Obat Penyakit Umat Menurut Said Nursi


DEPOK—Usai shalat Zhuhur berjamaah, Kamis (3/12), aula utama Masjid Ukhuwah Islamiyah, kampus UI Depok masih dipenuhi para jamaah. Tidak sekadar hendak rehat sejenak di selasar masjid sebagaimana hari-hari biasa, sebagian dari mereka ternyata menanti dimulainya acara Seminar Internasional bertajuk “Pandangan Badiuzzaman Said Nursi terhadap Kemunduran Umat Islam Abad 21”. Hadir sebagai pembicara dalam seminar itu Hüsnü Bayram Ağabey  (murid Said Nursi), Dr. Muhammad Luthfi, Ph.D (Direktur Pusat Studi Timur Tengah dan Islam UI), dan Dr. Muhammad Riza Derindag (Direktur Risale-i Nur Filipina). Adapun yang bertindak sebagai moderator sekaligus penerjemah ialah Hasbi Sen, M.Hum (Pendiri Yayasan Nur Semesta).

Dr. Muhammad Luthfi, Ph.D sedang memaparkan materi

Acara dibuka dengan lantunan syahdu ayat bertemakan persatuan dalam Surat Ali-Imran: 103 dan Surat An-Nur: 53 yang menerangkan Allah sebagai sumber cahaya. Selanjutnya, pembawa acara mempersilakan moderator memandu jalannya seminar. Demi membantu hadirin yang belum mengenal Said Nursi, Hasbi Sen kemudian menceritakan sekilas riwayat Said Nursi.

“Ustadz Said Nursi adalah ulama yang lahir pada 1887 di Turki Timur. Pada usia 9 tahun, beliau sudah mulai belajar di madrasah, semacam pondok pesantren di Indonesia. Memasuki usia 14 tahun, Said Nursi sudah belajar ilmu-ilmu dasar Islam di bawah bimbingan Syekh Muhammad Celali. Hanya dalam waktu tiga bulan belajar, Said Nursi khatam dan hafal 90 jilid kitab. Karunia kecerdasan itu berlanjut hingga gurunya yang terkenal dengan nama Molla Fethullah Efendi menjulukinya “Badiuzzaman” yang artinya: Keajaiban Zaman,” jelas Hasbi Sen.

Dia juga menceritakan bahwa Said Nursi pernah belajar ilmu sains secara otodidak. Itu dilakukannya saat tinggal di rumah gubernur yang memiliki perpustakaan dengan koleksi buku yang banyak. Berbekal ilmu sains dan lainnya itu, Said Nursi banyak menggunakan alam semesta sebagai metafora dan penjelas atas firman Allah yang dibahasnya dalam karya fenomenalnya, Risale-i Nur (Indonesia: Risalah Nur).

Adapun inti yang dibahas dalam Risalah Nur, jelas Hasbi Sen, lebih berfokus pada ihwal kenabian, Hari Kebangkitan, dan ibadah. Secara kesuluruhan, karya Said Nursi terdiri dari 130 bab yang sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa dunia. Said Nursi menghadap Allah pada  1960 di usia 83 tahun.

Pengakuan Murid Said Nursi

Usai memaparkan profil singkat Said Nursi, moderator menyilakan Hüsnü Bayram Ağabey memberi pengantar bahasan utama seminar. Dengan bahasa Turki, Hüsnü mengawali pembicaraan dengan mengucapkan terima kasih atas antusiasme peserta yang hadir. Kegiatan seminar itu, kata Hüsnü, adalah bagian dari rangkaian kunjungannya ke beberapa negara.

Kemudian, Hüsnü menceritakan asal muasal hubungan dia dengan sang guru, Badiuzzaman Said Nursi. Ternyata ayahnya yang menitipkan Hüsnü untuk belajar kepada Said Nursi. Artinya, sejak kecil dirinya sudah belajar kepada Said Nursi.

Tentang liku perjuangan sang guru, Hüsnü menyebut bahwa Said Nursi tak pernah berhenti berdakwah meskipun pernah diasingkan di beberapa tempat yang terpencil. Tak cuma sampai di sana. Sebanyak 19 kali percobaan pembunuhan terhadap Said Nursi pernah dilakukan oleh pemerintah. Namun, Allah SWT masih berkehendak menyelamatkan. Selain berkisah tentang Said Nursi, tak lupa Hüsnü juga berpesan kepada kaum muslimin agar membaca karya-karya Said Nursi untuk memahami gagasan beliau secara mendalam.

Lebih lanjut, Hüsnü dan beberapa kalangan umat Islam percaya bahwa Said Nursi merupakan mujaddid abad ke-13 H.

Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini setiap masa seratus tahun, orang yang akan memperbaharui agamanya, terang Hüsnü mengutip sebuah hadits Rasulullah SAW.

Hüsnü melandaskan keyakinannya itu lantaran kesalehan, keilmuan, serta perjuangan Said Nursi sepanjang hidupnya. Kontribusi Nursi, khususnya saat awal-awal runtuhnya Khilafah Turki Utsmani pada 1920-an itu, amat terasa dirasakan oleh kaum muslimin. Hüsnü melihat ketika itu musuh-musuh Islam amat gencar merongrong akidah sekaligus menyuarakan sekularisme.

