ALHIKAM KAIDAH PERTAMA #bagian satu

TASAWUF – Kajian Al-Hikam Ibnu Athaillah Assakandary
Syarah KH. Imron Jamil
Ditulis oleh Sayuda Patria

KAIDAH PERTAMA #bagian satu
Tasawuf mengajak pengikutnya untuk merasakan. Ibarat minum air, jika hanya dibayangkan maka tak akan terasa menyegarkan. Apalagi jika hanya diamati, sama sekali tak bermanfaat. Pun jika Anda ingin mempelajari Al-Hikam hanya karena sekadar ingin tahu, maka posisi Anda sama dengan orang yang hanya mengamati. Masuklah di dalamnya, teguklah samudera ilmu-Nya, dan rasakan kesegarannya.

Landasan awal untuk memahami Al-Hikam adalah keyakinan kuat bahwa tiada Tuhan selain Allah Subhanahu wata’ala. Hal ini menyangkut soal ketergantungan manusia: I’timaad

مِنْ عَلَامَةِ الْاِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ
Di antara tanda ketergantungan orang terhadap amal adalah hilangnya harapan ketika muncul kesalahan.

I’timaad adalah pijakan, bisa juga disebut fondasi. Seseorang yang i’timaad alal amal artinya ia menggantungkan diri kepada pekerjaan (amal). Contoh, kalau saya bekerja keras maka saya akan sukses, kalau saya beramal sungguh-sungguh maka saya akan masuk surga. Inilah yang namanya mengaitkan amal dengan hasil. Jika diamati sekilas seakan perumpamaan ini benar, sama halnya dengan rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya. Namun akan jadi masalah jika dibenturkan dengan permasalahan tauhid.

Pahamkah Anda bahwa amal itu adalah makhluk? Makhluk itu ya makhluk, bukan Khaliq. Karena bukan Khaliq maka amal itu tidak dapat berbuat apa-apa, tidak dapat membekaskan apa-apa, dan tidak akan pernah memunculkan apa-apa.

Jika dikaitkan dengan hukum sebab dan akibat, maka yang terjadi bukanlah sebab yang memunculkan akibat. Tapi sebab itu adalah makhluk dan akibat itu juga makhluk yang lain. Dua hal yang berbeda. Ini hanyalah kebiasaan Allah yang menciptakan sesuatu berpasang-pasangan, seperti siang dan malam, pria dan wanita, dan sebagainya.

Bukan sebab yang membuat akibat, bukan bekerja yang membuat kita sukses, tapi bekerja itu ciptaan Allah, sukses juga ciptaan Allah, oleh Allah keduanya digandengkan. Buktinya apa? Suatu ketika Allah tidak memasangkan keduanya. Pernahkah Anda amati seseorang yang bekerja sangat keras namun hasilnya biasa-biasa saja? Pekerjaan itu tidak membuatnya kaya. Ini karena sebab dan akibat ikatannya (gandengannya) diputus oleh Allah. Di waktu yang lain, terkadang Allah hanya memunculkan akibat, dan sebabnya menjadi rahasia Allah.

( 26 )   Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
( 27 )   Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)".
(QS. Ali Imran 26-27)

Semua itu adalah kuasa Allah, semua atas kehendak-Nya. Kalaupun ada orang yang berkuasa, maka itu atas kehendak Allah. Terserah ia orang yang belum dikenal oleh masyarakat, tak pernah muncul di dunia perpolitikan, jika sudah diberi kekuasaan, maka itulah kehendak Allah. Begitu pun jika ada seorang pemimpin yang dilengserkan, itu juga atas kehendak Allah.

Maka pijakan kita hendaklah kepada Allah. Inginkah Anda mengambil pijakan kepada sesuatu yang berubah-ubah? Bagaimana jika sesuatu itu berubah, apakah Anda juga akan mengubah pedoman Anda? Pijakan Anda? Semua yang tercipta di bumi ini adalah relatif, tak ada yang pasti. Yang pasti hanyalah Khaliq, adapun makhluk maka semuanya relatif.

Seseorang yang menggantungkan dirinya kepada amal, maka ia akan terombang-ambing oleh amalnya sendiri. Ia hanya akan berkutat dari amal satu ke amal yang lain. Ia disibukkan oleh amal yang sifatnya fisik belaka. Tentu saja yang fisik itu penuh dengan kekakuan. Teori-teori eksak pun bermunculan, orang-orang saling klaim jika teorinya adalah jalan menuju kesuksesan, bahkan ada yang menghakimi diri sebagai orang yang gagal karena jalan amal yang dilaluinya itu salah. Seakan sudah tidak ada harapan lagi untuk maju. Mereka lupa dengan kekuasaan Allah yang dapat menarik semua menuju kesuksesan, kesuksesan yang tak bersebab, kesuksesan yang tak berakibat. Inilah tauhid sejati.

Kemudian timbul pertanyaan, jika pekerjaan (amal) itu tak ada nilainya, mengapa banyak perintah yang menuntut kita untuk bekerja keras? Bahkan di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan kita adalah untuk beribadah. Sedangkan korelasi ibadah adalah beramal sebanyak-banyaknya. Bukankah ini bertolak belakang?


Perlu dipahami, ketika seorang hamba dituntut oleh Tuhannya untuk melakukan suatu pekerjaan (ibadah), baik itu yang fardhu ain (shalat lima waktu, dsb.) ataupun fardhu kifayah (shalat jenazah, buka toko buku, dsb.) kemudian ia menaati perintah itu, pada saat itu ia menjadi disayang oleh Allah Subhanahu wata’ala. Sementara pada saat yang sama ia juga dituntut untuk tidak menggantungkan keberhasilan amal itu kepada amalnya. Artinya, hasil dari amal itu jangan dikaitkan dengan pekerjaan yang dijalankan. [sp]
ALHIKAM KAIDAH PERTAMA #bagian satu ALHIKAM KAIDAH PERTAMA #bagian satu Reviewed by Sayuda Patria on 3:57 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.