(Cerpen Kartini) Rahasia Yang Terbongkar

Rahasia Yang Terbongkar
oleh Karina Anggara

Mario baru saja kembali dari kepergiannya selama dua tahun. Dua tahun berada di Thailand untuk menjalani tugas sebagai Senior Account Executive di salah satu bank ternama. Mario menyadari bahwa kepergiannya itu telah membuat seseorang yang dicintainya; Vazya, kecewa. Lebih tepatnya, patah hati. Masih teringat jelas dalam benak Mario, ketika dirinya dengan berat meninggalkan Vazya dalam keadaan menangis tersedu. Dan setelah waktu berlalu, hari ini Mario ingin menemui Vazya untuk meminta maaf. Vazya telah mengiyakan pertemuan yang diadakan di sebuah taman yang pernah menjadi kenangan mereka itu. Mario sedikit berharap; Vazya benar-benar bisa menjadi istri untuknya kelak.
Apa kabarmu, Zy? Mario bangkit berdiri, menyambut kedatangan Vazya. Mario sudah tiba lima belas menit lalu. Ia sempat mengira Vazya tidak akan mau lagi menepati janji untuknya.
Sudah lebih baik dari terakhir kali bertemu kamu.
Mereka kemudian duduk di sebuah bangku yang terbuat dari batu. Walau tidak terdapat air mancur menarik, mereka pernah menyaksikan terang bulan purnama ditemani gemerlap bintang-bintang di taman itu. Mereka bahkan pernah memiliki impian yang sama bahwa sebuah taman bunga akan menjadi bagian dari rumah masa depan mereka.
Aku minta maaf atas kepergianku, Zy. Entah itu sebagai kesalahanku padamu atau tanggung jawab atas pekerjaanku. Aku pun terpaksa menyakiti perasaanmu, karena ketidaksanggupanku untuk menjalani long distance relationship.”
Keadaanku tidak lagi seperti yang kamu tahu, Mario. Aku sudah menjadi seorang ibu bagi anak perempuanku. Aku menikah dengan Gunawan. Vazya kemudian menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Sebelumnya, ia sengaja menutupi tangannya itu. Maaf, tadi aku terlambat karena harus mengurus bayiku dulu. Vazya melanjutkan.
Vazya yakin Mario pasti masih mengingat nama lelaki yang disebutkannya tadi. Gunawan adalah rekan kerja Mario sebelum Mario pindah ke Thailand. Mario sendiri yang memperkenalkan mereka, ketika Mario mengajak Vazya pada acara outing kantor mereka. Mungkin kini Mario ingin berteriak kesal sekaligus protes kepada Tuhan; lebih baik ia tidak kembali ke Indonesia untuk selamanya!
Lalu kenapa kamu masih mau menemuiku?
Tiba-tiba saja, Vazya mendekap Mario sangat erat. Membuat Mario agak terkejut. Vazya tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dua tahun atas rasa rindu terpendam. Sebenarnya, Vazya sudah berusaha mati-matian untuk melupakan Mario dengan cara menerima pinangan Gunawan dan menjalani lembaran baru bersama buah hati. Tetapi, kepulangan Mario sekejap membangkitkan kembali perasaan itu. Luka hati memang sulit dilupakan. Bagi Vazya; bertemu lagi dengan Mario mungkin akan mampu menjadi penyembuh luka hatinya.
“Selama berada di Thailand, aku selalu memikirkan kamu juga. Dua tahun kemarin adalah masa tersulit dalam hidupku, karena menjalaninya dengan perasaan bersalah kepadamu. Aku masih mencintaimu, Zy…”
Timbul perasaan bahagia dalam hati Vazya bahwa ia bisa merasakan dekapan Mario lagi. Diam-diam, Vazya sangat menikmatinya. Saat di mana seorang lelaki membutuhkannya dan mengharapkan cintanya. Ia tidak dapatkan itu dari Gunawan. Gunawan terlalu fokus pada pekerjaannya. Apalagi sejak kehadiran buah hati, Gunawan menaruh perhatian lebih hanya kepada si kecil yang sekarang berusia sembilan bulan.
Apa yang harus aku katakan kepada Gunawan tentang kita? Dalam hati Vazya rupanya terselip bimbang.
Katakan saja aku sudah kembali, supaya dia merasa bersalah karena telah merebutmu dariku!
Apakah kita akan selalu bertemu seperti ini?
Tentu. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu lagi. Aku berjanji.
