Cerpen: Berubah? Yang Benar Saja, Hijrah!

Oleh: Izzuddin Ar Rifqiy

Matahari mengirimkan salamnya menembus pori-poriku yang terbungkus rapat. Gerah sekali memakai baju kurung seperti ini. Belum lagi banyak sekali lapisan lapisan kain yang harus aku kenakan. Kerudung yang aku pakai nggak cuma butuh satu layer saja. Minimal dua, supaya rambutnya tak nampak. Begitu kata teteh-teteh di lembaga dakwah yang belum lama aku ikuti. Demikian lebarnya kain ini hingga melambai-lambai bila tertiup angin. Belum lagi manset. Tak ketinggalan pula, kaos kaki! Yang cokelat panjang, padahal aku tak bersepatu. Pun pula tas cangklong sebagai identitasku sebagai anak kuliahan tak boleh ketinggalan. Ah, aku serasa jemuran berjalan.
Kuhentikan langkah pada sebuah bangku di bawah pohon rindang tak jauh dari gedung fakultasku. Dari dulu aku suka duduk di bangku ini. Sejak berbaju gaul hingga seperti sekarang ini. Sambil ditingkahi angin sepoi-sepoi, aku bisa memperhatikan polah tingkah anak-anak di fakultas. Macam-macam tingkah mereka, terkadang bisa bikin tertawa kecil. Menyenangkan sekali.
Hei... hei.. Dia datang, dia datang! Sedikit panik, tentu saja, ini bukan jadwalnya melewati jalan yang hanya beberapa langkah di hadapanku ini. Harusnya masih sekitar 15 menit lagi. Aku berusaha seanggun angsa tatkala mengambil buku kecil yang tak pernah absen dari tas cangklong. Kubuka halaman demi halaman selentik mungkin. Walaupun wajahku menghadap ke buku, ekor mataku tertuju pada sesosok laki-laki (atau ikhwan, begitu teman-teman baruku menyebut lelaki) berwajah teduh. Inilah puncak segala ekstasiku, dan tempat ini adalah tempat terdekat dan tempat paling tak mencurigakan untuk memuaskan dahaga mataku.
Tapi hari ini ada yang aneh dengannya. Mulut yang biasa melantunkan bacaan Al Qur’an secara lirih tanpa membaca, terkatup rapat . Apa ya itu namanya? Ah ya, muroja’ah.. Langkahnya pun lebih cepat dari biasanya. Ini semua di luar kebiasaannya. Seraut cemas terkilas lewat ekor mataku yang semakin ahli menilai tanpa menatap. Seharusnya aku bisa memastikan bila bisa memandang wajahnya face to face. Tapi ia selalu menundukkan pandangan, bahkan saat ini.
***
Pertemuan pertamaku dengannya adalah ketika kami menghadiri kelas yang sama. Psikometrik atau apalah itu aku lupa. Ia dengan aktif melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang di luar jangkauan pikirku. Awalnya aku sebal dengannya, ia membuat kelas selesai beberapa menit lebih lama. Tapi lama-lama kuperhatikan, saat ia berdiri dan bertanya, hei, ternyata dia rupawan juga. Sejak saat itu, aku semakin betah berada di kelas itu, betah mendengarkan suara dalam nan teduh keluar dari mulutnya. Ada karisma tersendiri dalam suaranya. Aku menunggu-nunggu saat ia mengajukan pertanyaan. Satu semester seperti angin lewat saja. Tak terasa ini sudah penghujung semester.
Sedikit yang kutahu tentangnya. Namanya Elang dan ia adalah salah seorang aktivis dakwah di fakultas kami. Ia cukup berprestasi dan tampaknya dia orang yang baik. Aku bertanya pada orang-orang yang satu jurusan dengannya mengenai jadwal-jadwal kuliah mereka. Lewat mereka aku tahu, sudah tidak ada lagi kesempatan untukku bisa duduk satu kelas lagi dengannya.
Oleh karena itu, bersamaan dengan berakhirnya semester, aku memutuskan untuk mengambil sebuah keputusan yang ekstrem. Aku akan ikut organisasi yang sama dengan Elang! Tak pernah kubayangkan diriku ikut pengajian bersama mbak-mbak berkerudung lebar. Apalagi satu lembaga dengan mas-mas berjenggot (pengecualian untuk Elang dan jambang tipis rapinya, hihi). Tapi kuputuskan untuk ikut pendaftaran yang akan dibuka pada semester baru. Aku sudah kehabisan akal bagaimana untuk bisa dekat Elang. Kehadirannya sudah menjadi candu bagiku. Entah itu sekadar melihat wajahnya, atau sekadar mendengar suara teduhnya.
