Mengislamkan Mahabarata



Akhir-akhir ini terjadi polemik antara Imam Besar FPI Habib Riziq Shihab dengan Bupati Purwakarta. 

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ‘menyarankan’ Imam Besar FPI Habib Riziq untuk meminta maaf kepada Masyarakat Pasundan terkait dengan salam Sampurasun yang dijadikan bahan ceramah oleh Habib yang sering dibully di media sosial ini.

Alih-alih minta maaf, Habib justru menuduh Bupati yang naik menjabat saat umurnya 37 tahun itu sebagai Bupati penebar Syirik. Silakan baca link berikut di sini.

Isu perbenturan antara adat dengan sara adalah isu  yang seksi dan berpotensi mengudangan konflik horizontal.

Semestinya para dai sadar dan teringat rambu-rambu da’wah yang digariskan Allah dalam surat Al Anam
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Al Anam : 108)

Para Kanjeng Sunan adalah contoh yang baik dalam hal membersihkan kemusyrikan dalam masyarakat. Ialah terkait kasus Mahabarata.

Epos Mahabarata merupakan karya sastra kuno yang sebenarnya sudah melegenda di Masyarakat. Epos ini diperkirakan ditulis pada sekitar abad ke-4 sebelum masehi. Bahkan di Indonesia, mahakarya ini disadur dalam banyak karya sastra berupa: Sastra Parwa(Prosa) maupun  Kakawin(Puisi). Misalkan Kakawin Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa, Kakawin Baratha Yudha oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh.

Islam diturunkan bukan untuk mengganti tradisi masyarakat. Akan tetapi Islam diturunkan adalah untuk menyempurnakan tradisi masyarakat yang sudah ada.

Hal ini sepenuhnya disadari oleh para Kanjeng Sunan. 

Kisah Mahabarata pada masa Kanjeng Sunan, dapat dinikmati oleh masyarakat melalui pertunjukan wayang beber. Tentu tidak serta merta para kanjeng Sunan melarang masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.

Maka jalan yang ditempuh para Kanjeng Sunan adalah dengan mengislamkan pertunjukan wayang itu sendiri.

Berikut ini adalah perubahan-perubahan yang dilakukan oleh kanjeng Sunan dalam menyesuaikan pertunjukan wayang sehingga sesuai dengan Ajaran Islam

Berdasarkan hadist "Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat, dan dikatakan kepada mereka, "Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan."

Perubahan pertama yang dilakukan oleh kanjeng sunan adalah melakukan distilisasi bentuk wayang. Yaitu pengubahan bentuk/gayanya dengan memasukan unsur-unsur estetis sehingga menjadi kehilanganan kesan 3 dimensinya. Awalnya bentuk wayang itu seperti bentuk manusia, maka agar tak menyalahi hadits tersebut, lalu oleh kanjeng sunan bentuk wayang tersebut diubah sehingga tidak seperti manusia. Misalkan tangannya diperpanjang sampai lutut, matanya dibuat seperti bulir padi (gabahan), seperti kedele (kedhelen), atau seperti buah kedondong. Begitu juga bentuk hidung, mulut, wajah, bahu, maupun badan mengandung unsur-unsur estetis dengan aturan-aturan tertentu.


Perubahan berikutnya adalah dari ceritanya.

Pertama adalah tentang Para Dewa.

Kanjeng Sunan mengubah ‘konsep’ dewa dalam pewayangan. Dewa tidak digambarkan sebagai dewa dalam arti tuhan. Tetapi dewa dalam pewayangan adalah merupakan manusia biasa keturunan Nabi Syits. Yang berputra Sayid Anwar, berputra Sang Hyang Nurasa, berputra Sang Hyang Wenang dan menurunkan para dewa.

Kemudian perubahan Para Pandawa.

Pada Epos Mahabarata versi India disebutkan kisah polandri dari para Pandawa. Dewi Pancali atau Dewi Drupadi menikahi kelima pandawa. Hal ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Maka dalam Mahabarata versi Kanjeng Sunan, hal ini diubah. Dewi Drupadi hanya menikahi Yudistira saja.

Kemudian karakter Pandawa lima. 

1.       Yudistira alias Puntadewa. Dalam khasanah wayang versi Kanjeng Sunan, para Pandawa merupakan simbolisme dari Rukun Islam. Yudistira atau Puntadewa adalah symbol dari rukun Islam yang pertama. Karena senjata dari Yudistira adalah Layang serat Jamus Kalimasada(baca Kalimat Syahadat).
Dalam lakon carangan(cerita kreasi karya dalang) Sesaji Raja Suya disebutkan bahwa Layang Serat Jamus Kalimasada hilang ketika Pandawa membangun pertapaan Sapta Arga. Hal ini disebabkan karena nilai-nilai tauhid yang disimbolkan oleh Jamus Kalimasada itu telah hilang dari dalam diri para Pandawa.

2.       Bima. Merupakan simbol dari Shalat lima waktu. Bima mempunyai kuku yang disebut kuku Pancanaka, ialah kuku dari lima jari dan dijadikan satu.
Secara khusus Kanjeng Sunan membuat lakon carangan dengan judul Dewa Ruci. Yang menceritakan pengembaraan batin Bima kedalam dirinya sendiri. 

3.       Arjuna. Merupakan simbol dari puasa. Berbeda dari versi India yang menggambarkan Arjuna sebagai seorang yang gagah perkasa, Arjuna versi Kanjeng Sunan digambarkan sebagai seorang yang kecil, halus dan lembut. Arjuna disebut juga sebagai satria lelana ing jagat. Maksudnya bukan lelaki yang banyak istrinya, melainkan sebagai sorang lelaki yang rajin mengembara mencari Ilmu.

4.       Nakula dan Sadewa disimbolkan sebagai Zakat dan Haji. Karena Nakula dan Sadewa adalah dua saudara yang membangun negeri Amarta. Tidak pernah atau jarang ada cerita yang mengisahkan bahwa kedua saudara kembar ini meninggalkan negara Amarta.
Dalam Lakon Pandawa Ngenger disebutkan bahwa Nakula dan Sadewa menyamar sebagai tukang kebun dan peternak di negri Wirata.
Mengislamkan Mahabarata Mengislamkan Mahabarata Reviewed by Ahmad Lamuna on 2:53 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.