Perkataan yang Baik



Oleh Rahmat Zubair


Semakin berumur dunia ini, maka semakin lemah pula ia. Menjadi demikian, tentu saja bersebab ulah tangan manusia yang dengan seenaknya merusak tanpa melakukan suatu ishlah(perbaikan). Mereka mengikuti hawa nafsunya kemanapun ia pergi. Dan bentuk kerusakan paling besar yaitu ada pada moral atau yang kita sebut dengan akhlaq. 

Namun, mari kita simak pandangan Ustadz Muhammad Fauzil Adhim. Beliau pernah mengungkapkan bahwa seburuk-buruknya zaman saat ini –sebagaimana yang kita rasakan, maka masih tetap saja ada suatu zaman di mana masa itu menjadi seburuk-buruk zaman. Zaman yang dikuasai oleh kebodohan, hingga membawa segala bentuk kezhaliman yang menghancurkan peradaban itu sendiri. Kapankah itu? Ya, itulah zaman jahiliyah; zaman sebelum diutusnya Rasulullah SAW sebagai penyempurna akhlak manusia, beserta turunnya Alqur’an yang menjadi pedomannya.

Tentu saja, syukur patut terpanjatkan di setiap embus napas kita. Sang teladan ini telah menyontohkan budi pekerti yang luhur dan beradab, sesuai dengan apa yang terkandung dalam kitab samawi  terakhir ini. Sungguh betapa mengagumkan, ketika Ibunda orang-orang mukmin Aisyah RA pernah ditanya tentang bagaimana perangai sang Rasulullah SAW. Dan yang mengejutkan, beliau RA menjawab dengan singkat padat, “Perangainya adalah Alqur’an.”

Dari ungkapan ini, tentu saja bisa kita maknai bahwa apa yang terkandung di dalam Alqur’an sudah banyak mengubah dunia yang jahil menjadi zaman yang penuh adab dan santun. Keyakinan bahwa tidak adanya keraguan sedikitpun di dalamnya kini pun harus semakin kuat. Dan semoga saja itu bisa menjadi penambah ketaqwaan kita agar bisa menjadi muslim yang muttaqiin.

 Sekarang, mari sejenak kita renungkan sedikit dari beberapa potongan ayat yang menjelaskan tentang tata karma atau adab dalam berinteraksi antar manusia. Sebagaimana firman Allah SWT yang dingkapkan dalam surat Al-Baqarah ayat 83, Dan katakanlah kepada manusia dengan perkataan yang baik.Sebenarnya, ayat yang turun di Madinah ini menunjukkan suatu perintah kepada Bani Israil.

Namun, dikaitkan lagi dengan potongan ayat lain sebelumnya yang turun di Mekah, yaitu dalam surat Al-Isra ayat 53 yang artinya, Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” Jadi, inilah bukti yang menjadi dalil atas perintah berakhlaq baik terutama ketika kita berkata atau berbicara kepada orang lain.

Kemudian, sekiranya seperti apakah bentuk dari apa yang dimaksud dengan perkataan yang baik?

Dr. Umar bin Abdullah Al Muqbil dalam kitabnya Qawa’idun Qur’aaniyyatun, 50 Kaidah Qur’an dalam Diri dan Kehidupan, ada beberapa kategori dari apa yang dimaksud dari perkataan baik:

1.       Qaulan Baliigha atau perkataan yang dimengerti. Rasanya akan sulit untuk berinteraksi dengan manusia jika kita berbicara dengan perkataan yang sulit untuk dimengerti. Bagi seorang Da’i, bagaimana mungkin dakwah itu bisa sampai kepada ummat jika pejuang dakwah itu sendiri belum mampu menyampaikan risalah itu dengan perkataan yang baik dan mudah dipahami. Atau, bisa jadi jika hal ini justru akan menyebabkan terjadinya gesekan antara kedua belah pihak bersebab adanya misscommunication antara seseorang dengan yang lainnya. Oleh karenanya, gunakanlah bahasa yang ringan dan yang paling mudah dimengerti oleh lawan bicara. Agar apa yang ingin disampaikan bisa diterima oleh objek bicara.