***
Hari yang indah, burung-burung berkicauan, matahari melambaikan cahaya dengan manisnya. Angin pun tak ketinggalan, ia dengan malu-malu menciumku, dan pohon-pohon menyapaku. (Hey, sejak kapan aku seromantis ini? xD) Kusenandungkan lagu-lagu bahagia untuk melengkapinya. Rasa-rasanya baru kali ini aku bahagia sekali menyambut semester baru. Kubayangkan aku akan lebih sering bertemu Elang. Mungkin kali ini aku akan punya alasan untuk menyapanya.
Langkahku ringan ke stand pendaftaran yang ada di komisariat lembaga. Ternyata mereka punya ruangan tersendiri. Keren juga. Seorang wanita dengan kerudung yang menutupinya hingga pinggang menyambutku. Wajahnya tampak begitu lembut dan ramah.  Woah, apakah mereka semua se-alim ini? Apakah orang seperti diriku bisa diterima di kalangan mereka? Aku memang berkerudung, tapi aku juga masih bercelana jeans dan berpakaian ketat. Apakah mereka akan memaksaku berpakaian seperti mereka? Berbagai macam pikiran berkecamuk di benakku. Tapi setelah kupikir-pikir, persetan dengan mereka, aku cuma ingin dekat dengan Elang saja.
“Perkenalkan, saya Nuri. Selamat datang, Saudariku,” ujarnya dengan senyum tersungging, ramah. Dia julurkan tangannya, bersalaman maksudnya.
“Ah, ya, saya Dara. Mohon bantuannya ya,” jawabku sambil menyambut tangannya. Aku coba tiru sungging senyumnya. Semoga tidak terlalu buruk.
“Mari saya kenalkan pada kakak pembimbing untuk Mbak Dara,” begitu katanya setelah ia menaruh form pendaftaranku pada sebuah folder.
Sembari berjalan mengikuti Nuri, aku melongokkan kepalaku ke sana ke mari mencari sosoknya. Tak sempat kutemukan. Kami sampai pada sebuah ruangan di mana ada seorang perempuan berkerudung selebar Nuri dikelilingi oleh sekitar sepuluhan orang.
“Ukh Pipit, sini bentar deh.” Nuri melambaikan tangannya pada seseorang di sana.
Yang dipanggil ‘Ukh Pipit’ alias si Kerudung Lebar yang sedang menjadi pusat perhatian kelompoknya segera mendekat ke arah kami. Lalu mereka berbincang sejenak. Sementara aku sendiri masih terbengong-bengong. Sekumpulan wanita yang tadi berkelompok dengan Ukh Pipit ini bermacam-macam bentuknya. Ada yang sepertiku, ada yang berpakaian seperti Nuri, ada yang bahkan tidak berkerudung. Mereka semua menatapku, aku tak bisa menjelaskan arti tatapan mereka. Mungkin penasaran, aku hanya menebak-nebak.
Ukh Pipit datang menyalamiku dan memelukku. Hei, dia belum kenal aku. Kenapa dia tiba-tiba memelukku. Aku merasa canggung, namun kuakui, ada sedikit perasaan nyaman yang kurasakan. Dan yang tadi menatapku, kini satu-satu tersenyum padaku dan memelukku bergantian. Aaakh...
Akhirnya jadilah aku sekelompok dengan mereka. Walau aku nggak ngerti ini kelompok apa. Tapi mereka menjelaskan bahwa ini adalah jalan untuk memperbaiki diri. Dan betapa kecewanya aku begitu tahu kalau kegiatan laki-laki dan perempuan dilakukan secara terpisah. Jadi jangan harap yang bisa saling berjumpa, menatap, tanpa ada alasan yang penting. Tapi aku memutuskan tetap tinggal. Karena ini satu-satunya kesempatanku. Satu lagi, namanya Pipit, Sabrina Pitaloka, bukan Ukh Pipit. Tampaknya ‘Ukh’ ini panggilan untuk awalan seperti ‘Mbak’ atau ‘Teh’. Whatever lah.
***
Sejak terakhir kali ia berjalan tergesa itu, aku tak pernah melihatnya lagi. Sudah kutunggu-tunggu di bangku yang sama. Di Gedung Fakultas juga tak tampak rimbanya. Kudengar-dengar dia mendapat amanah penting di kelembagaan dakwah yang lebih tinggi lainnya. Namun itu sudah lama sekali, dan aku sudah mendapatkan ganti yang lebih baik. Kini aku punya saudara-saudara baru, berukhuwah, begitu kami menyebutnya.
