Hikayat Perang Sabil

Oleh Ahmad Lamuna dan RH Fitriadi

Namanya adalah Teungku Chik Haji Muhammad Pante Kulu. Lahir di Desa Pante Kulu, Titeu, Pidie, Aceh pada tahun 1836 M/1252 H. Beliau belajar Islam di Dayah Tiro kepada Teungku Chik Haji Muhammad Amin. Kemungkinan besar di sinilah beliau berkenalan dengan sahabat kentalnya Muhammad Saman yang kelak dikenal dengan sebutan Teungku Chik di Tiro.

Teungku Chik Haji Muhammad Pante Kulu semestinya adalah seorang sastrawan yang menyejarah. Perlu juga di angkat sebagai Pahlawan Nasional (apa pemerintah berani?). Karena syairnya, Hikayat Perang Sabil telah menjadi pembakar semangat Jihad pada perang Sabil di Aceh.

Hikayat Perang Sabil, digubah oleh Teungku Chik Muhammad Pante Kulu dalam perjalannan dari Jeddah ke Aceh. Puisi ini terdiri dari 4 bagian yaitu: Kisah ‘Ainul Mardiyah, Kisah Pasukan Gajah, Kisah Said Salmy dan Kisah Budak Mati Hidup Kembali.

Sesampainya di Aceh, kemudian dipersembahkannya puisi ini kepada sahabatnya Muhammad Saman Teungku Chik di Tiro yang sedang memimpin Perang Sabil melawan Belanda.

Pembacaan Hikayat Perang Sabil ini menjadi ritual wajib bagi para Mujahid Aceh sebelum berangkat perang melawan Belanda.

Karena itulah ghirah menjadi terbakar, keberanian terlecut, dan semangat membuncah dalam dada Mujahid Aceh. Seperti digambarkan oleh Taufik Ismail dalam syairnya berikut:

Nampakkah olehmu puisi itu?
Diserahkan kepada Teungku Chik Ditiro
Di sebuah desa di dekat Sigli 
Dan puisi itu berubah menjadi sejuta Rencong...

Terdengarkah olehmu? 
Merdunya Al Furqan dinyanyikan
Kemudian puisi perang sabi dibacakan
Yang mendidih darah memanggang udara
Menjelang setiap pasukan terlibat pertempuran
Mengibarkan Panji fi-sabilillah…

Hamba menulis puisi juga
Tapi betapa kurus puisi hamba 
Kurang sikap ikhlas hamba
Banyak ria dan ingin tepuk tangan...
Apalah artinya dibandingkan puisi Perang sabi Muhammad Pante Kulu ...

Allah, berkahi penyair abad sembilan belas ini
Beri dia firdaus seluas langit bumi…

Berikut ini adalah syair Lagu Prang Sabi yang terinspirasi dari Puisi Hikayat Perang Sabil Teungku Chik Pante Kulu

Subhanallah wahdahu wa bi hamdihi
Khalikul badri wallaili Azza wajallah.
Ulön pujoe pòe sidroe po syukur keu rabbi yaa aini.
Keu Kamoe Neubri beu suci Aceh Mulia.

Subhanallah wahdahu wabihamdihi
Khalikul badri wallaili Azza wajallah.
Kami memuja Satu-satunya pemilik
Dan bersyukur ke Rabbi.
Untuk kami berikanlah suci Aceh Mulia.

Tajak prang musöh beuruntoeh dum sitre Nabi.
Yang meu ungki keu Rabbi keu poe yang Esa. 
Meusö han tèm prang cit malang ceulaka tubh rugö roh.
Syuruga tan roh rugo roh bala Neurka.

Kita berangkat memerangi musuh agar hancur selayak perang nabi.
Kita berharap kepada Rabbi pemilik yang Esa.
Siapa saja yang menolak berperang, benar-benar kemalangan celaka tubuh dan jiwa.
Tidak akan dimasukkan ke dalam syurga bahkan diberikan bala neraka.

Meusoe yang tem prang cit meunang meutuah tuböh.
Syuruga Lusòh yg that röh Geubri keu gata.
Lindung gata seugala yang Mujahidn Mursalin.
Tiep-tiep mukim iklim Aceh Sumatra.

Siapa saja yang bersedia berperang memanglah beruntung tubuhnya.
Syurga yang paling baik diberikan kepada kita.
Perlindungan untuk anda semua wahai Mujahidin Mursalin.
Tiap-tiap wilayah dalam Aceh Sumatra.

Yang Meubahgia seujahtra syahid dalam prang.
Allah Neupulang Dendayang Budiadari.
Hoka siwa sirawa syahid dlm prang dan meunang.
Di peurab rijang bak Cutbang salèem Lée Neubri.

