Ibnu Athaillah Assakandary

TASAWUF – Kajian Al-Hikam Ibnu Athaillah Assakandary
Syarah KH. Imron Jamil
Ditulis oleh Sayuda Patria

IBNU ATHAILLAH ASSAKANDARY
Adalah penulis kitab Al-Hikam yang sangat populer. Beliau mendapat gelar Taajuddin, riwayat ini diambil dari kitab Thabaqatus Syadziliyyah. Al-ustadz al-imam qudwul aarifin tarjumaanul washiliin mursyidussaalikiin munqidzul haalikiin  mudzhiru syumuusil ma’aarif wa mubdi asraaril lathaaif al-waashil ilallaah wal muwashil ilaihi Taajuddin. Yang tersebut barusan itu adalah julukan dan titel yang diberikan kepada Syekh Ibnu Athaillah oleh para ulama.

Al-ustadz berarti guru, al-imam berarti panutan, qudwul arifin artinya menjadi pusat orang yang makrifat, tarjumanul washilin artinya orang yang jadi juru bicaranya orang yang sudah wushul kepada Allah, mursyidussaalikin artinya pembimbing orang yang menuju perjalanan menuju Allah, munqidzul haalikiin artinya orang yang mengentas mereka yang sudah terjerumus kepada kerusakan, mudzhiru syumuusil ma’aarif artinya yang berhasil menampakkan matahari pengetahuan ruhani, wa mubdi asraaril lathaaif artinya yang bisa menampilkan rahasia-rahasia yang rumit yang orang lain jarang dan tak mampu menjelaskannya, al-waashil ilallaah artinya yang sudah sampai kepada Allah, wal muwashil ilaihi artinya dan mengantar juga murid-muridnya kepada Allah, dialah Taajuddin, sang mahkota agama.

Memiliki kuniyah Abul Fadhal. Kuniyah adalah kebiasaan yang terjadi di kalangan arab jika sudah terkenal dengan mencatut kata abu ditambah nama anak atau sesuatu yang disayanginya. Dan mereka senang jika dipanggil dengan nama kuniyahnya. Sebagai contoh adalah Ali bin Abi Thalib yang memiliki nama kuniyah Abu Thurab.

Nama aslinya adalah Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdurrahman bin Abdullah bin Ahmad bin Isa bin al-Husain bin Athaillah al-Judzami. Yang berarti beliau berasal dari kabilah Judzam yang bermadzhab Maliki. Assakandary adalah nama tempat tinggal beliau, Iskandariah Mesir. Beliau meninggal di Dusun Qarafi.

Beliau adalah seorang sufi sejati yang menganut thariqat Syadizli, pemimpin di zamannya yang berhasil mengumpulkan dan merangkum berbagai macam ilmu mulai dari tafsir, hadits, fiqh, tasawuf, ushul fiqh, nahwu, sharaf, dan sebagainya. Bahkan oleh gurunya mendapat julukan Muftil madzhabain, artinya beliau dapat memberikan fatwa terhadap dua madzhab yakni madzhab syariat dan madzhab hakikat.

Syekh Ibnu Athaillah Assakandary selalu berbicara tentang teori-teori dan jalan-jalan yang dialami oleh ahli tasawuf. Beliau adalah ahli mau’idzah, seorang kiyai yang sangat banyak pengikutnya, beliau juga mursyid thariqat Syadziliyyah, murid dari Abul Abbas Almarshi yang merupakan murid langsung dari syekh Abul Hasan Assyadzily. Sehingga beliau adalah cucu muridnya syekh Abul Hasan Assyadzily.

Suatu ketika syekh Ibnu Athaillah mendapati perselisihan antara dirinya dengan murid-murid syekh Abul Abbas Almarshi. Saat itu beliau belum menjadi ahli thariqat, beliau juga ingkar terhadap praktik tasawuf yang dipraktikkan oleh murid-murid dari syekh Abul Abbas Almarshi. Terjadilah perselisihan pendapat antara beliau dan salah satu murid syekh Abul Abbas Almarshi yang berujung pada ketidakberdayaan murid itu menjawab pertanyaan syekh Ibnu Athaillah.

Murid itu pun meminta syekh Ibnu Athaillah untuk bertemu gurunya, syekh Abul Abbas Almarshi. Murid itu menekankan bahwa dirinya hanyalah murid yang masih  belajar. Maka pergilah syekh Ibnu Athaillah kepada guru murid itu. Dalam hati beliau berkata, “Memang benar demikian, sudah seharusnya aku pergi bertemu syekh Abul Abbas Almarshi daripada harus berbantah-bantahan yang aku sendiri belum mengerti data-datanya.” Istilah orang sekarang adalah tabayyun. “Jika memang apa yang disampaikan syekh Abul Abbas Almarshi itu adalah haq, tentu Allah akan memberikan tanda-tanda-Nya kepadaku.”

Saat itu syekh Abul Abbas Almarshi sedang menerangkan tingkatan-tingkatan suluk. Syekh menerangkan materi itu panjang lebar saking sulitnya materi itu dipahami oleh orang awam. Syekh berbicara tentang kehidupan dan derajat-derajat suluk di mata Allah. Menerangkan tentang pengalaman dan pengetahuan yang dialami oleh orang yang suluk. Menerangkan tingkat kedekatannya orang yang suluk di hadapan Allah. Sampai pada penjelasan tentang Islam yang ditandai dengan derajat inqiyad atau tunduk di hadapan Allah, tha’aat atau taat kepada Allah, dan melaksanakan syariat. Selanjutnya tentang Iman, atau dikenal sebagai makrifat yakni mengenal hakikat syara’ dengan mengerti keharusan-keharusan hamba. Yang terakhir adalah Ihsan yaitu suasana ketika orang membuktikan kehadiran Allah di dalam hatinya.

Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa Islam adalah tentang ibadah, Iman adalah tentang ubudiyyah, dan Ihsan adalah tentang abuudah. Syekh Ibnu Athaillah pun menjadi yakin bahwa Abul Abbas Almarshi ini mendapat ilmu tidak semata dari kitab, tapi luberan dari samudera keilmuan Allah. Beliau mendapatkan berbagai pencerahan baru yang tidak didapatnya di kitab. Istilah-istilah yang disampaikan oleh syekh Abul Abbas Almarshi itu adalah istilah baru yang tidak pernah beliau temukan di kitab manapun. Akhirnya beliau menyimpulkan bahwa istilah itu datang dari Allah Subhanahu wata’ala. Yang tadinya berprasangka buruk, kini justru sebaliknya, syekh Ibnu Athaillah merasakan kecintaan kepada keilmuan syekh Abul Abbas Almarshi.

Akhirnya syekh Ibnu Athaillah berguru kepada syekh Abul Abbas Almarshi. Beliau merasakan kerinduan saat mendengar penjelasan dari syekh Abul Abbas Almarshi. Dan syekh Ibnu Athaillah pun dapat menguasai ilmu thariqat (batin) setelah sebelumnya telah menguasai ilmu syariah (lahir). Syekh Abul Abbas Almarshi itulah yang memberi julukan syekh Ibnu Athaillah sebagai Muftil madzhabain, atau orang memberikan fatwa terhadap dua madzhab yakni madzhab syariat dan madzhab hakikat.


Syariat tanpa Thariqat itu membatalkan amal, sebagaimana Thariqat tanpa Syariat itu menyesatkan. [sp]
Ibnu Athaillah Assakandary Ibnu Athaillah Assakandary Reviewed by Sayuda Patria on 02.56 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.