Pakaian yang dulu kusebut-sebut jemuran? Sekarang aku merasa nyaman memakainya, dan ini sudah menjadi bagian dalam babak baruku. Kadang aku geli mengingat betapa aku membencinya dulu. Setahun lebih aku bersama Teh Pipit. Beserta teman-teman lainnya dengan berbagai latar belakang. Kami beranjak, kami berproses, berusaha menjadi lebih baik. Bersama-sama tumbuh dengan keceriaan dan kebahagiaan.
Teh Pipit yang sudah beberapa bulan yang lalu diwisuda, tetap sering bersilaturahim ke kosanku. Beliau masih suka tersenyum ramah, sering membawakan makanan ringan. Tahu betul dengan kondisi anak kosan sepertiku. Akhir-akhir ini kami semakin sering bertemu dan biasanya ia curhat mengenai masalahnya, biasalah mengenai nikah. Hihi. Aku juga sering mencandainya. Biasanya Teteh hanya tersipu malu sambil memukul pundakku.
Ah, ukhuwah memang indah.
***
LDK Universitas kami sering mengadakan acara yang skala besar. Mengundang berbagai macam pembicara. Bulan Muharam ini, LDK mengadakan sebuah acara besar dalam memperingati Tahun Baru Islam. Sebuah acara pembuka yang cukup megah. Semua lembaga dakwah fakultas di universitas kami diundang, seperti biasanya. Aku juga hadir, seperti dalam kesempatan-kesempatan sebelumnya. Tapi kali ini aku agak sedikit terlambat karena ada tugas mendadak dari kampus.
Sesampainya di tempat acara, suara yang membahana memenuhi ruangan seolah menyambutku. Peserta sudah memadati ruangan. Rupanya pembicara sudah mulai menyampaikan materinya.
Dalam hadits riwayat Bukhari-Muslim diterangkan bahwa sesungguhnya segala amalan perbuatan bergantung pada niatnya dan tiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan pahala hijrah karena Allah dan Rasulullah. Barang siapa yang hijrahnya karena faktor duniawi yang akan ia dapatkan atau karena wanita yang akan ia nikahi, maka ia dalam hijrahnya itu ia hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” 
Aku sudah sering mendengar hadist itu. Terutama awalannya, “Innamal a’malu bin niyaat”. Yang membuatku tertegun adalah suara itu. Suara yang biasa menyampaikan pertanyaan-pertanyaan Psikometrik yang selalu kutunggu-tunggu. Suara yang dalam dan berkharisma. Itu suara Elang!
Aku keluar dari ruangan itu. Aku tak sanggup lagi. Jangan sampai benih-benih merah jambu yang sudah lama kusingkirkan kembali tumbuh di atas kondisiku yang masih labil ini. Dan lagi hadist tentang niat berhijrah itu, keluar langsung dari mulutnya. Seakan-akan itu khusus untuk menohokku, mengingatkanku pada kondisi awal-awalku. Mataku memberat, kuminta Dik Anna mengantarku pulang. Ia mengiyakan tanpa banyak tanya, tapi aku tangkap sekilas kebingungan yang segera dihelanya.
***
Kecewa, tentu saja, setelah sekian lama ia menghilang, kini ia muncul tanpa pemberitahuan. Tapi siapa aku baginya? Dan kekecewaan itu justru membuatku semakin sedih. Jangan-jangan hijrahku selama ini karena sesuatu selain-Nya. Tak bisa kupungkiri ternyata aku masih menyimpan rasa padanya. Selama beberapa hari ini aku tak banyak datang ke komisariat. Aku ingin menyendiri dulu sambil menggembalakan rasaku supaya tak keluar pagar.
“Tok, tok.” Pintu kamarku diketuk. Aku malas sekali membukanya,
“Assalamu’alaikum, Dara sayang, ini Teh Pipit. Kamu lagi sakit ya? Ini teteh bawain bubur ayam kesukaanmu.” Teh Pipit rupanya. Mau tak mau aku membukanya.
“Waalaikumsalam,” jawabku sambil cemberut setelah kubukakan pintu. Teh Pipit menghambur masuk. Memelukku, hangat. Kemudian ia mengecek suhu tubuhku dengan menempelkan punggung tangannya ke dahiku.
