Jangan Takut


Oleh Rahmat Zubair





Sebuas-buasnya seekor buaya, ia tak akan pernah tega menelan anaknya. Dan sekuat-kuatnya seekor gajah, ia pun tak akan pernah rela menginjak anaknya. Hakikatnya, semua mampu mereka lakukan jika mau. Tapi rahmat-Nya telah turun ke muka bumi hingga mencakup semua makhluk ciptaan-Nya tanpa terkecuali.


Sebagaimana firman Allah yang termaktub dalam surat Al-A’raf ayat 156,
Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
Maka dari itu, pembunuhan itu pun tak akan terjadi.

Namun ada yang berbeda dari salah satu kisah unik yang mengabadi dalam Alqur’an. Tak tanggung-tanggung, wanita  itu dengan perasaan penuh was-was dan cemas,  pergi menyelinap ke sebuah sungai dengan harap agar tak ada seorangpun yang melihatnya. Maka, di sanalah ia bisa menunaikan keinginannya. Apakah itu? Tanpa tega, ia membuang anaknya yang masih bayi!

Sungai terpanjang yang dikenal dengan nama Sungai Nil itu menjadi saksi atas kejadian yang benar-benar sakral. Hingga Allah SWT berkenan untuk menyinggungnya di dalam Alqur’an yang agung itu sebagai suatu kisah yang harus diabadikan dan menjadi pelajaran. Bayi itu dibiarkan hanyut sendirian mengikuti arus sungai. Betapa malang nasibnya.

Memang kejam. Hewan yang tak berakal saja tak pernah melakukan hal sekeji itu. Tapi, kenapa makhluk dengan penciptaan paling sempurna itu melakukan hal yang tak dilakukan oleh hewan?
Maka, di sinilah kita harusnya lebih banyak berpikir dan belajar. Tahukah kita, bahwa justru kejadian itulah yang membuat nasib sang bayi menjadi lebih baik. Tak seorangpun menyangka kalau ternyata bayi itu adalah orang pilihan yang menjadi utusan-Nya. Dan siapa yang bisa mengira kalau ternyata nasib bayi itu bukan mati dimakan buaya atau tenggelam di dasarnya. Beruntung sekali, bayi itu dipungut oleh wanita terkemuka pada zaman itu; istri seorang raja. Tak salah lagi, bayi itu adalah Nabi Musa AS.

Kemudian, pernahkah kita mendengar sebuah riwayat tentang Nabi Yusuf AS yang dijebloskan ke dalam sumur oleh saudaranya? Tak cukup sampai di sini cobaan yang menimpanya. Selain itu, Nabi Yusuf AS juga pernah difitnah dengan godaan seorang wanita, kemudian ia juga dipenjara. Dan masih banyak ujian demi ujian menimpanya. Lantas, apakah setelah kejadian-kejadian itu ia menjadi melarat?

Jawabannya tentu saja tidak. Kenyataanya, kisah ini tak berakhir terlalu tragis. Pada akhirnya, Nabi Yusuf AS pun diangkat menjadi salah satu pemegang kuasa tertinggi dalam kerajaan. Dari pahitnya perjalanan itu, ada hasil yang baik pula. Benarlah kalam Allah SWT dalam surat Ar-Rahman ayat 60, “Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan itu (pula).”

Dalam kisah lain yang tak kalah menarik yaitu tentang perjalanan Nabi Musa AS dengan gurunya, Khidir. Ada banyak kejadian-kejadian aneh ­–dengan segala keburukan-keburukan yang nampak- namun berisi hikmah yang belum diketahui oleh Nabi Musa sebelumnya.

Nabi Musa sempat protes akan tindakan Khidir yang menurutnya itu adalah suatu tindakan konyol dan salah besar yang mengandung dosa. Pertama, Khidir melubangi sebuah perahu agar perahu itu tenggelam. Kedua, ia membunuh seorang anak muda yang tak berdosa. Dan yang terakhir, adalah ketika keduanya sampai di suatu negeri, kemudian tak ada seorangpun dari penduduk yang ada untuk menjamunya. Maka ketika Khidir menemukan sebuah bangunan yang sudah lapuk dan hampir roboh, ia malah menegakkannya.

Mungkin jika melihat kejadian itu, bisa jadi anggapan kita juga serupa sebagaimana yang Nabi Musa AS pikirkan. Untuk apa seorang guru melakukan hal yang memang tak pantas untuk dilakukan? Apakah ia guru yang bodoh? Ataukah dia memang sudah gila? Tidak! Sama sekali tidak!

Inilah yang menjadi alasan mengapa Alqur’an sering kali menyuruh kita untuk lebih banyak berpikir daripada sekadar melihat, mendengar, apalagi berbicara. Kisah Khidir ini memberikan banyak pemahaman kepada kita tentang ilmu Allah yang tak mampu kita tandingi. Di balik suatu kejadian, pasti ada suatu ketetapan yang sudah Allah siapkan untuk kita. Dan tentu saja harus kita yakini bahwa itu memang yang terbaik.

Ada sebuah doa indah yang pernah dipanjatkan oleh seorang khalifah Islam, Umar bin Abdul Aziz tentang ketetapan Allah kepada hamba-Nya
                أللهم راضني بقدرك, و بارك لي في قضا ئك, حتى لا احب التعجيل ما اخرت و لا التأخير ما عجلت
"             Ya Allah, ridhoi aku dengan apa yang Kau takdirkan untukku, dan berkahilah aku dalam segala ketetapan-Mu. Sampai aku (benar-benar) tak mencintai disegerakannya sesuatu atas apa yang Kau tunda, dan tak pula menyukai ditundanya sesuatu atas apa yang Engkau segerakan.”  

Kita buka lagi ayat suci Alqur’an dalam surat Al-Baqarah ayat 216 yang artinya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu.”

Adapun sebagaimana yang diungkapkan dalam potongan ayat lainnya dalam surat At-Thalaq ayat 1, “Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru.”

Jelas sudah! Sungguh, kehidupan tak akan pernah lepas dari apa yang disebut fitnah atau cobaan. Semua manusia pasti merasakan pahitnya hidup. Alqur’an memberikan pesan positif yang membangunkan jiwa dari tidur dan jatuhnya. Bahwa sesungguhnya, tak ada kehilangan kecuali Allah telah merencanakan sesuatu yang jauh lebih baik untuk menggantikannya. Dan tak ada suatu kegagalan, kecuali Allah memang menginginkan nilai yang lebih tinggi setelahnya.

Oleh karenanya, tak perlu takut jika kita ditimpa musibah. Seberat apapun, jika kita bisa menanggapinya dengan baik, maka ia akan berubah menjadi lebih baik. Datangnya ujian bukan semata-mata untuk menjatuhkan kita. Melainkan ia datang untuk membuat kita paham, bahwa shiraathal mustaqim tak harus mulus. Tapi ia juga terjal, curam, dan berbatu. Laa takhaf!

Jangan Takut!
Jangan Takut Jangan Takut Reviewed by Ahmad Lamuna on 20.03 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.