Hukum dan Adab di Media Sosial

Bismillahirrahmannirrahim




Jakarta - Pada hari Ahad (13/12), Masjid Nurul Iman ramai dipadati oleh para jamaah. Bahkan ruang utama masjid yang terletak di lantai 7 gedung Blok M Square, dirasa kurang cukup memadai untuk menampung jamaah dari gabungan beberapa Majelis Ta'lim di Jakarta, pagi itu.

Pukul sembilan lebih dua puluh menit, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc, selaku pemberi tausiyah, memulai kajian dengan mengambil tema sangat menarik, yaitu : Hukum dan Adab di Sosial Media.

Beliau memulai dengan mengeluarkan hadist shahih berikut ini :
Rasulullah Shallallahu 'Ailaihi Wasallam, bersabda:
"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya untuk apa dia gunakan, (2) tentang ilmunya, sejauh mana dia amalkan ilmunya tersebut, (3) tentang hartanya, dari mana harta tersebut didapatkan, dan untuk apa harta tersebut dibelanjakan, dan (4) tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan." (HR. At Tirmidzi)

Sejak 15 abad tahun yang lalu, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'Ailaihi Wasallam, bersabda: "Sesungguhnya sebelum datangnya hari kiamat akan... tersebar qalam (pena)." (HR. Ahmad)

Pena yang dimaksud saat ini sama dengan tulisan-tulisan (konten) yang bertebaran dalam sosial media, yang setiap orang dengan mudah menuliskan sesuatu hal (apapun). 

Ustadz yang masih berstatus mahasiswa strata dua disalah satu universitas di Riyadh - Arab Saudi ini mengatakan, silakan saja berjejaring sosial, tetapi jangan jadikan sosmed membuat diri kita lupa segalanya. Jadikanlah medsos yang bisa membawa kita ke surga, bukan ke neraka. Dan pikirkanlah apakah terlalu sering bersosial media akan mendapatkan nikmat kubur atau sebaliknya, azab kubur bagi diri kita. Na'udzubillah.

Untuk itu, beliau menjabarkan adab sebagai seorang mukmin dalam bersosial media :

(1). Hendaknya memahami bahwa Islam telah mengajarkan agar bisa membagi waktu dengan baik.

Nasehat Salman Al Farisi terhadap sahabatnya Abud Darda' radhiyallahu 'anhu yang berlebihan dalam beribadah : "... Sesungguhnya Rabb-mu memiliki hak yang harus kau tunaikan. Dirimu (tubuh) juga memiliki hak. Demikian pula keluargamu (suami/istri/anak-anak) memiliki hak yang harus engkau tunaikan. Maka tunaikanlah haknya masing-masing." Setelah kejadian itu, beliau menemui Nabi Shallallahu 'Ailaihi Wasallam, untuk menceritakan kisahnya. Rasulullah bersabda, "Salman memang benar." (HR. Al-Bukhari)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Salah satu tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna." (HR. At Tirmidzi) 

Diriwayatkan dari Hasan Al Basri, dia berkata, "Salah satu tanda Allah Ta’ala berpaling dari seorang hamba ialah jika Dia membuatnya sibuk pada sesuatu yang tidak berguna baginya."


(2). Berpikirlah sebelum mengunggah/menyebarkan kabar (berita).

Camkan dalam diri bahwa kita akan dihisab oleh Allah Ta'ala.

"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir" (QS. Qaaf : 18)

Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhu , Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Barangsiapa yang diam maka dia akan selamat." (HR. Ahmad)


(3). Niat karena Allah Ta'ala untuk silahturrahim/ menjalin ukhuwah Islamiah agar mendapatkan pahala.

Dalam kaidah fikih : Sarana Memiliki hukum sama dengan tujuannya.

Dari Amirul Mukminin Abu Hafs Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu telah berkata: "Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : "Sesungguhnya amal perbuatan tergantung kepada niatnya, ..." (HR. Al-Bukhari dan Abu Husein)


(4). Kita harus tahu kaidah yang di jelaskan oleh fikih.

Ada 3 syarat kaidah berpikir sebelum diucapkan/ mengunggah :
1.) Niat yang ikhlas karena Allah Subhanallahu Ta'ala.
2.) Apa yang kita sampaikan benar dalam segi konten (isi/materi) dan benar dari sisi penyampaian.

