Iqra bi Ismi Rabbika



Pada tulisan yang lalu telah disebutkan pentingnya kegiatan berpikir dalam ajaran Islam. Karena cara berpikir yang benar akan melahirkan pemahaman yang benar. Sedangkan pemahaman yang benar akan melahirkan tindakan yang benar.

Proses berpikir dalam hal ini yang dimaksud adalah proses pembacaan terhadap kejadian yang ada. Islam telah memberikan rambu-rambu yang lengkap bagi seorang muslim dalam hal bagaimana dia menggunakan pikirannya.

Prinsip pertama dari cara berpikir dalam Islam adalah  tercantum dalam surat Al Alaq ayat satu. 


Iqra bismi Rabbika al-ladzii khalaq
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Menciptakan.

Inilah cara berpikir yang benar.  Cara berpikir transenden. Bashirah Ilahiyah. Pisau analisa pertama seorang Muslim. Ialah membaca atas nama Tuhan yang telah menciptakan. 

Apapun kejadian yang dihadapi oleh seorang muslim, hendaknya dikaitkan dengan Agama sebelum dengan yang lain. Agama bagi seorang muslim adalah sebuah guide lines yang memandu dirinya dalam menjalani hidup. Agama bukanlah sebuah aksesori penghias KTP atau status seseorang. Tetapi agama adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya.

Agama(Ad Diin) memiliki makna ketaatan, pelayanan, undang-undang, peraturan, balasan.

Sedangkan makna Ad Diin menurut Al Maududi adalah sesuatu yang membuat seseorang tunduk dan patuh karena dipercaya menyejahterakan dan membuat seserang tidak berani melanggar atau menyimpang karena dipercaya akan akibat-akibatnya yang menyengsarakan.

Ad Diin itu harus lengkap dan menyeluruh. Tidak mungkin Ad Diin tidak lengkap dan menyeluruh karena menyangkut bahagia dan celakanya ummat manusia. Seandainya Ad Diin itu tidak lengkap, maka manusia akan selamat pada suatu tempat dan akan terperosok ke tempat yang lain. Artinya ia tetap tidak akan selamat.

Satu-satunya agama yang lengkap dan menyeluruh adalah Islam. Hasan Al Bana menyebutkan:
Islam adalah sistem menyeluruh yang mencakup seluruh kehidupan. Maka ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar.

Maka tidak dibenarkan bagi seorang muslim mencari referensi lain selain Islam. Entah itu pada hal yang bersifat pribadi, maupun pada masalah-masalah yang besar seperti bermasyarakat dan bernegara. 

Adalah sebuah kesalahan yang fatal apabila seorang muslim yang mengangap bahwa agama adalah ranah privat dan sekadar hubungan transenden antara manusia dengan Tuhannya. Sementara dalam berekonomi ia menggunakan sistem ekonomi ribawi. Ia juga memisahkan antara agama dan negara. Termasuk juga dalam bergaul dan berkeluarga.

Dalam bidang ilmu ia merujuk pada pendapat-pendapat manusia sebelum menggalinya dari petunjuk yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya (ini juga merupakan kesalahan fatal). Termasuk merujuk kepada pendapat-pendapat orang yang belum jelas wara’ dan taqwanya sebelum merujuk kepada pendapat-pendapat Ulamaa yang tsiqah terpercaya.

Maka ukuran cara berpikir seorang Muslim yang pertama adalah Al Quran. Kemudian hadits Rasul.
Al Quran adalah prinsip yang paling utama. Inilah sumber hukum Islam yang paling otentik dan terpercaya. 

Firman Allah:
“Inna nahnu nazalnaadz- dzikra, wa inna lahu lahaafizhuun” QS 15; 9
Kamilah yang menurunkan Peringatan(Al Quran) dan Kamilah yang akan menjaganya.

Maka inilah pegangan hidup. Inilah alat ukur yang mutlak yang menentukan apakah sesuatu itu sesuai dengan Islam, atau justru bertentangan. Apakah sesuatu itu haq ataukah bathil.
 
Maka barang siapa yang ingin mempelajari Islam yang sesungguhnya, maka pelajarilah  Al Quran. 

Sumber Rujukan yang kedua adalah As Sunnah. 

As Sunnah adalah : Maa atsiiru ‘anin-Nabiiyu shalaa-Allahu ‘alaihi wa sallam min qaulihi, aw fi’lihi, aw taqririhi.

Ialah segala sesuatu yang dibekaskan oleh Nabi Saw dari perkataannya, perbuatannya maupun pengakuannya.

Ini adalah rujukan kedua sesudah Al Quran. 

Firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” Qs An Nisa 59.

Penyebutan kata athi’u sebelum Allah dan Rasul-Nya menunjukan bahwa mengikuti Al Quran dan As Sunnah adalah sesuatu yang mutlak wajib. Apalagi hal ini diperkuat dengan kalimat “kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)”, makin memperkuat kedudukan Al Quran dan Hadits Nabi sebagai sumber hukum utama dalam Islam.

Bahkan hal ini merupakan salah satu syarat dari keimanan seorang yang mengaku Muslim. Maksudnya, seorang beriman adalah orang yang pikirannya juga beriman. Dan seorang yang pikirannya beriman adalah orang yang menjadikan Al Quran dan Hadits sebagai alur berpikirnya. (Bersambung)

image source http://xeecovers.com

Iqra bi Ismi Rabbika Iqra bi Ismi Rabbika Reviewed by Ahmad Lamuna on 17.35 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.