Perkembangan Orientalisme



Semenjak kekalahan Eropa pada Perang Salib, maka terus dicari cara untuk menaklukan Arab dan Dunia Islam. Interaksi yang berkesinambungan antara Eropa dengan Kaum Muslimin dalam Perang Salib dan berdirinya Universitas Andalusia di Spanyol melahirkan yang dinamakan sebagai Orientalisme.

Orientalisme secara luas adalah sebuah studi yang dilakukan oleh orang barat terhadap berbagai disiplin ilmu yang dimiliki oleh orang timur. Atau dapat juga dikatakan bahwa orientalisme adalah disiplin ilmu tentang ketimuran dalam berbagai aspek seperti bahasa, kebiasaan, budaya, tradisi dan bahkan agamanya. Yang menjadi objek bukan hanya Islam dan Arab. Akan tetapi juga Persia, Cina dan India.

Serial Avatar: salah satu bertuk orientalisme
 
Namun pada perkembangan selanjutnya dan yang menjadi pembahasan kita kali ini adalah Orientalisme dalam arti sempit. Ialah pembacaan Barat atas Islam. 

Orientalisme dimulai dari Spanyol ketika Universitas Andalus masih berdiri. Dan makin berkembang setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah abad 7 Hijriah. 

Hal ini dikarenakan dikuasainya perpustakaan Andalus oleh orang-orang Eropa. Mereka membaca dan mempelajari literatur-literatur yang berada pada perpustakaan tersebut. Sebagian ada yang dibawa ke Vatikan. Dan tidak sedikit literature arab yang diterjemahkan kepada bahasa Eropa. Sehingga berkembanglah berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang melahirkan Renaisans. 

Adapun motif berkembangnya orientalisme adalah:

1.       Faktor Agama

Faktor paling jelas dari Orientalisme adalah factor agama. Semenjak kekalahan kaum frank pada perang salib, mereka bertekad membalas kekalahan itu dengan menguasai kaum muslimin. Untuk menguasai kaum muslimin salah satu cara adalah menguasai cara berpikirnya. Maka mulailah mereka mempelajari Islam untuk menguasai kaum Muslimin.

Adapun yang menjadi sasarannya adalah menjauhkan Ummat Islam dari agamanya atau justru memurtadkannya.

2.       Faktor Kolonialisme

Faktor yang mendorong berikutnya adalah faktor kolonialisme. Tak dapat dibantah bahwa penjajahan Barat atas dunia Timur adalah suatu upaya mengeruk kekayaan dan penginjilan. Semboyan Gold, Glory dan Gospel adalah semboyan yang membakar gerakan kolonialisme.

Di Indonesia dewasa ini, Glory sudah mereka dapatkan. Gospel, mereka masih berusaha. Sedangkan Gold, minta diperpanjang.

3.       Faktor Keilmuan

Tidak semua orientalis memiliki tujuan ‘jahat’. Ada juga studi Orientalisme yang murni karena ilmu. Ada kaum orientalis yang bergeser tujuannya. Yang awalnya mempelajari Islam untuk menghancurkannya, tiba-tiba hidayah datang kepadanya. Maka dari pembenci Islam, menjadilah ia pembela Islam. 

Dari faktor-faktor diatas, dapat kita maklumi bahwa kajian orientalisme adalah merupakan pengalaman manusia Barat terhadap manusia Timur. Atau juga pembacaan masyarakat Barat terhadap masyarakat Timur. Dan tidak jarang pembacaan ini adalah pembacaan yang salah. Terutama pembacaan barat terhadap Arab dan Islam. Sehingga menghasilkan gambaran yang juga salah.

Perkembangan Studi Orientalisme.

Dendam kekalahan Barat dalam Perang Salib, menyebabkan tidak murninya kajian Studi Orientalisme. Hal ini dapat kita baca pada karya-karya awal Orientalis yang menggambarkan Islam dan Arab dengan begitu buruk. Mereka menggambarkan keburukan Islam dan Arab secara kasar. Dimana Islam dan Arab digambarkan sebagai sosok perusak, teroris dan barbar. Pada tulisan mereka, contohnya adalah buku The Prophet of Turk and Author of the Al Coran karangan Alexander Roos, tidak segan menggunakan kata The Great Arabian Imposter, The Little Horn in Danial, Arabian Swine, Goliath, Grand Hypocrite, Great Thief dan sebagainya untuk menggambarkan Arab dan Islam.

Perkembanan berikutnya ketika dunia Islam sepenuhnya dikuasai oleh Barat, maka makin berkembanglah kajian orientalisme dikarenakan banyak khazanah dan literature keilmuan dunia timur yang dikeruk dari negri jajahan. Di Indonesia contohnya adalah suluk Sunan Bonang dan Keropak Ferrara.

Tentu saja pusat-pusat kajian Islam banyak didirikan seperti: Society Asiatic of Paris (1822), Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland (1823), American Oriental Society (1842), School of Oriental (and African) Studies (SOAS) di Universitas London (1916).

Sehingga banyak bermunculan orientalis-orientalis pada fase tersebut. Semacam Ignaz Golzhiher, DS Margaliouth, RL Nicholson dan C Snock Hurgronje. 

Pada fase ini serangan pemikiran kaum orientalisme sudah lebih halus walau subtansinya tetap sama. Hal ini karena serangan terhadap Islam menggunakan karya-karya dan kajian Ilmiyah mereka. 

Fase selanjutnya perkembangan orientalisme bercabang dua. 

Yang pertama melahirkan Liberalisme Agama. Dimana kajian-kajian mereka masih tetap ada, akan tetapi dilontarkan oleh sarjana-sarjana ‘muslim’ hasil didikan mereka semacam Nasr Abu Zayd, Hasan Hanafi, Syahrour, Muhammad Arkoun, dan Seyyed Hosain Nasr

Sedangkan yang kedua orientalisme menampilkan wajah yang lebih halus lagi karena tidak ada caci maki lagi terhadap Islam. Pelecehannya sangat halus sehingga banyak dari kita yang tidak sadar akan kesesatannya. Misalkan adalah Karen Armstrong yang secara halus mengusung konsep Transcendent Unity of Religion Schuon(1907-1998) dalam The Compassion, memopulerkan kisah Gharaniq dalam Muhammad:  Prophet of Our Time, dan menyebut Qushay sebagai pembawah berhala ke Makkah.

Demikian sekadar gambaran tentang Orientalisme. Sudah menjadi keharusan bagi penulis Muslim untuk menjawab tantangan yang mereka berikan. Mari sama-sama kita mengasah pena kita.

Semoga menginspirasi
Perkembangan Orientalisme Perkembangan Orientalisme Reviewed by Ahmad Lamuna on 9:07 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.