Cerpen: Abah (Antologi WR 6)

Imam Buchori

Namaku Mardhika Eka Putra. Diambil dari kata ‘Mardhika’ yang berasal dari kata ‘merdeka’, karena aku lahir bertepatan dengan hari kemerdekaan tanah airku. ‘Eka’ yang berarti ‘pertama’, karena aku lahir sebagai anak pertama dan satu-satunya. ‘Putra’ yang berarti ‘laki-laki’, yang kata Abah harus menjadi seorang yang kuat dan bisa melindungi orang-orang yang disayangi.
Aku lahir dari darah pejuang. Abahku salah satu anggota pasukan yang ikut membantu mempertahankan kesatuan NKRI dari pemberontakan G30S/PKI. Sementara ibuku tergabung dalam satuan relawan Palang Merah Indonesia yang siap sedia mengobati para pejuang yang terluka karena pertempuran saat itu. Dari sanalah awal mula Abah bisa berkenalan dengan seorang wanita yang kini menjadi Ibuku.
Aku masih ingat sebuah cerita Abah yang beliau ceritakan saat hendak mengantarku tidur.
“Dulu waktu Abah ikut bertempur melawan tentara Belanda, tak sengaja dua buah peluru mengenai lengan kanan Abah hingga terkulai lemas dan dibawa ke barak medis. Abah masih belum sadar saat itu. Malah Abah sudah merasa tak kan bisa ikut berperang lagi setelah hari itu. Hingga akhirnya Abah mulai sadar dan yang pertama kali Abah lihat ketika sadar adalah seorang wanita dengan senyuman manisnya  tengah mengganti perban di lengan Abah. Sosok wanita yang elok parasnya, ranum bibirnya, dan manis senyumnya. Melihatnya seolah memberikan tenaga baru kepada Abah kala itu. Dia lah yang merawat Abah selama berada di barak medis hingga pulih dan bisa ikut berperang lagi. Sejak itulah Abah selalu merindukan wanita itu setiap waktu. Setelah Abah tanyakan kepada salah seorang teman, barulah Abah mengenali nama wanita itu. Sri Murtini, itulah nama wanita yang selalu mengusik pikiran Abah. Ia adalah putri dari seorang Jendral Abah dulu, Bapak Jendral Sugiharto.  Kamu tahu, Nak? Dulu Abah seringkali pura-pura terluka agar bisa bolak-balik ke barak medis untuk melihat wanita itu. Mungkin karena sudah sering merawat Abah, wanita itu tidak menolak waktu Abah menawarkannya untuk menjadi istri agar bisa merawat Abahmu setiap waktu. Tapi jangan dikira untuk mendapatkan putri seorang jendral itu gampang. Dulu Abah ditantang untuk menjadi Komandan Pleton, memimpin peperangan di garis paling depan dan harus bisa membunuh 10 musuh saat itu. Sebuah perjuangan yang harus dilakukan untuk mendapatkan wanita terindah seperti ibumu.”
Saat mendengar cerita Abah itu sebenarnya aku tidak tertidur, hanya berpura-pura. Bagaimana mungkin aku bisa tertidur sementara mulutku menahan senyuman dan mataku menahan airmata. Barulah ketika Abah keluar dari kamarku, senyuman itu merekah, air mata itu tumpah ruah. Aku terharu dengan cerita Abah. Itulah kebanggaanku yang pertama pada sosok Abah.
Namun sayang aku belum sempat mengenali senyuman yang telah membuat Abah melakukan hal sekonyol itu. Aku belum sempat memandang paras wanita yang dipuja-pujanya itu. Ibuku telah meninggal hanya sebulan setelah aku pertama kali merengek keluar dari rahim mulianya. Aku belum sempat mengeja panggilannya, I-B-U ataupun   B-U-N-D-A. Tuhan terlalu cepat memintanya kembali. Tapi aku yakin dari cerita Abahku, Ibu sangat sayang padaku. Buktinya ia rela mengorbankan nyawanya hanya untuk mendengar rengekanku. Karena melahirkanku lah Ibu mengalami pendarahan yang sangat hebat, hingga membuat beliau terbaring di rumah sakit selama sebulan sebelum Tuhan memanggilnya. Kini aku hanya mengenali sosok wanita itu dari selembar foto pernikahan hitam putih ukuran 3R yang mulai kusam dan kabur gambarnya. Foto itu diberikan Abah saat ulang tahunku yang ke delapan. Satu-satunya foto yang masih tersisa. Meski tak begitu jelas, tapi aku masih bisa meraba raut senyuman Ibu dan Abah saat acara sakral pernikahan mereka dari foto itu. Senyuman itulah yang selama ini menjadi motivasiku saat aku sedang bersedih. Dengan melihat senyum mereka di foto yang ku simpan dalam dompetku itulah, aku bisa menjadi lebih tenang. Aku selalu merasa seolah mereka ada di sampingku saat itu dan mengatakan, “jangan bersedih, Nak. Kami selalu bersamamu.”
Dan hal ke dua yang aku banggakan dari Abah, beliau tidak pernah berniat untuk mencari pengganti Ibu untukku. Baginya cinta sejatinya hanya untuk Sri Murtini, Ibuku, gadis yang dikenalnya di balik layar barak medis puluhan tahun yang lalu. Pernah tanpa sengaja aku mendengar obrolan Abah dengan salah seorang temannya saat sedang bermain di pekarangan depan rumah. Saat itu usiaku belum genap sepuluh tahun.