***
Sekitar pukul 21:35, Vazya tiba di rumah. Dengan ponsel dalam genggaman tangan, ia tengah berbincang dengan sahabatnya; Gita, melalui salah satu media pesan. Gita mengetahui banyak hal mengenai diri Vazya sejak hubungan mereka terjalin lima tahun lalu. Jangan pernah bermain api, kalau kamu tidak ingin tersulut percikannya, Gita menanggapi soal kepulangan Mario. Tetapi, Vazya malah memberi respon dengan santai; how about second chance? When I knew he came back, I thought I would hate him. But instead, I felt happier. Love is still there, Gita!
Vazya kemudian mendapati Gunawan sedang menimang si kecil yang bernama Rere sambil memegangi botol susu. Ia pun tetap melanjutkan perbincangan tadi dengan Gita. Gita membalas; you made your decision. Live your life and keep move on, please...
Tetapi rupanya, Gunawan mengetahui kepulangan Vazya. Rere tidak mau tidur selama kamu tidak ada.
Kalau sudah begitu, Vazya terpaksa menyimpan ponselnya dan mengalihkan perhatiannya pada putri tercinta. “Biar nanti aku yang tidurkan Rere, jawab Vazya sambil menuangkan minuman ke dalam gelas. Kamu sudah dapat kabar? Lanjutnya kepada Gunawan.
Kabar apa?
Mario sudah kembali dari Thailand.
Oh ya? Kok, kamu tahu?
Sejenak, Vazya merasa bodoh; jawaban terbaik apa yang harus diberikannya kepada Gunawan. Mengaku sama saja bunuh diri, pikirnya. Apalagi sore tadi ia mengatakan bahwa kepergiannya untuk menemui teman lama. Tetapi, bukan Mario. Tiba-tiba, tangisan Rere meronta-ronta, menyela pembicaraan. Vazya segera mencuci kedua tangannya, kemudian mengambil Rere dari Gunawan yang sedang berusaha menenangkan Rere.
Besok aku mau mengajak Rere jalan-jalan, ucap Vazya.
Ke mana?
Entahlah. Mungkin mall atau tempat lain. Lagipula aku juga perlu mencari hiburan di luar rumah.”
Tetapi, keadaan di luar tidak baik untuk kesehatan Rere. Bisa-bisa orang lain menularkan penyakit kepada Rere. Kalau Rere sampai sakit, dia akan tersiksa. Kamu harus lebih peduli.”
Rere perlu bersosialisasi, supaya dia tidak merasa asing apalagi menjadi pengecut terhadap orang lain.
Rere masih terlalu kecil untuk dibawa keluar rumah. Nanti kalau dia sudah berumur 2 tahun, boleh kamu ajak dia jalan-jalan.
Kamu itu hanya paranoid. Rere akan baik-baik saja, Vazya kemudian beranjak pergi sambil menimang Rere yang masih menangis.
Sejenak Gunawan merasa heran dengan sikap Vazya. Baru kali ini, Vazya membantah perkataannya. Ah, mungkin dia sedang PMS, Gunawan pun meredam kecurigaannya sendiri. Semenjak menjadi seorang suami sekaligus ayah, Gunawan berusaha untuk bersikap lebih bijak.
***
Vazya mengiyakan permintaan Mario untuk bertemu lagi. Kali ini, Vazya terpaksa membawa Rere karena tidak ada yang menjaganya. Mario menjemput Vazya di tempat biasa, favorit mereka. Tidak ada yang tahu, termasuk Gunawan. Mario mengendarai mobil sedannya menuju rumahnya. Mario memang tidak suka keramaian dan Vazya merasa lebih nyaman untuk tidak terlihat oleh publik dengan keadaannya saat ini bersama Mario.
Dia cantik sepertimu, ucap Mario membuka percakapan. Matanya melirik ke tempat duduk di sebelahnya.
Thanks. Many people said that, jawab Vazya sambil memberi susu botol kepada Rere. Hubungan Vazya dengan Mario yang dulu berjalan tiga tahun, rupanya tidak membuat Vazya canggung.
Hanya dalam perjalanan selama dua puluh menit, mereka telah tiba di rumah Mario yang terletak di bilangan Mampang. Seorang satpam langsung membukakan pintu pagar, ketika Mario membunyikan klakson.
Cepat sekali Rere tertidur, ucap Mario setelah memarkirkan mobilnya.
Iya. Aku juga heran. Biasanya aku butuh satu jam untuk menidurkannya. Mungkin dia kekenyangan.”
