Hakikat Tasawuf

TASAWUF – Kajian Al-Hikam Ibnu Athaillah Assakandary
Syarah KH. Imron Jamil
Ditulis oleh Sayuda Patria

HAKIKAT TASAWUF
Manusia itu rahasia Allah, karena rahasia Allah maka hanya bisa diselesaikan dengan aturan-aturan Allah itu sendiri. Jika akal manusia ingin mengikat perilaku manusia, itu sama dengan akal yang terbatas ingin mengatur sesuatu yang tak terbatas. Tidak mungkin.

Teori komunisme gagal, kapitalisme gagal, mungkin akan terlihat sukses jika tujuannya adalah menguasai. Namun jika ingin menenteramkan kehidupan dengan cara akal semacam komunisme dan kapitalisme tersebut, maka semua itu akan gagal.

Pada dasarnya tasawuf mengajak orang untuk tunduk sujud membersihkan keinginan-keinginan nafsu. Akalnya sujud kepada Allah, fisiknya sujud menurut aturan Allah, perilakunya sujud menurut syariat Allah, ruhaninya sujud menerima seluruh keberadaan Allah, semua itu tak sanggup dipahami oleh akal, karena akal hanya mau bertanya dan dijawab. Akal itu hanya mengerti sebab dan akibat. Sementara Allah itu bukan sebab, Allah juga bukan akibat, tapi Allah itu adalah pembuat sebab dan pembuat akibat. Tidak mungkin akal dapat mengerti teori tasawuf.

Jangankan merasakan teori tasawuf, untuk merasakan hidupnya sendiri saja akal kebingungan. Pernahkah Anda merasakan sesuatu yang Anda sendiri tak tahu sebabnya? Pasti akal akan terus bertanya-tanya. Jika Anda merasa telah memiliki segalanya; harta, wanita, pangkat, namun Anda masih belum merasakan ketenteraman. Ini bukan soal akal, tapi inilah inti kemanusiaan. Manusia memang cenderung kepada sesuatu yang bersifat materi, sehingga yang terjadi adalah penurunan derajat kemanusiaan.

Di saat Anda telah merasa meraih segalanya, dan Anda tidak juga sujud kepada Allah. Anda akan merasakan kegelisahan, karena sujud itu adalah watak dasar kemanusiaan. Ketika watak dasar tidak dilakukan, Anda akan merasa kaku. Dalam kondisi yang seperti itu manusia sering kali salah dalam menyikapinya, akhirnya banyak yang lari ke narkoba, ekstasi, mabuk-mabukan. Salah jalan! Bukannya naik derajat namun justru turun karena orientasinya adalah materi.

Tasawuf adalah belajar mabuk (hilang akal). Namun mabuk di sini adalah mabuk kepada Tuhan. Mabuk adalah istilah untuk orang yang lari dari kenyataan, sampai di sini Anda akan diminta memilih, antara mabuk materi atau mabuk ruhani. Mabuk ruhani penyebabnya adalah dzikrullah, mengingat Allah, yang sering kali orang sering menyepelekannya. Dengan berdzikir maka akan muncul sebersit cahaya yang disebut sebagai nuurudzikr.

Jangan pernah meremehkan dzikir. Memang jika dilihat secara kasat mata (materi), dzikir adalah sesebutan (sesuatu yang disebut-sebut). Contohnya, jika Anda berada di lokasi yang sangat gelap dan dikabarkan angker, saat itu Anda sedang berjalan dengan teman-teman yang sedang ketakutan. Secara tiba-tiba ada orang yang menyebut, “Hantu!”. Tentu reaksi yang timbul adalah lari sekencang-kencangnya, padahal kata hantu itu hanyalah sesebutan.

Untuk sesuatu yang makhluk saja ada reaksi yang ditimbulkan, bagaimana jika yang Anda sebut adalah nama Allah? Nama dari Penguasanya para penguasa, Leluhurnya para leluhur, Maha dari segala macam maha. Tentu itu akan memberikan reaksi.

Hakikat dzikir adalah berusaha untuk merasakan, sudah tidak berpikir tentang sah dan tidak sah, karena perkara sah dan tidak sah sudah dipelajari dalam teori-teori normatif. Bukan tidak digunakan lagi ilmu fiqh shalatnya, tetap dipakai, tapi sudah tidak menjadi beban. Ibarat Anda sedang belajar mengendarai mobil. Jika yang Anda pikirkan saat itu adalah teori, padahal Anda telah menguasai teori itu, tentu Anda akan menabrak sekitaran Anda. Yang harus Anda lakukan adalah melatih feeling (perasaan) Anda. Bagaimana supaya belokan Anda tepat, bahkan Anda harus menjiwai kondisi mobil Anda, sehingga lebar mobil Anda dapat Anda perkirakan. Ini hanya bisa dilakukan dengan cara merasakan. Yang terpenting adalah Anda berusaha untuk menikmati perjalanan.

Tasawuf itu sendiri menyangkut berbagai macam aspek, tentang metodologi (bagaimana bertasawuf),  tentang posisi tasawuf di dalam Islam, tujuan tasawuf dan seterusnya dan seterusnya yang akan dijelaskan secara lebih lanjut.

Jangan pernah menabrakkan nilai-nilai tasawuf dengan kesimpulan akal secara umum. Anda harus merasakan terlebih dahulu, endapkan dalam hati, sehingga pengaruh tasawuf itu dapat Anda rasakan. Karena jika tidak demikian, yang terjadi adalah sesuatu yang tidak masuk akal, karena memang tasawuf bukan tentang perkara akal. Walaupun memang suatu saat akal akan diajak untuk berpikir pada level-level tertentu, tapi tidak satu-satunya alat untuk memahaminya.

Ilmu tentang ibadah ketika masuk ke dalam tasawuf sudah bukan menjadi ilmu lagi, tapi menjadi satu kesatuan gerakan ibadah itu sendiri untuk dirasakan. Dari merasakan ilmu itulah akan muncul ilmu-ilmu baru, akan muncul cara-cara baru yang sebelumnya tidak pernah dirasakan. Ibarat orang bersepeda, jika masih pada taraf teori, tentu Anda tak akan pernah bisa merasakan bersepeda. Yang harus Anda lakukan hanya satu, bersepeda, tanpa harus berpikir terlalu dalam tentang teori, bahkan jika Anda sudah bisa menikmatinya, Anda akan tahu bagaimana cara bersepeda tanpa berpegangan tangan, jumping, bersepeda dengan satu roda, dan sebagainya, itulah ilmu baru dari cara Anda merasakan nikmatnya bersepeda.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa hakikat tasawuf adalah totalitas kehidupan sufi memasuki ajaran Islam itu sendiri. Apabila fiqh, tauhid, tafsir, tarikh itu adalah hasil kesimpulan para pemikir (ulama-ulama) terdahulu, maka tasawuf berusaha untuk merangkum seluruhnya sehingga kembali kepada Allah. Wa inna ilaa rabbikal muntaha, hanya kepada Tuhanmu lah segalanya akan selesai. [sp]
Hakikat Tasawuf Hakikat Tasawuf Reviewed by Sayuda Patria on 10:38 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.