Permudah, Maka Akan Dipermudah


Pria itu mengenakan peci. Nampaknya seorang guru agama Islam. Dia menuliskan kalimat Laa ilaaha illallah. Belum lagi usai ditulis, kapur tulis yang dijadikan alat tulis, patah. Patah bersamaan dengan berderingnya alat komunikasi miliknya.
Dari seberang sana terdengar kabar bahwa istri si pak guru akan melahirkan. Dia membereskan buku-buku dan meminta izin pada murid-muridnya untuk pergi ke puskesmas tempat istrinya akan melahirkan.
Sepeda ontel itu pun didorongnya keluar area sekolah. Pak guru berpeci mengayuh pedal sepedanya melewati jalan yang di kanan kirinya hutan. Melewati jalan kampung, menyeberangi jembatan.
Dalam perjalanan itulah, dia bertemu sebuah mobil yang sedang mogok. Pak guru segera menyandarkan sepeda dan ikut membantu mendorong mobil agar kembali dapat berjalan seperti sedia kala.
Perjalanan pun dilanjutkan. Kembali pak guru menemukan sebuah peristiwa yang ‘memaksanya’ untuk mengulurkan bantuan. Seorang siswi sekolah diserempet sebuah motor. Pak guru membantu siswi yang malang itu berdiri.
Kembali sepeda dikayuh dan akhirnya, dia sampai di puskesmas dan alhamdulillah anaknya telah lahir dan istrinya dalam keadaan sehat wal afiat.
Secuplik ‘sinetron pendek’ ini merupakan tayangan adzan Maghrib di sebuah stasiun televisi swasta.
Pak guru itu jelas dalam keadaan membutuhkan pertolongan. Iya, tepatnya pertolongan untuk istrinya yang akan melahirkan. Dia berharap istrinya dapat melahirkan dengan mudah. Istrinya sehat, demikian pula bayinya.
Tindakan pak guru yang ikut membantu mendorong mobil yang mogok, sudah merupakan upaya agar kelahiran anaknya bisa lancar. Demikian pula uluran tangan pak guru terhadap siswi yang terserempet, pada hakikatnya untuk mempermudah istrinya dalam proses persalinan.
Kita mungkin pernah mendengar kisah orang-orang tua kita. Orang-orang tua kita membantu anak sekolah untuk menyeberang jalan, sambil berharap agar anak-anaknya dibantu orang lain ketika ingin menyeberang jalan. Tindakan ini pada hakikatnya membantu orang-orang tua kita sendiri. Sehingga mereka tidak perlu turun langsung untuk menyeberangkan anak-anaknya.
Saya pernah membaca sebuah kisah nyata seorang penambal ban sepeda. Penambal ban ini memberikan cuma-cuma jasa penambalan ban sepeda milik seorang anak kecil. Dia berharap, ada penambal ban lainnya yang bersedia membantu anaknya yang ban sepedanya perlu ditambal.
Sikap penambal ban ini pada hakikatnya membantu dirinya sendiri. Ketika dirinya sedang sibuk atau berada jauh dari anaknya, ada orang lain yang bisa membantunya.
Demikian pula tindakan pak guru agama itu. Pada hakikatnya, dia telah mempermudah dirinya sendiri yaitu dengan dipermudahnya proses persalinan istrinya. Sehingga pak guru tidak perlu gelisah dan mondar mandir ketika menanti kelahiran anaknya. Karena si anak telah lahir ketika pak guru sampai di puskesmas.
Sikap orang tua, penambal ban dan guru agama di atas sebenarnya bukan bantuan semata. Allah lewat Rasul-Nya telah berjanji akan membantu hamba-Nya, selama hamba-Nya itu mau menolong saudaranya. (1 Januari 2016)

Permudah, Maka Akan Dipermudah Permudah, Maka Akan Dipermudah Reviewed by ARYA NOOR AMARSYAH on 20.39 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.