Ayo, kita turun! Biar aku yang bawakan tas perlengkapan Rere.
Mario bersama Vazya dan Rere segera masuk ke dalam rumah Mario. Sebuah rumah yang ternyata telah dibeli Mario sebagai modal pernikahannya dengan Vazya kelak. Mario memang berencana menyunting Vazya saat kembali dari Thailand. Tetapi, rencana itu hanya menjadi mimpi belaka.
Rumah ini sengaja aku  siapkan untuk kita sejak dua tahun lalu. Hanya aku belum sempat memberitahumu.
Wanita lain yang akan menjadi istrimu nanti, pasti akan merasa beruntung!
Tidak ada hal lain ingin aku lakukan, kecuali untuk membahagiakanmu, Zy.
Rere yang berada dalam timangan Vazya tiba-tiba saja menggerakkan tubuhnya. Tidurkan saja Rere di kamarku. Kasihan dia, kalau sampai terbangun, ucap Mario sambil membukakan pintu kamar utama.
Vazya menuruti perkataan Mario.
Setelah meletakkan Rere di tempat tidur king size, Vazya berjalan keluar kamar, berusaha mengetahui keberadaan Mario. Vazya baru menyadari bahwa rumah itu lebih besar dari rumahnya sendiri. Mario bahkan sangat mengerti selera Vazya; ornamen bernuansa Mediterania. Bagi Vazya, its like a dream house! Berbeda dengan Gunawan yang sangat mempercayai Feng Shui. Sehingga, letak setiap ruangan dan segala sesuatu perabotan yang berada dalam rumah mereka harus memiliki makna bagus dalam prediksi keberuntungan. Sejenak Vazya membayangkan dirinya bertempat tinggal di rumah impian itu.
Kamu cari apa, Zy? Tiba-tiba sebuah suara menyapa Vazya yang sedang melemparkan pandangannya ke arah perapian di ruang tengah. Spontan Vazya menoleh.
Ca-ri ka-mu, jawab Vazya terbata. Sejenak, Vazya terkesima oleh pemandangan di hadapannya.
Pemandangan itu adalah sebuah meja makan yang telah ditata dengan sangat cantik oleh serpihan kelopak bunga mawar merah, disertai beberapa lilin menyala yang terletak dalam gelas-gelas sloki mini berwarna merah. Sementara Mario terlihat sedang menyiapkan hidangan untuk mereka berdua.
“I cooked these for you, Zy Mario kemudian menyajikan dua porsi sirloin steak dengan saus barbecue dan mashed potato yang lengkap dengan sayurannya. “Lets have dinner!
Woow.. Thank you, Mario Senyuman mengembang langsung nampak pada wajah Vazya. Perlakuan Mario terhadapnya mampu menghapuskan segala peluh dan penat yang dialaminya seharian tadi. Sudah lama rasanya ia tidak mendapat perlakuan istimewa seperti itu. Sejak kapan kamu punya hobi memasak?
Bukan hobi. Selama tinggal di Thailand, aku harus bisa mandiri. Daripada membeli makanan yang belum tentu aku suka, lebih baik aku belajar memasak dari panduan resep di youtube.
Mereka lalu duduk bersama. Keduanya seperti masih saling mengagumi dalam hati. Chemistry di antara mereka kembali tercipta. Vazya bahkan seolah lupa bahwa dirinya sudah tidak lagi melajang. Mario memang bukan cinta pertama bagi Vazya. Tetapi, Mario mengerti cara untuk membuat Vazya merasa spesial dalam mengagungkan cinta.
“Aku sungguh mencintaimu, Zy Bersediakah kamu meminta cerai kepada Gunawan, lalu menjadi istriku? Aku akan membuatmu bahagia, lebih dari yang Gunawan berikan dan aku akan berusaha menjadi ayah yang terbaik bagi Rere, Mario berucap. Tatapannya kali ini lebih lekat dan kemudian ia mencium tangan kanan Vazya. Hati wanita mana pun pasti akan meleleh.
Belum sempat Vazya memberi tanggapan, tiba-tiba terdengar suara hentakan dari arah pintu, Vazya!
Betapa terkejutnya Vazya, melihat sosok Gunawan berada di tengah-tengah mereka. Vazya segera menarik tangannya dari genggaman Mario. Jantungnya berdegup sangat kencang. Bangkai yang berusaha disembunyikan, akhirnya tercium baunya.
Jadi, ini alasan kamu untuk sering keluar rumah?