Kita harus melakukan tabbayun (mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya). Sesuai dengan surat Al-Hujurat ayat ke-9, yang artinya : "Wahai orang-orang yang beriman, jika datang seorang yang fasik kepadamu membawa berita, maka tangguhkanlah (hingga kamu mengetahui kebenarannya) agar tidak menyebabkan kaum berada dalam kebodohan (kehancuran) sehingga kamu menyesal terhadap apa yang kamu lakukan."

Makna seseorang yang fasik :
- Informasi bersumber dari orang yang fasik yaitu pelaku dosa-dosa besar.
- Informasi fasik bisa berasal dari orang shalih/baik.

Bila kita tidak melakukan kroscek sebelumnya, kemudian salah dalam menyampaikan, maka kita akan menyesal di hari kiamat. 

3.) Memberi efek positif. Adakah manfaatnya atau tidak. Bila kita memberikan komentar akankah bisa menekan kemudaratan yang ada.


(5). Pastikan penyampaian (dakwah) dengan cara yang baik.

Menggunakan bahasa yang terbaik, lembut, santun dan jangan lupa mengucap salam terlebih dahulu.

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu..." (QS. Ali imran : 159)


(6). Harus bisa membedakan mana ranah publik dan ranah pribadi.

Seorang mukmin harus tahu mana yang boleh diberitakan untuk khalayak, dan mana yang tidak boleh. Jangan menyebarkan aib pribadi/keluarga maupun teman dekat yang telah mempercayakan ceritanya menjadi satu rahasia.


(7). Tidak semua yang masuk dalam sosmed itu benar, maka saringlah terlebih dahulu sebelum disampaikan kembali.

Dari Hafsh bin Ashim berkata, "Rasulullah bersabda : "Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta, kalau dia menceritakan semua yang dia dengar." (HR. Muslim dan Abu Dawud)


(8). Bersihkan sosmed pribadi kita dari ghibah.

"Tahukah kalian apa itu ghibah (menggunjing)? Para sahabat menjawab : Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Kemudian beliau bersabda : Ghibah adalah engkau membicarakan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci. Ada yang bertanya. Wahai Rasulullah bagaimana kalau yang kami katakan itu benar-benar ada pada dirinya? Beliau menjawab : Jika yang kalian katakan itu benar berarti kalian telah berbuat ghibah. Dan jika apa yang kalian katakan tidak benar, berarti kalian telah memfitnah (mengucapkan suatu kedustaan)." (HR. Muslim)

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al Hujurat : 12)

"Tahukah kalian siapa orang yang pailit (bangkrut)? Para sahabat menjawab: "Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta." Nabi berkata: "Sesungguhnya orang yang bangkrut di umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat; akan tetapi dia (juga) datang (dengan membawa dosa) telah mencaci si fulan, menuduh si fulan, memakan harta si fulan, ...." (HR. Muslim)


(9). Waspada fitnah (kebohongan) dalam sosmed kita.

Dari al Miqdad bin al Aswad radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Demi Allah! Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Dan barangsiapa yang mendapat ujian lalu bersabar, maka alangkah bagusnya". (HR. Abu Dawud)

Terdapat dalam surah Al Maidah ayat 41 :
"Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah di ubah-ubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah" Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat, mereka mendapatkan siksaan yang besar."


Dan tanda orang yang Allah fitnahkan (tidak mendapatkan hidayah) terdapat pada ayat ke-42 : 
"Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil."


(10). Hati-hati memberikan komentar.
Bila ingin memberikan nasehat, berikanlah dengan cara rahasia.

Jika ada seseorang yang mencela karena dia mengetahui aib kita, jangan dibalas walaupun kita mengetahui aib-aibnya. Karena cukuplah caci maki dia kepada kita akan membuat dia terkena bencana dari Allah Ta'ala.

Hasan al Basri mengatakan : "Para sahabat memiliki konsep barangsiapa terfitnah kecuali anda akan terlibat hal tersebut..." Na'udzubillah


(11). Hindari konten yang berisi masalah besar. 
Masalah yang berkaitan dengan umat (nasional/dunia). Masalah-masalah besar umat harus dikembalikan kepada para ulama.


