Sepatu dari Kulit Babi (oleh Sayuda Patria)

Pengantar

Akhir-akhir ini terjadi Pro dan Kontra tentang Jilbab Halal. Sebuah perusahaan busana Muslim mengatakan kehalalan Jilbab tersebut bukan dari bentuknya yang menutup aurat atau tidak. Bukan juga dari modelnya yang tabaruj atau tidak. Atau mengandung unsur-unsur kemewahan atau tidak. Akan tetapi dari penggunaan emulsifier apakah mengandung gelatin(Babi) atau tidak.

Dari paparan pihak perusaan busana muslim tersebut, secara tidak langsung menyebutkan bahwa penggunaan emulsi gelatin pada bahan kain adalah haram hukumnya.

Lalu seperti apakah sebenarnya hukum penggunaan emulsi gelatin pada bahan kain ini dalam pandangan Fiqh Islam?

Berikut adalah paparan Ustadz Sayuda Patria dalam tulisan beliau beberapa waktu lalu. Semoga kita dapat mengambil kesimpulan. (Al, Ed)

-*-


Dalam rubrik hadits kali ini, penulis ingin menceritakan apa yang menjadi unek-unek penulis. Kebetulan penulis sering ikut kajian komunitas halal. Rupanya banyak komunitas masyarakat yang peduli dengan kehalalan suatu produk. Mungkin awalnya termotivasi dari menjaga diri dari makanan-makanan yang haram, kemudian meluas dan persamaan persepsi membuat masyarakat yang sepaham itu membuat komunitas halal.

Tidak ada salahnya sebenarnya dengan komunitas tersebut. Justru itu akan menumbuhkan semangat kehati-hatian agar tidak tergelincir ke dalam produk-produk yang haram. Apalagi di era perdagangan bebas seperti sekarang ini yang barang luar bisa masuk kapan saja dengan bebas asal seluruh dokumen lengkap.

Yang membuat penulis berdecak kagum, rupanya prinsip kehati-hatian itu diperluas lagi ruangnya tak hanya sebatas kepada empat hal: darah, daging babi, bangkai dan hewan yang disembelih tidak dengan menyebut nama Allah, dan persoalan ini tidak lagi tentang memakannya, tapi ke yang lain-lainnya.

Sebagai contoh, penulis melihat ada kuas yang diasumsikan dan ternyata memang benar berasal dari bulu babi. Sempat tidak menyangka bahwa kuas yang sering dipakai di pasaran seperti untuk mengoles martabak, mengoles roti-rotian, yang di pegangannya ada cat warna merah kalau tidak salah, itu berasal dari bulu babi. Bergidik, bukan?

Lalu ada lagi produk sepatu yang ternyata berasal dari kulit babi. Wah, ini penulis sempat temukan fotonya di sebuah toko di Malaysia, bagusnya toko ini di tempat display sepatu itu ditempelkan peringatan bahwa kulit sepatu tersebut berasal dari kulit babi.

Pastinya, kulit babi yang sudah menjadi sepatu itu telah melalui proses samak. Dalam KBBI offline disebutkan bahwa menyamak adalah memasak atau memproses kulit binatang agar menjadi berwarna, tahan lama, dan halus. Samak dalam bahasa arab berarti دبغ – يدبغ . Penulis sempat mencari hadits yang memiliki keyword دبغ  ini. Dan akhirnya penulis temukan sebuah hadits dari Maktabah Syamilah terkait dengan menyamak:
إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ 
Artinya: Jika kulit itu telah disamak, maka ia telah suci.

Zhahir hadits ini menerangkan bahwa kulit apapun jika telah disamak maka menjadi suci. Lalu bagaimana dengan diskusi panas yang terjadi di komunitas itu. Bagaimana dengan sepatu yang dilabelkan haram di toko display karena dibuat dari kulit babi?

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Berikut paparannya:

[1] Samak Mensucikan Kulit Hewan, Kecuali Kulit Babi

Ini adalah pendapatnya madzhab Syafi’iyyah dengan madzhab Hanafiyah, bahwa samak itu mensucikan semua kulit hewan, baik yang dagingnya halal dimakan atau tidak, kecuali kulit babi.