Demi menjawab tantangan umat tersebut, tutur Hüsnü, Said Nursi memilih dakwah Qur’ani sebagai metode perjuangan. Beliau mengajak umat untuk kembali kepada Al-Quran setiap datangnnya hembusan paham sekularisme dari pemerintah sekular Turki. Ketika Mustafa Kemal Atatürk dan jajarannya memrpomosikan gagasan pengingkaran kepada Hari Akhir, Said Nursi mengajarkan “Risalah Kebangkitan” kepada rakyat Turki. Selanjutnya, begitu ada upaya mengubah bahasa Arab dalam Al-Qur’an menjadi bahasa Turki, Nursi melawan dengan bahasan “Mukjizat Al-Qur’an. Begitu seterusnya kerja dakwah Said Nursi.

Mengenai tema utama yang dibahas dalam seminar, Hüsnü menyebut Khutbah Syamiyah adalah rujukan yang tepat guna mengetahui pandangan Said Nursi tentang penyakit umat dan obatnya.  

Apa Itu Khutbah Syamiyah?

Memasuki sesi kedua, Muhammad Luthfi mengajak peserta seminar menyelami pemikiran Said Nursi dalam Khutbah Syamiyah. Menurut sejarah, khutbah syamiyah adalah khutbah (pidato) yang disampaikan Said Nursi pada 1911 M kepada sekitar 10.000 jamaah yang hadir di Masjid Umawi, Kota Damaskus, Syam. Ada sekitar 100 tokoh ulama turut khidmat mendengarkan bersama jamaah lainnya. Ketika itu, Said Nursi masih berusia 34 tahun. Masyhur disebut banyak bahwa para ulama Syam yang meminta Said Nursi menyampaikan khutbah.

Berbekal buku Khutbah Syamiyah terbitan Risalah Nur Press, Luthfi manjelaskan, ada enam penyakit yang menyebabkan kemunduran umat Islam saat itu dalam pandangan Said Nursi. Menariknya, kata Luthfi, diagnosis Said Nursi tersebut relevan dengan keadaan umat saat ini. Keenam penyakit umat menurut Said Nursi adalah sebagai berikut: putus asa; hilangnya kejujuran dalam bermasyarakat dan berpolitik; senang bermusuhan; mengabaikan persatuan dan persahabatan; penindasan yang masif di mana-mana; serta mendahulukan kepentingan pribadi.

Satu persatu Luthfi menjabarkan penyakit umat Islam itu sekaligus “obat” yang ditawarkan Said Nursi dalam Khutbah Syamiyah. Secara ringkas, Luthfi menyimpulkan langkah kebangkitan umat Islam yang disampaikan Said Nursi ialah sebagai berikut:

1. Bekerja keras.
2. Tidak mempertentangkan Islam dan nasionalisme.
3.  Mengobarkan heroisme iman.
4. Mengeratkan persaudaraan.

Al-Qur’an Sebagai Obat

Pada giliran terakhir, Muhammad Riza Derindag mendapat kesempatan mempresentasikan analisisnya terhadap Khutbah Syamiyah. Menggunakan bahasa Inggris tanpa diterjemahkan oleh moderator, Riza menyebut inti Khutbah Syamiyah sebagai resep pengobatan Al-Qur’an (the prescription of the pharmacy of Qur’an) yang diformulasikan Said Nursi. Dalam pandangan Riza, melalui Khutbah Syamiyah bisa disebut bahwa Said Nursi telah melakukan penyelidikan terhadap gejala penyakit umat, mengidentifikasi penyakit itu, mencari obat yang sesuai, sekaligus mengkampanyekan resep obat yang dibuatnya.

Pertanyaan mendasar terhadap Khutbah Syamiyah itu kemudian menurut Riza adalah tentang relevansi dan cakupan resep Said Nursi dalam konteks kekinian. Senada dengan Luthfi, Riza lalu menyimpulkan bahwa memang ada persamaan antara penyakit umat saat Khutbah Syamiyah disampaikan dengan era sekarang. Dirinya juga meyakini cakupan gagasan Nursi bisa digunakan untuk menyelesaikan problem umat manusia secara umum, tidak hanya kaum muslimin. 
Singkatnya, Riza membuat pola rumusan masalah dan solusi a la Said Nursi seperti berikut ini:

Despair à Hope
Deceit à Honesty and transparency
Enmity à Love
Disunity à Unity of the ummah
Despotism à Islamic dignity
Individualism à Consultation

Penutup

Sebelum pembacaan doa untuk menutup seminar, ada sesi tanya-jawab yang disambut cukup antusias dengan teracungnya beberapa jari dari peserta. Salah satu yang mungkin menjadi catatan menarik adalah ungkapan pembicara kedua, Muhammad Luthfi. Dikatakan olehnya saat menjawab pertanyaan peserta bahwa Said Nursi lahir sesuai dengan zamannya. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW juga, jika ditarik lebih jauh, maka tidak bisa kita selalu berharap ada orang seperti Said Nursi di segala zaman. Oleh karena itu, adalah tugas kita semua untuk bahu-membahu melahirkan manusia-manusia biasa yang mampu dan mau memberi kontribusi yang luar biasa bagi umat ini.



Obat Penyakit Umat Menurut Said Nursi Obat Penyakit Umat Menurut Said Nursi Reviewed by Nur Afilin on 18.45 Rating: 5

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.