Rumah Laba-laba


Oleh Rahmat Zubair






Tak ada alasan lain bagi Allah SWT ketika menyebutkan suatu makhluk ciptaan kecuali untuk menunjukkan pertanda akan suatu keagungan. Contohnya laba-laba. Serangga yang satu ini merupakan salah satu dari sekian banyaknya binatang yang kisah hidupnya dijadikan sebuah pelajaran bagi manusia. Pelajaran penting yang tidak akan pernah dimengerti dan dipedulikan kecuali oleh mereka yang berakal. 

                “Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Ar-Ra’d: 19)

Nah, tentu saja kita tidak mau menjadi golongan orang-orang yang bodoh dan tidak berakal, kan? Untuk itu, mari langsung saja kita simak apa saja kira-kira yang bisa dipetik hikmah dari firman Allah SWT dalam surat Al-Ankabut ayat 41 ini?

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling rapuh adalah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui.”

 Ada dua hal penting yang terasa sedikit aneh dan perlu kita resapi. Yang pertama adalah, apakah benar rumah laba-laba itu sangat rapuh? Dan yang kedua, mengapa Allah mengumpamakan orang-orang yang musyrik itu seperti seekor laba-laba yang membuat rumah?

 Beberapa pakar sains telah mengungkapkan dari hasil risetnya bahwa benang yang dihasilkan laba-laba amatlah kuat. Benang tersebut berbahan dasar protein bernama fibrions. Dikatakan bahwa benang jenis ini sangatlah kuat. Bahkan, apabila dibandingkan dengan baja dan benang laba-laba dengan berat yang sama, maka benang laba-laba justru terhitung lebih kuat dan lebih elastis. Nah, kedua karekteristik  inilah yang menjadikan benang laba-laba sebagai salah satu material yang paling hebat. Sampai-sampai beberapa pakar sains tersebut pun berusaha membuat benang laba-laba buatan.

Lalu, apakah teori yang disampaikan Alqur’an itu tidak sesuai dengan hasil ilmiah? Agar lebih matang pemahaman, sekarang mari kita kembali menengok penjelasan-penjelasan yang dipaparkan oleh para mufassir atas ayat tersebut.

Dalam beberapa kitab tafsir disebutkan bahwa kata “rapuh” di sini bukan seperti yang dimaksudkan oleh ilmu sains itu. Ia rapuh melainkan karena rumah laba-laba ini tidak bisa terlindungi dari panas, dingin, hujan, dan angin. Rapuhnya di sini karena ia ringkih dan tidak kokoh. Sifatnya tidak bisa bertahan kecuali hanya dalam kurun waktu semalam saja, kemudian barulah ia rapuh.

Dan yang tak kalah menarik, seorang profesor besar di bidang serangga dalam bukunya menyebutkan  bahwa firman Allah “seperti laba-laba yang membuat rumah”  terdapat suatu kemukjizatan ilmiah. Bahwa sesungguhnya yang membngun rumah tersebut adalah sang betina. Hal ini ditinjau dari tata bahasa yang digunakan yaitu ittakhadzat yang menandakan sifat muannats (perempuan) karena terdapat Ta’ ta’nits. Dan pada saat setelah membangun rumah, sang betina kemudian berdiri di depan sang pejantan untuk mempersilakannya masuk sambil menggoda dengan gerakkan-gerakkan memesona. Selain itu sang betina pun juga mendendangkan semacam suara merdu agar si pejantan tertarik dan mau masuk ke dalam rumah.

Setelah terjadinya proses pembuahan, maka laba-laba betina pun langsung memangsa dan memakan si pejantan tersebut –jika si pejantan tidak mampu melarikan diri. Belum selesai di situ, sang betina pun ternyata juga akan memakan anak-anaknya –jika mereka tidaak berhasil melarikan diri. Adapun anak laba-laba itu sendiri, mereka akan saling memakan satu sama lain.

Dan mungkin peristiwa ini sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan kedua, yaitu mengapa Allah mengumpamakan orang-orang musyrik dengan rumah laba-laba?

Jadi, rumah yang dimaksudkan itu adalah keluarga laba-laba yang begitu rapuh. Di samping bangunannya yang lemah, bahkan setip individu di antara mereka pun sangat tidak harmonis atau bisa dibilang “keluarga yang berantakan”.

Maka dari itu semua, sungguh perbuatan syirik terhadap Allah merupakan hal yang sama sekali tidak membawa kebaikan dan kemanfaatan. Perbuatan menyekutukan Allah justru akan membawa mereka ke jalan kesesatan yang nyata. Dan perbuatan syirik atau menyekutukan Allah adalah salah satu dosa besar yang tak akan pernah diampuni oleh Allah.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisaa’:48)

Atau bisa jadi sebenarnya mereka tahu bahwa Allah SWT adalah tempat meminta pertolongan, namun tetap saja mereka mengambil sesuatu selain-Nya sebagai penolong. Dan mereka tahu bahwa Allah adalah sebaik-baik dan yang paling pantas diharapkan, namun tak sedikit dari mereka yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat berharap.

Semoga kita semua dijauhkan dari perbuatan syirik baik itu syirik besar maupun syirik kecil. Wallahu muwafiq ila aqwamit-thariiq, wa ilaihil mashir.  
Rumah Laba-laba Rumah Laba-laba Reviewed by Ahmad Lamuna on 5:28 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.