Vazya seperti tak dapat menjawab pertanyaan itu. Perkataan Gita ternyata ada benarnya.
Instingku benar bahwa ada rahasia yang kamu sembunyikan dariku. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuntuti kamu tadi.”
Mario segera angkat bicara. Jangan salahkan Vazya, Gunawan. Aku yang sengaja meminta Vazya untuk menemuiku lagi.
Tatapan Gunawan kini menghunus kepada Mario. Tadinya aku ingin bertemu kamu untuk meminta maaf secara pribadi tentang pernikahanku dengan Vazya. Tetapi, nyatanya kamu itu pecundang!”
Perhatian Gunawan kembali pada Vazya.Di mana Rere?!”
Sedang tidur di kamar. Vazya seolah merasa sekujur tubuhnya menjadi kaku, apalagi melihat ekspresi Gunawan yang penuh amarah.
Tanpa menunggu komando, Gunawan beranjak menuju sebuah kamar di dekatnya. Mario berusaha mencegah dengan menarik tangan kanan Gunawan, Ini rumahku, kamu tidak berhak masuk ke ruangan lain tanpa seizinku!
Aku akan selesaikan urusan kita setelah aku mengambil anakku!”
Dalam waktu sebentar saja, Gunawan berhasil menemukan Rere. Ia menimang Rere sambil membawa tas perlengkapannya, kemudian kembali menemui Vazya dan Mario.
Aku beri kamu dua pilihan, Vazya. Pilihan pertama; kamu ikut denganku dan Rere, maka aku akan memaafkanmu. Atau pilihan kedua; aku akan ceraikan kamu supaya kamu bisa menikah dengan lelaki di sampingmu, tetapi hak asuh Rere akan jatuh sepenuhnya kepadaku.
Kini, Vazya berada dalam posisi sulit. Ia baru menyadari bahwa sebelumnya ia tidak memikirkan hal ini akan terjadi. Ia hanya mengikuti perasaannya yang terlena kerinduan pada Mario. Pandangannya terus saja bergonta-ganti; kepada Mario dan Gunawan. Hatinya bimbang. Ingin rasanya ia mengulang waktu dan menghapus momen kepulangan Mario waktu itu. Rahasia yang terbongkar itu telah menjadi guru berharga bagi Vazya.
Tiba-tiba saja, Rere terbangun dan langsung menangis. Suara tangisan itu rupanya menyentuh naluri keibuan Vazya bahwa cintanya terhadap Mario tidak lebih baik dari cintanya terhadap si buah hati yang berhak mendapat kasih sayang sepenuhnya dari dirinya dan Gunawan sebagai orang tua. Vazya tidak akan sanggup untuk berpisah dengan darah dagingnya sendiri. Dan, Vazya tersadar bahwa Mario telah mempengaruhinya untuk melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Jika Mario memang benar mencintainya, seharusnya Mario membiarkannya bahagia bersama lelaki lain.
Berhenti menangis, Sayang, itu Mama.. Mama sedang berdiri di situ, ucap Gunawan kepada Rere.
Vazya tak sanggup lagi berdiam diri; kemudian melangkah menuju Gunawan yang sedang berusaha menenangkan Rere.
Aku minta maaf. Aku sangat menyesal. Aku melakukan ini karena aku merasa kamu tidak lagi membutuhkan aku, ucap Vazya sambil menunduk. Air matanya menetes.
Gunawan mendekatkan Vazya ke dalam dekapannya, bersebelahan dengan Rere. “Tolong maafkan aku juga atas kekurangan diriku. Aku ingin memperbaiki rumah tangga kita demi kamu dan Rere. Aku membutuhkanmu dan mencintaimu, karena kamu sangat berarti bagiku, Vazya… Gunawan lalu menengadahkan wajah Vazya dengan tangan kanannya; mengecup dahi dan menghapus air mata Vazya. Ayo, kita pulang, Gunawan melanjutkan kalimatnya.
Setelah mengambil Rere dari sisi Gunawan, Vazya menyampaikan kalimat terakhirnya. Semoga kamu mendapatkan pasangan yang tepat untukmu, Mario.”[]
-----------

Karina Anggara adalah anggota FLP Jakarta. Cerpen ini dimuat di majalah Kartini Agustus 2014.

(Cerpen Kartini) Rahasia Yang Terbongkar (Cerpen Kartini) Rahasia Yang Terbongkar Reviewed by ADP on 23.06 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.