Khadijah, Teladan Seorang Istri

Rasulullah SAW mendatangi Khadijah dengan tergesa-gesa dan dalam keadaan menggigil, setelah didatangi Jibril di gua Hira’ dan berkata kepada beliau, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” (QS. al-’Alaq: 1)

Khadijah mendekap beliau untuk menenangkannya, sembari dia menyelimutinya, setelah beliau berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku.”

Setelah keadaan kembali normal, beliau sudah tidak gelisah lagi, dan telah menceritakan kepada Khadijah apa yang beliau lihat dan beliau dengar di Gua Hira’ seraya berkata kepada Khadijah, “Aku benar-benar mengkhawatirkan diriku.” Khadijah berkata kepada beliau dengan reflek —di mana hal ini sekaligus membuktikan bahwa beliau benar-benar cerdik,— “Tidak. Demi Allah, Allah tidak akan pernah membuat engkau hina. Karena engkau menjalin silaturahmi, memikul beban, memenuhi kebutuhan orang fakir, jujur dalam  berbicara, menyediakan hidangan kepada orang yang datang bertamu, selalu membantu untuk perbuatan yang hak. Demi Allah, Allah tidak akan pernah membuat engkau hina, selama-lamanya.” (dikutip dari buku 100 Qishshah min Dzakâi ash-Shahâbiyyât, karya Manshur Abdul Hakim)

Contoh isteri yang teladan. Ketika suami pulang, dia tahu persis apa yang dibutuhkan suaminya. Khadijah ra. tahu bahwa suaminya, Muhammad saw sedang ketakutan, maka dia pun memeluknya, berusaha menenangkannya. Langsung mematuhi perintah suaminya ketika minta diselimuti

Khadijah ra. tidak memberondong suaminya dengan berbagai pertanyaan. Tidak juga menyikapinya dengan sikap kepanikan. Kebayangkan kalo suami pulang, langsung diberondong dengan berbagai pertanyaan. Ketika suami pulang dalam keadaan gelisah disambut istri dengan kepanikan yang tidak kalah hebatnya. Tapi tidak dengan Khadijah ra.

Setelah Rasulullah saw tenang, maka beliau menceritakan semua yang dilihat dan didengarnya di gua Hira’. Bagaimana tanggapan Khadijah ra? Apakah Khadijah mengatakannya, “Makanya, jangan main-main di gua! Itulah akibatnya!”

Khadijah tidak menanggapinya seperti itu. Akan tetapi dengan sikapnya yang menghargai seorang suami dan dengan penuh kepercayaan pada suaminya, dia berkata, “Tidak. Demi Allah, Allah tidak akan pernah membuat engkau hina. Karena engkau menjalin silaturahmi, memikul beban, memenuhi kebutuhan orang fakir, jujur dalam  berbicara, menyediakan hidangan kepada orang yang datang bertamu, selalu membantu untuk perbuatan yang hak. Demi Allah, Allah tidak akan pernah membuat engkau hina, selama-lamanya.”  

Khadijah ra percaya pada suaminya. Banyak kasus rumah tangga berawal dari hilangnya kepercayaan dari sepasang suami istri. Entah salah satu pasangan memang sudah tidak pantas lagi dipercaya, karena ada beberapa indikasi. Atau, karena prasangka yang tidak berdasar.

Kehidupan rumah tangga Khadijah dan Rasulullah saw adem-adem saja. Rasulullah merupakan sosok yang dikenal bisa dipercaya. Sementara Khadijah percaya kepada suaminya.

Akan tetapi, sikap Khadijah tidak sampai di situ. Dia mencari tahu apa yang terjadi pada suaminya. Khadijah mengajak Muhammad saw untuk menemui Waraqah bin Naufal yang masih ada hubungan kekerabatan dengan Khadijah.

Setelah mendapat penjelasan Waraqah, tahulah Khadijah bahwa suaminya diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul. Dan, Khadijahlah orang pertama yang menyatakan keimanannya. Dukungan seorang istri pada suami merupakan hal yang luar biasa.

Bayangkan, bila seorang suami mendapat sebuah tugas. Tapi sang istri tidak merestuinya, apalagi mendukungnya. Bagaimana kira-kira suami itu dalam menjalankan tugasnya? Apakah dia akan merasa nyaman?

Sebaliknya bila seorang suami mendapat restu dan dukungan dari istrinya, tentu sang suami akan menjalankan tugasnya dengan penuh kesungguhan dan tanpa beban.

Itulah yang dirasakan Muhammad saw ketika menerima tugas kenabian. Dukungan yang utama dan pertama datang dari istrinya, Khadijah ra. Oleh karenanya, Rasulullah saw tidak bisa melupakannya hingga beliau bersabda, “Khadijah mengimani dan mempercayaiku, di saat orang-orang mengingkariku. Khadijah menafkahkan hartanya di jalan Allah, di saat orang-orang enggan melakukannya.”

Semoga manfaat


Khadijah, Teladan Seorang Istri Khadijah, Teladan Seorang Istri Reviewed by ARYA NOOR AMARSYAH on 7:58 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.