Yang sangat membahagiakan dan sejahtera adalah syahid dalam perang.
Allah memulangkan bidadari dan dayang ke bumi.
Ketika jiwa syahid dalam perang dan menang,
Didekatkan segera (para bidadari)  kepada kakanda sayang

Salam a'laikom- a'laikom  Tgk Meutuah.
Katröh Neulangkh ya Allah Keunoe bak Kamöe.
Amanah Nabi lah Nabi hana Neu ubah-2.
Syuruga Indah ya Allah pahlwn Prang sabi.

Salamualaikum tuan-tuan yang beruntung hidupnya.
Sudah sampai anda sekalian melangkah karena Allah
Ke sini untuk berjumpa dengan kami.
Amanah nabi tidak pernah berubah.
Syurga indahnya Allah untuk pahlawan perang sabil.

Ureung binöe lah Binöe geumøe meu kiaaam.
Aneuk jak lam prang peutimang amanah Nabi. 
Meubek tataköet tasuröet aneuk seunapan bangsawan.
Aneuk meuriam ya Allah atra sipai.

Para perempuan menangis karena perpisahan dengan anaknya
Yang berangkat untuk berperang karena amanah nabi.
Janganlah takut dan surut akan peluru kaum bangsawan.
Peluru meriam -ya Allah- milik sang musuh.

Ureung yg syahd lahsyahd bek ta kheun matée.
Beuthat beu tanlée ya Allah nyawöeng lam badan.
Ban sarée keunöng lahkeunöng senjt kafe lahkafe.
Keu nan teuka lée ya Allah peumud seudang.

Orang yang syahid dalam perang jangan kita katakan mati.
Walau tidak ada lagi -ya Allah- nyawa dalam badan.
Ketika serempak terkena senjata kafir,
Sudah menjadi takdirnya Allah para pemuda pemberani

Budiadari meunanti di döeng di pandang.
Dipréeh CutAbang jak meucang dlm prang sabi.
Hoka judöe rakn eoe syahd dlm prang dan seunang.
Dipeurab rijang peutaméeng syurga tinggi.

Bidadari menanti, memandang dengan harap-harap cemas.
Menunggu kakanda sayang menyerang musuh dalam perang sabil.
Ketika tiba masa sang pemuda syahid dalam perang dan senang,
Didekatkan segera sang syahid dimasukkan dalam syurga yang tinggi.

Dimat kipah lahkipah saböh bak jaröe.
Dipréeh judöe wöe ya Allah dlm prang sabi.
Geucok disinan disinn geuba u-dalam u-dalam.
Di peuduek sajan ya Allah ateuh kurusi.

Mereka menanti jodohnya pulang dalam perang sabil
Setiba di syurga dihantarkan sang jiwa masuk kebagian dalam.
Didudukkan di dekat Allah di atas kursi.

Ngon ija putéeh lahputéeh Geusampöh darah lahdarah.
Ngon ija mirah lahmirah Geusampöh gaki.
Rupa Geuh putéeh lahputéeh sang2 buléen trang di awan.
Watée tapandang ya Allah seunang lan hatée.

Dengan kain putih di basuh darah,
dengan kain merah di basuh kaki.
Rupa syahid putih selayak bulan terang di awan.
ketika kita memandangya Allah senang di dalam dada.

Darah yang hanyi lahhanyi gadöh di badan.
Geu ubah lée Tuhan ya Allah dg kasturi.
Dikamöe Aceh lahAceh darah peujuang peu-juang.
Neubri beurijang ya Allah Aceh Merdeka.

Darah yang amis hilang di badan,
di ganti oleh Allah dengan kesturi.
Kamilah Aceh ya Aceh, darah pejuang
Berikanlah segera -ya Allah Aceh- Merdeka

Hikayat Perang Sabil Hikayat Perang Sabil Reviewed by Ahmad Lamuna on 19.39 Rating: 5

3 komentar:

  1. Puisi selalu mengiringi para mujahidin. Puisi adalah kerinduan pada Ilahi Rabbi. Terima kasih atas tulisannya. Mantap!

    BalasHapus
  2. SUPER PROMO DI GUNUNG MAS PONSEL TEMPAT BELANJA ONLINE AMAN DAN TERPERCAYA. 100% BEBAS PENIPUAN MINAT PIN BB: 7C22D79F HUB/SMS:0851-4515-5828 klik web resmi kami di http://gunungmas-phone.blogspot.com/
    Ready Stock! Samsung Galaxy A8 Rp.2.900.000
    Ready Stock! oppo R5 Rp.3.000.000
    Ready Stock! Apple iPhone 5 32GB Rp.2.500.000
    Ready Stock! Apple iPhone 5S 32GB Rp.3.000.000
    Ready Stock! Samsung Galaxy A3 A300H Rp.1.500.000
    Ready Stock! Samsung Galaxy A5 A500F Rp.2.000.000
    Ready Stock! Samsung Galaxy E5 E500H Rp.1.500.000
    Ready Stock! Samsung Galaxy Grand Prime SM-530H Rp.800.000.
    Ready Stock! Asus Zenfone 2 ZE551ML RAM 4GB Rp.2.000.000

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.