2.      Qaulan Ma’ruufa, yaitu perkataan yang tidak menyakiti lawan bicara. Sebuah pepatah mengungkapkan, “Tergelincirnya kaki itu jauh lebih baik dari tergelincirnya lidah.” Rasulullah SAW sendiri juga sudah memperingatkan kita akan bahaya dari perkataan yang buruk. Sebagaimana sabdanya, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.”  Hanya ada dua pilihan yang diajarkan oleh baginda Rasulullah SAW. Pertama, berkata baik. Dan jika tidak bisa melakukannya, maka pilihan terakhir adalah diam. Karena diam itu sendiri menjadi ribuan kali lebih baik dari pada perkataan yang bersifat laghwun dan menyakiti.

3.      Qaulan Kariima atau perkataan yang mulia. Contoh ini bisa ditunjukkan kepada orang-orang terdekat kita seperti orangtua. Perkataan ini tidak berbentuk seperti sebagaimana yang kita biasa ucapkan kepada kerabat, kepada anak-anak, atau yang berupa dalil-dalil. Hal semacam itu bernilai buruk di hadapan orang tua. Mengapa harus perkataan yang mulia? Tentu saja karena orangtua adalah sosok yang berhak atas suatu penghormatan. 

4.       Qoulan Maisuura atau perkataan yang pantas. Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 28, “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka perkataan yang pantas.”  Perkataan ini bisa digunakan jika ada seseorang yang ingin mengajak kita kepada keburukan. Kita memang wajib menolak jika memang ajakan itu mengandung suatu maksiat. Namun, sekali lagi dengan indah Alqur’an mengajarkan kita bagaimana bersikap terhadap orang-orang yang seperti ini. Anggap saja dia hanya bercanda, atau sedang tidak berkata serius. Maka dengan itu, cukuplah kita tolak dengan kata yang pantas, dan tidak kasar.

5.       Adapun yang disebut Qaulan Layyina yaitu perkataan yang lembut. Dalam Alqur’an telah dijelaskan bagaimana Allah SWT menyuruh Nabi Musa AS dan saudarana Harun AS agar mereka menyeru Fir’aun dengan perkataan yang lembut. Karena bisa jadi –sebagaimana yang diharapkan- dia (Fir’aun) bisa sadar dan takut hingga kembali kepada jalan Allah SWT. Inilah yang menjadi salah satu kunci agar bisa memikat hati objek dakwah. Karena dengan begitu, bisa jadi hatinya luluh dan mau mengikuti seruan dakwah kita.

Inilah beberapa contoh dari perkataan baik sebagaimana yang tercantum dalam ajaran Alqur’an. Dengan penuh ketelitian dan rinci, kitab ini sudah mengatur pola hidup kita agar menjadi manusia-manusia unggul dengan akhlak yang mulia. Akhlaqul kariimah atau akhlaq mulia, tak ada seorangpun yang tak ingin memilikinya. 

Jangankan kita sebagai orang biasa, Ibnul Mubarak sekalipun pernah mengungkapkan sebagaimana kutipan yang tertuang dalam kitabnya, Ghayatun Nihayah fi Thabaqatil Qurra, bahwa beliau mengkhususkan dirinya belajar akhlaq selama 30 tahun. Barulah kemudian ia mempelajari ilmu pengetahuan lain selama 20 tahun.

Ataukah kisah teladan yang indah dari seorang ulama yang namanya selalu dikenang oleh masa. Dialah Imam Ahmad. Beliau mengadakan majlis ilmu yang dihadiri oleh sekitar 5.000 orang. Yang belajar hadist darinya sekitar 500 orang. Dan sisanya, mereka justru belajar akhlaq kepada beliau. 

Benarlah suatu hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaqnya.” Dan untuk mengawalinya, kita ubah dari cara bagaimana menjaga lisan. Karena ialah yang paling sering tergelincir. Sesungguhnya, potongan kecil dari ayat Wa Quuluu Linnaasi Husnaa sudah sangat mendidik kita terutama dari segi menjaga akhlaq mulia. Wallahu a’lam bisshawaab.



Perkataan yang Baik Perkataan yang Baik Reviewed by Ahmad Lamuna on 8:04 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.