Tasawuf - Sebuah Pengantar

TASAWUF – Kajian Al-Hikam Ibnu Athaillah Assakandary
Syarah KH. Imron Jamil
Ditulis oleh Sayuda Patria

SEBUAH PENGANTAR
Tasawuf secara umum. Banyak yang mempertanyakan, sumber tasawuf itu dari mana? Bahkan banyak orang cenderung mencurigai praktik tasawuf, apakah tasawuf itu berasal dari agama lain dan melenceng dari ajaran Rasulullah?

Ini lumrah karena barang itu jika baik pasti banyak imitasinya. Anda dapat melihat itu di sekitaran Anda, barang yang sudah punya merek bagus tentu akan banyak pula imitasinya. Permasalahan akan timbul ketika ada orang meneliti dan kebetulan yang diteliti adalah produk tasawuf yang imitasi, dan ini banyak, maka orang akan menilai bahwa tasawuf itu melenceng, hanya karena contoh yang imitasi tersebut.

Sehingga mempelajari tasawuf harus dengan metodologi. Pertanyaannya metodologi seperti apa? Apakah dengan ilmu (pengetahuan) yang menggunakan pengamatan, observasi, dan hipotesa? Atau menggunakan batasan hukum akal yang senantiasa bertanya-tanya tentang sebab dan akibat. Akal itu ingin selalu meneliti dan menyimpulkan, menggunakan beberapa term dari berbagai kesimpulan menjadi kesimpulan akhir.

Contoh: setiap orang butuh makan, ini data pertama, kemudian ada data lain yang mengatakan bahwa hewan juga butuh makan. Maka manusia sama dengan hewan. Kesimpulan tersebut namanya hasil analisa akal. Karena bahan awalnya melenceng dan cara menyimpulkannya salah maka kesimpulannya pun adalah kesimpulan yang salah. Bukan demikian cara menggali tasawuf.

Kekuatan ketiga yang mungkin pas ialah ruh. Istilah ruh adalah akunya sendiri-sendiri. Ruh di sini bukan bermakna nyawa, karena jika demikian yang terjadi adalah nyawaku, bukan aku. Ruh adalah ruh, jati diri kemanusiaan.

Contoh: jika akal bertanya, kapan Anda mengenal kata aku? Tentu tak perlu akal untuk menggali akunya Anda. Karena aku sudah sangat jelas, tak perlu dicari pun sudah ketemu. Prosesnya menggunakan ilham.

Ilmu dalam arti pengetahuan. Jika Anda ingin mengenal tasawuf yang menggunakan pengetahuan, maka pengamatan tahu itu sendiri hanya akan sampai menjangkau kulitnya saja. Jika Anda melihat orang dengan pakaian kumal, sarungnya jelek, jarang mandi, tidak pernah menggunakan teknologi, ini adalah bentuk penampilan lahir, lantas Anda simpulkan bahwa ini tasawuf. Bukan demikian.
Melihat tasawuf bukan dengan kelihatannya, katanya, kabarnya, Anda akan tertipu jika itu yang Anda lakukan. Ibarat Anda melihat film yang menampilkan tokoh, Sunan Kalijaga misalnya, kemudian Anda menyimpulkan bahwa itu adalah Sunan Kalijaga, padahal bukan ia Sunan Kalijaga, ia hanya sebatas pemeran Sunan Kalijaga.

Ada juga yang menggunakan hukum akal yang disebut logika untuk memasuki lautan tasawuf yang tak terbatas itu. Menyimpulkan sesuatu dengan hal-hal yang pasti dan terukur oleh akal. Jika melakukan A kemudian ketemu B maka hasilnya pasti C, dan begitu seterusnya. Maka kemampuan akal hanya mampu mengamati materi lahir.

Contohnya ada satu lidi, kemudian ada lidi yang lain. Kemudian disimpulkan satu lidi ditambah satu lidi hasilnya dua lidi. Inilah keterbatasan akal yang sangat bergantung pada materi. Bahan tasawuf bukan materi, namun sesuatu yang ghaib yang di luar awang-awang yang tak terbatas. Ibarat ingin mengarungi seluruh dirgantara namun hanya menerbangkan layang-layang. Tentu tak mungkin bisa menggapainya.

Tasawuf adalah alam di balik alam kemanusiaan itu sendiri, yang itu terkait erat dengan cahaya kenabian, alam wahyu, alam ghaib, alam inti manusia yang merupakan rahasia Allah Subhanahu wata’ala. Jika dipahami dengan akal maka yang terjadi adalah penyempitan persoalan manusia itu sendiri.

Begitu luasnya tasawuf, yang dapat merasakannya hanya segelintir. insya Allah di dalam kitab al-Hikam ini akan dijelaskan hal-hal yang mungkin bertentangan dengan kesimpulan akalnya orang kebanyakan. Yang salah bukan akalnya, namun bahan untuk menyimpulkannya itu yang kurang pas. Contoh, orang yang usahanya rajin adalah yang sukses dan berhasil jadi orang kaya. Ada sebab namanya usaha ada akibat namanya kaya. Akhirnya disimpulkan bahwa kaya itu karena usaha. Kemudian dikampanyekan, kalau tidak mau usaha maka tidak akan pernah kaya.

Jika melihat tasawuf dengan pemahaman seperti di atas, maka tak akan pernah pas karena tasawuf berawal dari pemahaman iman. Sementara iman jelas rukunnya ada 6 termasuk iman kepada Qadha dan Qadar. Yang mana segala apa yang kita lakukan di dunia ini telah ditentukan oleh Allah, sedangkan bekerja, usaha, ikhtiar, beribadah adalah perintah. Berhubung awalnya sudah keliru (sebab dan akibat), maka kesimpulannya pun menjadi kesimpulan akal, bukan kesimpulan iman.

Iman mengatakan bahwa soal sukses tidak sukses adalah perkara ketentuan Allah. Ini bahan awal. Bahan kedua, pekerjaan, amal, ikhtiar, ibadah adalah perintah. Jadi munculnya berbeda. Beda kabelnya, jika disambungkan akan korslet. Jika orang sudah korslet dalam tataran iman, maka hidupnya akan melingkar-lingkar dari satu usaha ke usaha yang lain, akhirnya menyalahkan takdir yang diberikan oleh Allah.

Maka kenikmatan bukan soal usaha Anda. Bukan soal nafsu Anda yang menggebu-gebu mencapai kenikmatan tersebut. Karena ruhani akal punya sesuatu yang tak terbatas, sedangkan akal itu sangatlah terbatas. [sp]
Tasawuf - Sebuah Pengantar Tasawuf - Sebuah Pengantar Reviewed by Sayuda Patria on 5:46 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.