“Dirman, usiamu masih sangat muda. Apakah kamu tidak berniat untuk mencari seorang ibu baru untuk anakmu?”Tanya seorang teman pada abah. Dan aku masih mengingat jelas jawaban abah saat itu.
“Tidak, aku masih mampu mendidik anakku seorang diri. Lagian dika adalah anak yang penurut. Tak terlalu susah untuk mengurusinya.” 
Disana aku bisa membaca ketegaran abah, ketegaran yang melebihi batu karang sekalipun. Aku juga meyakini bahwa di dunia ini masih ada cinta sejati seperti cinta Abah kepada Ibu. Akan selalu ada tempat khusus di hati Abah untuk wanita yang telah berhasil meluluhlantakkan hatinya itu.
Rasa cintaku yang mendalam terhadap tanah air juga mungkin tertular dari Abah. Dia dulu pernah bercerita bahwa saat aku baru lahir, kain yang digunakan pertama kali untuk membedongku[i] adalah bendera merah putih. Karena saat Ibu melahirkan hanya bendera itulah yang dibawa oleh Abah. Maklumlah, dia selalu membawa bendera merah putih itu kemanapun dia pergi. Pernah aku mencoba bertanya kepadanya suatu waktu ketika dia sedang menciumi bendera merah putihnya.
“Bah, mengapa Abah selalu membawa bendera merah putih ini kemana-mana?”
“Karena Abah selalu rindu saat berjuang dulu, Nak. Abah juga setiap waktu rindu pada ibumu. Tahukah kamu,Nak? Bendera merah putih ini adalah mas kawin Abah untuk ibumu dulu.”
Bendera yang sangat berharga bagi Abah. Disana tersirat ribuan memori kenangannya, bersama Ibu dan juga teman-teman seperjuangannya. Mungkin dia tak kan pernah mau melepas bendera itu meskipun ada yang menawarnya 1 miliar sekalipun. Bendera itu adalah ’bendera keramat’.
Saat aku masih berusia 5 tahun, Setiap senin pagi, Abah selalu mengajakku mengikuti upacara bendera kecil-kecilan yang ia adakan sendiri di pekarangan depan rumahku. Pesertanya adalah teman-teman bermainku. Kita sama-sama mengibarkan ’bendera keramat’nya ke tiang bendera yang kita buat sendiri dari sepotong pring[ii] berukuran 3 meter dengan seutas tali tambang plastik warna biru yang ditambatkan ke paku yang ditancapkan pada bambu bagian atas. Aku dan temanku, Joko, yang bertugas mengerek bendera hingga berkibar di ujung tiang tertinggi. Abah sendiri bertindak sebagai inspektur upacara. Saat ’bendera keramat’ itu dikibarkan, semua menyanyikan lagu Indonesia Raya, kami semua menikmati semua itu.
Pernah satu kali Abah mendapatkan undangan resmi dari Bapak Presiden untuk menjadi tamu dalam Upacara Kemerdekaan yang di gelar di istana merdeka. Katanya, ini sebagai kado spesial untukku, karena saat itu bertepatan dengan ulang tahunku yang ke sembilan tahun. Kami berdua sangat menghayati setiap momen jalannya upacara detik-detik proklamasi tersebut. Namun ada satu momen yang mampu menggetarkan jiwaku, meluluh lantakannya, membakar semangat kebangsaanku, yaitu saat para petugas Paskibraka mulai memasuki lapangan upacara dengan barisan yang sangat rapi. Betapa mulianya tugas mereka, membawa dan mengawal bendera pusaka, bendera yang tak kalah keramatnya dengan bendera Abah. Karena saat bendera itu dikibarkan, semua orang tanpa terkecuali Bapak Presiden, mereka semua memberikan penghormatan padanya. Kelak aku ingin menjadi petugas Paskibraka. ”Aku ingin memegang bendera pusaka itu, mengibarkannya di ujung tiang tertinggi negeri ini,” gumamku dalam hati saat itu.
”Nak, kelak abah ingin melihat kamu menjadi salah satu di antara mereka,” ucap abah memecah lamunanku sambil menunjuk ke arah para petugas Pakibraka. Abah seolah tahu apa yang ada dalam pikiranku saat itu. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
8 tahun kemudian setelah abah meninggal.
”Siaaaap....grak. Langkah tegap majuu..... jalan,” seru inspektur Paskibraka memberi komando.
Kami, para petugas Paskibraka, mulai memasuki lapangan upacara di istana merdeka. Hatiku bergetar hebat, air mataku mungkin akan tumpah jika aku tak kuasa menahannya. ”Abah, anakmu, Mardhika Eka Putra, kini telah bisa menggapai mimpinya. Menjadi petugas Paskibraka yang mulia, membawa dan mengawal bendera pusaka. Mengibarkannya  di ujung tiang tertinggi negeri ini. Aku yakin Abah dan Ibu pasti bangga dengan anakmu ini, meski kalian tidak bisa melihatnya secara langsung. Tapi bukankah kalian telah berjanji akan selalu bersamaku? Aku membawa foto hitam putih pernikahan kalian yang aku sisipkan dalam saku celana seragam Paskibraka-ku. Aku yakin kalian menyertaiku saat ini.” []

[i] membuntal
[ii] bambu muda

Imam Buchori adalah anggota FLP Jakarta. Cerpen ini pernah dimuat dalam antologi WR 6.
Cerpen: Abah (Antologi WR 6) Cerpen: Abah (Antologi WR 6) Reviewed by ADP on 5:37 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.