena Allah memilih memperjalankan Rasulullah dari masjid ke masjid, baru kemudian “diangkat” ke Sidratul Muntaha.

“Padahal Allah bisa saja dong langsung memperjalankan Rasulullah langsung ke Sidratul Muntaha dari Masjidil Haram. Maka, ada hikmah yang mungkin bisa kita gali dari sini. Selain perintah memakmurkan masjid, isyarat tentang kemuliaan Masjidil Aqsha dan Tanah Palestina bisa jadi salah satu hikmah lainnya,” tambah aktris kelahiran Cirebon yang sudah “hijrah” ini.

Ditambahkan oleh Peggy, perintah shalat yang Rasulullah terima ketika Mi’raj, menurut Peggy adalah sebuah hadiah dari Allah. Kita sebagai umat Muhammad SAW semestinya senang turut menerima hadiah tersebut.

“Maka, temui Allah minimal 5 kali sehari sebagai bukti syukur dan kesenangan kita,” ujar Peggy.
Memasuki sesi kedua Akmal Sjafril tidak kalah seru membahas ihwal Isra’ Mi’raj dan tantangan pemikiran dewasa ini. Pendiri Sekolah Pemikiran Islam (SPI) itu memulai bahasan dari fenomena makin menghegemoninya pengaruh budaya dan pemikiran Barat dalam kehidupan kaum Muslimin.

“Masyarakat Barat sekarang jarang mengucapkan Merry Christmas, tapi lebih sering mengucapkan Happy Holiday saat libur Hari Natal. Bagi mereka momen liburan dan istirahat dari kepenatan aktifitas rutin lebih penting daripada makna Natal itu sendiri. Boleh jadi liburan Isra’ Mi’raj, walaupun tidak ada syariat merayakannya, lebih banyak dimaknai kaum muslimin dengan hanya bersenang-senang saja sama dengan masyarakat Barat,” tandas Akmal.

Adapun tentang makna shalat, Akmal berpendapat bahwa ia merupakan fitrah manusia dan kaum muslimin pada khususnya. Jika kita tidak menuruti fitrah, pasti akan ada sesuatu yang tidak beres dalam diri kita.

“Fitrah manusia memang selalu merasa perlu mendapat perlindungan, bergantung, dan sebagainya. Maka, Islam sebagai agama fitrah pasti memiliki syariat yang sesuai fitrah manusia, termasuk syariat shalat ini,” ulasnya.

Mengutip dari beberapa ayat dalam Al-Qur’an, Akmal juga menyebut shalat sebagai solusi dan sumber kekuatan bagi seorang Muslim. Allah memerintahkan kita menjadikan shalat dan sabar sebagai wasilah pertolongan-Nya. Shalat juga sumber kekuatan kita dalam mengarungi kehidupan sebagaimana ia juga menjadi sumber kekuaran Rasulullah dalam menyebarkan risalah.

Setelah sesi pemaparan materi yang dibungkus dalam talkshow, dibukalah sesi tanya jawab dari peserta. Ada beberapa penanya yang diberi kesempatan bertanya. Dua di antara beberapa inti pertanyaan dan jawabannya yang saya catat ialah sebagai berikut:

1.      Apa hukum memperingati Isra’ Mi’raj? Bukankah tidak ada perintahnya dalam Al-Qur’an atau hadis? Tapi, jika kita memperingatinya malah dikira tidak peduli terhadap peristiwa penting. Bagaimana sebaiknya kita bersikap?

2.       Apa tips agar shalat kita khusyu’?

Jawaban:

1.       Memang tidak ada perintah khusus untuk memperingati Isra’ Mi’raj, sebagaimana tidak ada juga larangan tegas memperingatinya. Karena ini bukan perkara ibadah yang harus didasarkan pada dalil, maka silakan saja jika mau mengadakan acara untuk membahas seputar Isra’ Mi’raj. Semoga menjadi sarana belajar yang baik. Mengapa harus di momen Isra’ Mi’raj? Karena memang di saat ini kita ada waktu luang, kalau hari bisa kan kita punya kesibukan masing-masing.

2.       Prinsip menjadi ahli ialah karena repetisi (pengulangan). Untuk bisa shalat khusyu’, kita semua perlu melatih diri dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas shalat. Tidak bisa kita diberi tips atau ikut pelatihan, kemudian langsung bisa shalat khusyu’. Mari sama-sama berlatih untuk mencapai derajat shalat khusyu’.

Menyusul kemudian setelah sesi tanya jawab sesi door prize, promosi program Ramadhan “Jazirah Islam” Trans 7, dan penutupan. Tercatat beberapa pihak yang mendukung dan menjadi sponsor seminar ini antara lain: Rabbani, Trans 7, Al-Hikmah TV, Rajanya Event, dan lain-lain. Semoga kita bisa memetik manfaat dari acara tersebut. Aamiin. (Nur Afilin)


  




      
Hakikat Shalat Hakikat Shalat Reviewed by Nur Afilin on 6:22 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.