Inkuisisi

Pada tulisan yang lalu telah disebutkan bahwa humanisme adalah inti dari kebangkitan Eropa. Humanisme adalah sebuah paham yang berorientasi kepada manusia. Dimana humanisme tersebut sangat percaya dengan kemampuan manusia, memiliki hasrat intelektual dan penghargaan atas disiplin intelektualitas. Kaum Humanis percaya bahwa rasio dapat melakukan segalanya dan lebih penting dari iman. 

Tentu saja perjalanan ini tidak berjalan mulus karena secara jelas bahwa humanism menghajar ajaran yang telah mapan. Ialah kekuasaan Gereja Katolik.

Gereja Katolik(selanjutnya disebut Gereja saja) memandang bahwa gerakan ini adalah sebuah gerakan Bidah. Maka pada tahun-tahun inilah Inkuisisi banyak digelar.

Inkuisisi adalah pengadilan Gereja abad itu yang ditunjuk untuk mengusut bid’ah (dalam terminologi ini adalah segala hal yang menyelisih Gereja). Di samping itu, istilah Inkuisisi ini bisa juga disebut sebagai lembaga dalam Gereja yang bertugas melawan atau menyingkirkan bid’ah, dan pengadilan kepada orang-orang yang dianggap bid’ah. 

Tujuan Inkuisisi ini adalah jelas membela agama. Akan tetapi tujuan ‘mulia’ tersebut secara menyedihkan menjadi bumerang bagi lembaga otoritas keagamaan. Alih-alih memberikan ‘kasih’, Inkuisisi justru menjadi penebar teror atas nama agama.

Bagaimana tidak? Dalam prakteknya seringkali Ikuisisi bersikap kejam kepada para tertuduh. Sering interogasi justru menjadi pemaksaan pengakuan dengan kekejaman luar biasa tak terperikan.

Peter de Rosa mengambarkan kekejaman Inkuisisi dalam bukunya Vicars of Christ: The Dark Side of the Papacy, (London: Bantam Press, 1991):
How ever, the Inquisition was not only evil compared with the twentieth century, it was evil compared with the tenth and elevent when torture was outlawed andmen and women were guaranteed a fair trial. It was evil compared with the age of Diocletian, for no one was thentortured and killed in the name of Jesus crucified. (Betapa pun, inquisisi tersebut bukan hanya jahat saat dibandingkan dengan (nilai-nilai) abad ke-20, tetapi ini juga jahat dibandingkan dengan (nilai-nilai) abad ke-10 dan ke-11,saat dimana penyiksaan tidak disahkan dan laki-laki serta wanita dijamin dengan pengadilan yang fair. Ini juga jahat dibandingkan dengan zaman Diocletian, dimana tidak seorang pun disiksa dan dibunuh atas nama Jesus yang tersalib).

Dalam buku panduan bagi para Inkuisitor disebutkan bahwa tentang tujuan penjatuhan hukuman, “… karena hukuman bukan dijatuhkan terutama dan demi perbaikan dan kebaikan terhukum, melainkan demi kebaikan masyarakat agar orang lain menjadi takut dan menjauhkan diri dari kejahatan yang hendak mereka lakukan…

Beberapa tindakan yang dilakukan oleh Inkuisisi:

  1.  Pada tahun 1211 delapan puluh tokoh Waldenses ditangkap dan dibakar
  2. Perang terhadap kelompok bid’ah Albigenses. Tahun 1209 terjadi pembantaian terhadap para biarawan di wilayah Tolouse. Tahun yang sama juga terjadi pembantaian warga kota Beziers
Tokoh-tokoh humanisme yang terkena hukuman Inkuisisi diantaranya adalah

  1. Galileo-Galilei : Dihukum mati oleh Inkuisisi karena memopulerkan ajaran Heliosentris Nicolas Copernicus bahwa bumi mengelilingi matahari.
  2. Giordano Bruno : Dihukum bakar karena bukunya de la Causa yang menyebutkan tentang keabadian alam semesta. 
Galileo-Galilei di depan sidang Inkuisisi
 
Kekejaman yang dilakukan oleh Inkuisisi memberikan trauma yang dalam bagi Eropa. Trauma ini terinternalisasi sehingga menjadi asumsi dan prinsip bahwa agama tidak memberikan kasih sayang, melainkan rasa takut.

Maka munculah gerakan-gerakan yang menolak otoritas lembaga keagamaan semacam gerakan Calvinisme dan Protestanisme. Termasuk juga menyingkirkan agama dari penyelengaraan pemerintahan dan politik.

Dalam bidang pemikiran munculah sekularisasi ilmu pengetahuan. Logika Eropa menolak postulat dan aksioma yang bersumber wahyu dalam membangun teori-teori sains. Contohnya adalah Tuhan menciptakan alam seperti jam tangan. Maksudnya Tuhan hanya mencipta, sedangkan alam berjalan berdasakan hukum-hukumnya sendiri tanpa keterlibatan Tuhan.

Terakhir adalah terjadinya dekonstruksi dalam sistem ilmiah ajaran agama. Hal ini dilakukan oleh sarjana-sarjana teologi yang menggunakan metode tafsir baru dan melecehkan tafsir klasik. Bahkan mereka berani mengatakan bahwa tafsir-tafsir klasik yang ada sarat dengan kepentingan. 

Hal ini tidak hanya menimpa Kristen. Dewasa ini, moncong gerakan anti otoritas lembaga keagamaan diarahkan kepada Islam. 

Berikut adalah fenomena yang terjadi:


1.       Muculnya gerakan anti terorisme yang diarahkan kepada Islam


2.       Munculnya Jaringan Islam Liberal: Sebagai mana diketahui bahwa Jaringan Islam Liberal adalah merupakan gerakan penafsiran baru terhadap Al Quran dan menolak otoritas Ulama.
3.       Gerakan penolakan fatwa MUI.
4.       Fitnah kepada para Ustadz. Kriminalisasi terhadap poligami KH Abdullah Gymnastiar. Dan bullying dalam dunia maya terhadap Rhoma Irama dan Habib Rizieq Shihab
5.       Kriminalisasi Gerakan Front Pembela Islam
6.       Dekonstruksi makna Jihad

7.       Pengebirian dan fitnah kepada Partai Islam.
8.       Penolakan pelaksanaan syariat Islam dalam penyelenggaraan Negara.
9.       Silakan ditambahkan


Itulah pekerjaan rumah para penulis muslim akibat adanya fitnah-fitnah yang menyudutkan Islam.
Inkuisisi Inkuisisi Reviewed by Ahmad Lamuna on 9:23 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.