Bukan Cinta Biasa



“Sejak dahulu begitulah cinta, deritanya tidak akan berakhir.” 

Pada dasarnya cinta tidak pernah basi untuk diceritakan. Banyak sekali (kalau tidak mau dikatakan semua) cerita-cerita yang berkisah tentang cinta. Dari Panglima Tianfeng dan Dik Chang’e, Rama dan Sinta, Romeo dan Juliet, Zainuddin dan Hayati sampai Bang Ocid dan Munaroh. 

Salah satu kisah cinta yang juga menginspirasi adalah Kisah Qais dan Laila karya Syaikh Nizham Ganjavi.

Alkisah seorang pemuda kepala suku Bani Umar yang bernama Qais jatuh cinta kepada Laila putri seorang kepala suku tetangga sebelah. 

Seperti kisah cinta yang lain, cinta Qais dan Laila inipun tidak berjalan mulus. Orang tua Laila tidak merestui hubungan keduanya. Laila dikurung dirumahnya tidak diperkenankan bertemu Qais.

Ketika Laila hilang, Qais pun merana. Ia berlari kesana kemari mencari Laila sambil berteriak memanggil Laila. Qais menggubah syair untuk Laila dijalan-jalan. Dan menanyakan dimana Laila pada setiap orang dipasar-pasar. Tetapi tak ditemukannya Laila. Hatinya sedih, jiwanya gelisah. Qais tak dapat tidur, tak enak makan. Tak suka bicara. Hanya Laila yang keluar dari mulutnya. Qais juga tidak mau mendengar apa-apa, kecuali tentang Laila. Tetapi Laila tetap tak ditemukan. 

Qais tidak peduli dengan dirinya dan sekitarnya. Bajunya mulai robek-robek. Dekil. Sedangkan tubuhnya menjadi kurus tinggal kulit membalut tulang. Ia hanya berbicara mengenai Laila. Ia telah terbakar dalam cinta Laila. 

Maka orang-orang menganggap Qais sudah gila. Sehingga disebutlah Qais sebagai Majnun.



Kisah cinta Qais dan Laila atau disebut juga kisah cinta Laila Majnun ditangan Syaikh Nizami bukanlah kisah cinta biasa. 

Ini adalah sebuah kisah sufistik yang sarat ibarat.

Qais adalah gambaran seorang salik yang mencapai tahap Jazb. Ialah sebuah tahap keterpesonaan seorang hamba dengan Tuhannya. Itulah sebabnya ia disebut Majnun. Sedangkan Laila(Malam) adalah misteri.

Melalui syair-syair yang digubah oleh Syaikh kelahiran Azerbaijan ini, dalam Laila Majnun kita akan disuguhi oleh tamsil-tamsil kenikmatan berkasihan dengan yang Maha Misteri. Karena menurut Rumi, cinta Laila dan Majnun telah melampaui dunia fisik.

Dalam ‘kegilaannya’ akhirnya Majnun menemui rumah Laila. Dengan penjagaan yang sangat ketat, akhirnya Majnun hanya bisa memeluk anjing penjaga rumah Laila. 

Seseorang yang melihatnya, berkomentar,”hai Orang Gila! Apa yang kau lakukan? Tidakkah engkau lihat bahwa anjing selalu makan kotoran? Tidaklah engkau berpikir sebelum menciumnya?”

Maka jawab Majnun,”Engkau tidak mengerti dengan apa yang aku lakukan. Pemahamanmu hanya terbatas kepada hal-hal wujud figur atau jasad. Lihatlah anjing ini dari kedua mataku. Didalamnya ada misteri Ilahi yang tak kau pahami. Ini adalah anjing penjaga rumah Laila. Allah menganugrahinya kekayaan cinta dan kesetiaan dalam sanubarinya. Ini adalah Kitmirku, yang kepadanya aku berbagi suka maupun duka.”

Ini pula yang dipahami oleh Laila.

Ketika seorang Sultan bertemu dengan Laila, maka Sultan pun berkomentar,”Inikah Laila yang menjadikan Majnun tergila-gila kepadanya? Kau tak lebih dari selir-selirku.”

Maka jawab Laila,”Diamlah jika kau bukan Majnun! Sebab, bagi yang belum mencapai cinta itu, Laila tak lebih hanya sebuah wujud biasa.”

Laila dan Majnun sudah tidak melihat lagi hal hal yang bersifat fisik. Kegagahan dan kecantikan sudah tak ada dalam kamus cinta mereka. Walau secara fisik mereka terpisah, tetapi hakikatnya mereka menyatu.

Laila dan Majnun adalah satu. Jika Laila adalah keindahan, maka Majnun adalah kesetiaan. Laila menaburkan benih cinta dan Majnun yang menyiramnya dengan airmata. 

Jelas cinta Laila Majnun jauh berbeda dengan cinta Panglima Tianfeng yang menderita karena cinta. Dalam mencintai Laila, Majnun tidak merasa menderita. 

Inilah jawaban Majnun ketika Tabib yang memeriksanya akan melakukan operasi.

“Aku tidak takut dengan pisau bedah. Setiap orang tahu akan kesabaran dan keteguhanku menghadapi penderitaan. Aku adalah pengembara dan tubuhku tidak tenang tanpa hempasan. Aku adalah seorang pecinta dan luka-lukaku adalah obatnya. Namun seluruh keberadaanku terisi oleh Laila. Badanku adalah cangkang yang berisikan Mutiara itu. Yang aku takutkan Tabib, apabila kau akan membedahku, kau akan melukai Laila dengan pisau bedahmu. Sungguh setiap orang Arif tahu tidak ada perbedaan antara aku dengan Laila.”

Inilah yang dirasakan seorang hamba yang mencintai Tuhannya. Ia tidak akan pernah menderita dengan segala pengorbanannya. 
 
“Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya dalam mencari Ridha Allah. Dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-Nya.” (QS Al Baqarah 207)
Bukan Cinta Biasa Bukan Cinta Biasa Reviewed by Ahmad Lamuna on 5:14 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.