Datuk Pulau Penyengat

FLP yang berdiri pada tanggal 22 Februari delapan belas tahun yang lalu tidak dapat dipungkiri sangat erat berkait dengan dunia sastra. Paling tidak FLP dengan geliatnya, sedikit banyak telah memberi  warna pada ranah sastra nusantara. Begitu juga ketika ditilik dari tempat lahirnya yang di sebuah Masjid, menunjukan bahwa ada nuansa keislaman dalam gerak FLP. Hal ini jelas menunjukan bahwa FLP tidak dapat dilepaspisahkan dengan Sastra dan Islam.

Berdasarkan pemikiran tersebut maka Divisi Rohani Islam FLP Jakarta -Insya Allah- setiap sabtu akan menurunkan tulisan yang berkaitan dengan Sastra Islam. Hal ini adalah untuk mengapresiasi Sastra Islam yang umurnya sama dengan Islam itu sendiri.

Pada tulisan kali ini kami akan mengapresiasi khasanah Sastra Islam dari Ranah Nusantara sendiri. Ialah Datuk Pulau Penyengat Raja Ali Haji.

Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad konon dilahirkan di pulau Penyengat (walau ada juga yang menyebutkan beliau dilahirkan di Selangor) pada tahun sekitar 1808 atau 1809. Wafat di pulau Penyengat 1873. Beliau adalah Ulama, Cendekiawan, Sejarahwan dan juga seorang Pujangga abad 19.  Beliau berguru kepada ayahnya sendiri dan beberapa Ulama yang sering datang ke Pulau Penyengat. Kemudian bersama ayahnya menunaikan ibadah haji di Makkah. Di sinilah, beliau belajar kepada Syeikh Daud bin Abdullah Al Fanani.



Karyanya yang berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa telah menjadi rujukan Pada Kongress Pemuda 28 Oktober 1928 yang menjadi cikal bakal lahirnya Bahasa Kesatuan Republik Indonesia. Karena itulah maka Pemerintah Indonesia telah mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional sepuluh tahun yang lalu.

Ini lebih terlambat dari pada pengangkatan Kakek Beliau Raja Haji Fi Sabilillah sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1997. (Di situ kadang saya merasa sedih)

Sementara karya sastranya yang paling Fenomena adalah Gurindam 12. Sebuah bentuk puisi lama yang sarat akan ajaran Islam.

Berikut inilah Gurindam dua belas itu.

Gurindam Dua Belas

Persimpanan yang indah-indah
Yaitulah ilmu yang memberi faedah

Aku hendak bertutur
Akan gurindam yang teratur

Gurindam Fasal Yang Pertama

Barang siapa tiada memegang agama
Sekali kali tidak boleh dibilangkan nama

Barang siapa mengenal yang empat
Maka ia itulah orang yang ma’rifat

Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal tuhan yang bahri

Barangsiapa yang mengenal dunia
Maka taulah dia barang yang terperdaya

Barangsiapa yang mengenal akhirat
Maka tahulah dia barang yang mudharat


Gurindam Fasal yang Kedua

Barangsiapa mengenal yang tersebut
Tahulah dia makna takut

Barangsiapa meninggalkan sembahyang
Bagai rumah tiada bertiang

Barangsiapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasya

Barangsiapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat

Barangsiapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji


Gurindam Fasal ke tiga

Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita cita

Apabila terpelihara kuping
Kabar yang jatuh tiadalah dumping

Apabila terpelihara lidah
Niscahya dapat daripadanya faedah

Bersungguh sungguhlah engkau memeliharakan tangan
Dari pada segala berat dan ringan

Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fiil yang tiada senonoh

Anggota tengah hendaklah ingat
Disitulah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah pelihara kaki
Daripada berjalan membawa rugi


Gurindam Fasal yang Keempat

Hati itu kerajaan dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggotapun rubuh

Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir
Karena disitu banyak orang yang tergelincir

Pekerjaan marah jangan di bela
Nanti hilang akal di kepala

Jika sedikitpun berbuat bohong
Maka dapat diumpamakan mulutnya itu pekung

Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka

Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah

Barangsiapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar

Barangsiapa perkataan kotor
Maka mulutnya bagaikan ketor

Dimana tau salah diri
Jika tidak orang lain yang berperih

Pekerjaan takabur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih


Gurindam Fasal Ke Lima

Jika hendak mengenal orang yang berbangsa
Lihatlah budi dan bahasa

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia sia

Jika hendak melihat orang mulia
Lihat pada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal

Jika hendak melihat orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai



Gurindam Fasal Ke Enam

Carilah olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat

Carilah olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru

Carilah olehmu akan istri
Yang boleh menyerahkan diri

Carilah olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan

Carilah olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi


Gurindam Fasal Yang Ketujuh

Apabila banyak berkata kata
Disitulah jalan masuk dusta

Apabila banyak berlebih lebih suka
Itulah tanda hampirkan duka

Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih

Apabila banyak mencela orang
Itulah tanda dirinya kurang

Apabila orang banyak tidur
Sia sia sahajalah umur

Apabila mendengar akan kabar
Menerimanya hendaklah sabar

Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan

Apabilah perkataan lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut

Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah segala orang mengikut

Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar

Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat honar


Gurindam Fasal yang Kedelapan

Barangsiapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya

Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya

Lidah yang suka membenarkan dirinya
Dariapada yang lain dapat kesalahannya

Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang dating kabar

Orang yang suka menampakan jasa
Setengah daripada syirik mengaku kuasa

Kejahatan diri sembunyikan
Kebajikan diri diamkan

Keaiban orang jangan dibuka
Keaiban diri hendaklah sangka



Gurindam Fasal yang Kesembilan

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjaikan
Bukannya manusia yaitulah syaitan

Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah Iblis punya penggawa

Kepada segala hamba hamba raja
Disitulah syaitan tempatnya manja

Kebanyakan orang yang muda mudi
Disitulah syaitan tempat bergoda

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Disitulah syaitan punya jamuan

Adapun orang tua yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaituan jadi seteru


Gurindam Fasal yang Kesepuluh

Dengan bapa jangan durhaka
Supaya ALLAH tidak murka

Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat

Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai

Dengan isteri janganlah alpa
Supaya malu jangan menerpa

Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil


Gurindam Fasal yang Kesebelas

Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa

Hendaklah jadi kepala
Buang Perangai yang cela

Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat

Hendak marah
Dahulukan hujah

Hendak dimalui
Jangan melalui

Hendak ramai
Murahlah perangai


Gurindam Fasal yang Keduabelas

Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri

Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja

Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat

Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu

Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai

Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti

Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tiada buta

Semoga kita mendapat Hikmah
Datuk Pulau Penyengat Datuk Pulau Penyengat Reviewed by Ahmad Lamuna on 17.31 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.