Dalil yang mereka gunakan ialah beberapa hadits Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya dari sahabat Ibnu Abbas:

إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ
Artinya: Jika kulit itu telah disamak, maka ia telah suci. Kecuali Kulit Babi dan Kulit Anjing (As-Syafi’iyyah)

Setelah bersepakat sucinya kulit hewan apapun yang disamak, mereka bersepakat bahwa penyamakan tidak berlaku untuk kulit babi, kalaupun disamak, tetapi tidak bisa mensucikan. Karena mereka berpandangan bahwa babi itu najis bukan karena kotoran atau sejenisnya, tapi babi itu najis karena dia babi. (Hasyiyah Ibnu Abdin 1/136, Al-Majmu’ 1/214)

 [2] Penyamakan Tidak Mensucikan Kulit Hewan

Ini adalah salah satu pendapatnya madzhab Malikiyah yang masyhur (Imam Malik punya 2 riwayat pendapat), dan juga salah satu riwayat pendapat Imam Ahmad bin Hanbal , bahwa samak itu tidak bisa mensucikan kulit hewan secara mutlak. Apapun hewannya, samak sama sekali tidak bisa membuatnya suci. (Bidayah Al-Mujtahid 73, Al-Mughi 1/66)

Madzhab ini berdalil dengan ayat Quran surat Al-Maidah ayat 3 yang menyatakan secara umum bahwa bangkai itu diharamkan. Dan kulit hewan yang mati itu hukumnya hukum bangkai, ia tidak suci. Karena tidak suci maka tidak bisa digunakan.

 [3] Samak Hanya Mensucikan Kulit Hewan Yang Dagingnya Halal Dimakan

Ini adalah salah satu dari 3 pendapatnya Imam Ahmad bin Hanbal yang diriwayatkan oleh para ulama madzhab tersebut. Dalil madzhab ini ialah hadits Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dari sahabat Salamah bin Al-Muhabbiq, mengatakan bahwa:
ذَكَاةُ الأَدِيمِ دِبَاغُهُ
Artinya: Penyembelihan kulit itu dengan menyamaknya.

Dalam hadits ini, Nabi Saw. menyamakan penyamakan dengan penyembelihan, karena hewan menjadi halal dimakan kalau sudah disembelih. Ini mengisyaratkan bahwa penyamakan itu hanya berlaku pada hewan yang boleh disembelih. Dan hewan yang hanya boleh disembelih ialah hewan yang halal dagingnya. Maka sama pun demikian, hanya berlaku pada hewan yang halal dagingnya.

Pendapat ketiga Imam Ahmad ialah: Samak mensucikan kulit hewan yang sewaktu hidupnya ialah hewan yang suci walaupun haram dimakan, seperti keledai.

Dalilnya sama seperti yang digunakan oleh madzhab Syafi’iiyah dan hanafiyah sebelumnya. Dan kenapa hewan yang najis ketika hidupnya dikecualikan? Beliau beralasan bahwa samak itu hanya mengangkat najis yang terjadi karena sebab matinya hewan tersebut. Adapun yang telah najis sejak hidupnya, maka penyamakan tidak bisa mengangkat status najisnya. (Al-Mughi 1/66, Kasysyaful-Qina’ 1/54)

[4] Samak Mensucikan Semua Kulit Hewan Tanpa Kecuali

Ini adalah pendapatnya madzhab Adz-Dzahiriyah dan beberapa ulama dari kalangan Malikiyah seperti Syahnun dan juga Abu Yusuf dari kalangan hanafiyah, bahwa samak mensucikan semua kulit hewan termasuk kulit babi. (Al-Muhalla 7/525)

Pendapat ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Ukaim yang riwayatnya tidak layak untuk dijadikan dalil, karena memang sanadnya tidak kuat. Artinya hadits ini ada cacatnya.

Resume

Berdasarkan paparan di atas, penulis dapat meringkas pendapat para ulama di atas ke dalam dua poin sebagai berikut:
• Kulit babi Najis: Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali
• Kulit babi Tidak Najis: Madzhab Azh-Zhahiriyah

Kesimpulannya bahwa mayoritas ulama madzhab fiqih melihat kenajisan kulit babi walaupun telah disamak, hanya madzhab Azh-Zhahiriyah yang tidak sependapat. Maka jika mengikuti pendapat jumhur, sepatu kulit babi tidak boleh dipakai karena itu najis. Karena najis itu haram dimakan, maka ia haram juga dimanfaatkan, kecuali dalam keadaan darurat.

Akan tetapi jika menganut madzhab Azh-Zhahiriyah, maka tidak mengapa memakai sepatu yang terbuat dari kulit babi, tidak ada larangan. Berdasarkan keumuman hadits إذا بلغ الإهاب فقد طهر .

Wallahu A’lam [sp]

images sources : bersamadakwah.net

Sepatu dari Kulit Babi (oleh Sayuda Patria) Sepatu dari Kulit Babi (oleh Sayuda Patria) Reviewed by Ahmad Lamuna on 17.31 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.