“Anget,” ucapnya.
“Kamu duduk aja, nanti Teteh suapin deh.” Kali ini sambil menuntunku duduk, dia membuka bungkusan yang dibawanya. Bubur ayam dengan wadah styrofoam bercapkan warung favoritku. Ah, Teteh tahu sekali. Perlahan-lahan mood-ku membaik. Sesuap demi sesuap hingga tandas.
“Katanya sakit, makan bubur sampai bersih gini. Beneran sakit nggak nih?” candanya.
Sakit hati mbak. Kataku dalam hati. Tapi aku tersenyum tipis saja.
“Ini kubawain buku yang sudah lama pengen kamu pinjam.” Sebuah buku tebal diangsurkan kepadaku.
Aku menerimanya dan menaruhnya di atas meja samping tempat tidurku.
“Lagi nggak mood baca buku,” jawabku malas. Sementara dari tadi Teh Pipit tampak bungah, senyum-senyum melulu.
“Oiya, aku ada kabar baik nih. Kamu jangan kaget ya,” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah undangan berwarna coklat berhiaskan batik. Tampaknya sebuah undangan pernikahan. Mataku langsung tertuju pada dua nama yang tertera dengan warna emas.
Satria Elang Pamungkas & Sabrina Pitaloka
Rupanya ini skenario Allah dalam menyempurnakan hijrahku. Calon suami yang selama ini diceritakan oleh Teh Pipit adalah Elang! Yang jelas, aku tak lagi terbelenggu perasaan itu lagi. Teh Pipit jauh lebih baik dariku, dan memang Elang lebih cocok dengan Pipit. Karena keduanya sama-sama makhluk yang terbang bebas di alam luas. Bukan makhluk rumahan yang banyak berdiam di kandangnya. Aku akan berusaha untuk turut bahagia untuk mereka berdua. Sebagaimana sunggingan senyum yang biasa Teh Pipit berikan padaku, aku berusaha membalasnya dengan senyuman terbaikku.
“Barakallah ya, Teh. Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.” Sulit sekali menahan air mata ini supaya tak tumpah.
Baru setelah Teh Pipit pulang, bendungan air mataku jebol.
***
Sementara, aku tak pernah tahu, ada sebuah surat tergeletak di kamar Elang. Sebuah surat yang tak pernah tersampaikan. Yang baru bertahun-tahun kemudian, aku membacanya. Yang menyampaikannya? Teh Pipit yang datang padaku sambil terus-menerus meminta maaf. Sambil tersedu-sedu ia bilang padaku bahwa surat itu ditemukannya secara tak sengaja.
Kepada :  Yth. Fatma Anindara
Assalamu’alaikum,
Perkenalkan, aku Satria Elang Pamungkas. Kita pernah sekelas, dulu sekali. Kau pasti tahu itu. Temanku memberi tahuku, kau sering memperhatikanku saat di kelas, terutama saat aku mengajukan pertanyaan. Tahukah kau, itu membuatku semakin bersemangat mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada pertemuan selanjutnya.
Aku juga tahu, kalau kau adalah orang yang sering kali duduk di bangku depan gedung fakultas ketika aku lewat. Aku jadi sering bermuroja’ah gara-gara aku tahu bahwa kau memperhatikanku. Aku menundukkan pandanganku, karena kau di situ.
Hari di mana aku terakhir melihatmu di depan gedung fakultas adalah hari dimana aku mempelajari hadist “Innamal a’malu bin niyaat...” secara benar-benar menyeluruh. Kebetulan sekali, saat itu. Aku diberi amanah yang lebih oleh kepengurusan pusat.
Aku benar-benar tak ingin lagi untuk sekadar kau perhatikan karena aku takut. Aku takut, aku menjadi baik karenamu, bukan karena-Nya. Aku takut, kamu berubah karenaku. Bukan karena-Nya. Berarti aku menduakan-Nya. Kau menduakan-Nya melalui perantaraku. Sementara Ia paling benci diduakan.
Maafkan aku. Sampai sekarang aku tak melamarmu karena aku tak yakin rasaku padamu adalah karena-Nya. Aku akan melamarmu kalau aku bisa pastikan hal itu.
Wassalamu’alaikum”[]


Izzuddin Ar Rifqiy adalah anggota FLP Jakarta.
Cerpen: Berubah? Yang Benar Saja, Hijrah! Cerpen: Berubah? Yang Benar Saja, Hijrah! Reviewed by ADP on 3:55 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.