(12). Jadikan sosmed media dakwah yang baik.
Selektif dalam mengunggah/ menyebarkan dakwah:
- Lihat artikelnya baik atau tidak.
- Lihat dari siapa ilmu itu berasal (memiliki kapasitas agama yang kuat, akhlak yang baik, istiqamah)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah memberitakan bahwa hal itu merupakan salah satu diantara tanda-tanda dekatnya kiamat. Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassallam bersabda : "Sesungguhnya diantara tanda hari kiamat adalah, ilmu diambil dari orang-orang kecil (yaitu ahli bid’ah)." (HR. Ibnul Mubarak, al Lalikai, dan al Khaththib al Baghdadi)

Hadist tersebut menjelaskan tentang Ilmu diambil dari orang kecil :
- Dari yang menyimpang (hanya berdasarkan pemikiran mereka sendiri)
- Dari yang tidak memiliki kapasitas ilmu agama.

1. Selektiflah untuk akhirat kita.
Mintalah referensi dari guru-guru yang matang ilmu agama. Atau meminta rekomendasi konsep para ulama.
2. Bila menerima artikel dibaca terlebih dahulu.
3. Ilmu-ilmu tersebut kita amalkan dahulu sebelum dibagikan/sebarkan.
4. Tidak semua artikel itu bagus/benar kita share. Lihat dan sesuaikan pertemanan (group) dengan artikel (ilmu) yang akan kita bagikan (perhatikan ilmu fikih dakwah).


(13). Hati-hati Riya' terselubung.

Orang yang terbiasa mengunggah hal tidak penting, terutama foto, maka akan terbiasa memposting hal yang berkaitan dengan ibadahnya. 

Contoh : Karena terbiasa mengunggah foto-foto (narsis) saat berlibur/waktu senggang, maka saat melakukan ibadah seperti umrah atau ibadah lainnya, dia kerapkali mengunggah foto-foto narsis tersebut ke medsos. Agar terlihat seperti orang shalih.

Di akherat nanti surga Allah Subhanallahu Ta'ala persiapkan hanya kepada mereka yang tidak suka tampil/ show off.

Terdapat dalam surat Al Qasas ayat 83. "Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa."

Apabila seorang hamba bisa menyembunyikan ibadah (shalat, infak, sedekah, dll) maka itu lebih baik baginya. Kecuali, ibadah itu untuk syiar agama (dakwah). 


(14). Fikirkan dulu sebelum kita mengunggah.
Mintalah pertolongan kepada Allah agar menyelesaikannya dengan menutupi/ merahasiakannya, karena setiap manusia memiliki hasad (merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain).

Adapun nikmatmu Kepada Allah Subhanallahu Ta'ala, ceritakanlah!


(15). Hati hati dengan fitnah wanita 
wanita (baik yang telah menikah, maupun yang belum menikah).

Dari Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda : "Aku tidak meninggalkan satupun fitnah sepeninggalku yang lebih membahayakan para lelaki kecuali para wanita." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…" (QS. An Nuur : 30-31)

"Janganlah laki-laki berduaan dengan perempuan (lain) kecuali perempuan itu didampingi mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan perjalanan (musafir) kecuali didampingi mahramnya." (HR. Muslim)

Walaupun berdalih untuk ibadah! Contoh : Membangunkan lewat alat komunikasi untuk melakukan shalat tahajjud, mengingatkan shalat, dsb. Apabila kita melakukan shalat berjamaah hanya berdua dengan wanita, maka haram hukumnya.


Demikian kajian Islam yang didukung oleh Rodja TV dan Radio Rodja, yang berakhir sesaat sebelum adzan berkumandang. Ditutup dengan doa kafaratul majelis dan shalat dzuhur berjamaah. Semoga kita bisa lebih berhati-hati dan bijaksana dalam memanfaatkan sosial media sebagai syiar agama /media dakwah maupun dalam mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk dunia maupun akherat.



Semoga bermanfaat
Elenra

(Sumber Gambar: www.gosimplysocial.com)


Hukum dan Adab di Media Sosial Hukum dan Adab di Media Sosial Reviewed by Ahmad Lamuna on 5:26 PM Rating: 5

2 comments:

Powered by Blogger.