Da'wah Budaya

Bismillahirrahmanirrahim



Kajian D'Lisya ke-52 (20 Nopember 2015) kali ini sedikit berbeda. Biasanya pemateri kajian berasal dari kalangan Guru agama atau Ulama. Namun malam tadi seorang dosen jurusan bahasa dan sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang juga pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) dihadirkan menjadi pemateri, beliau adalah Helvy Tiana Rosa.

Da'wah Budaya menjadi tema yang diambil oleh bidang Kajian Youth Islamic Study Club (YISC). Sebuah tema yang menarik. Namun, ada baiknya kita mengetahui sedikit tentang apa itu Da'wah. 

Selama ini pemahaman yang berkembang luas di masyarakat tentang da'wah hanya sebatas kegiatan pada majelis-majelis ta'lim, maupun mimbar-mimbar keagamaan saja. Padahal pengertian kegiatan Da'wah sangat luas.

Dalam bahasa Arab Da'wah berarti Ajakan. Pengertian Da'wah adalah sebuah kegiatan yang bersifat mengajak, menyeru, atau menyampaikan ke masyarakat untuk patuh dan taat hanya Kepada ALLAH Subhanallahu Ta'ala, sesuai dengan garis aqidah, syariat, serta akhlak Islam. 

Untuk mengetahui kegiatan Da'wah berbalut budaya itu berupa apa saja, berikut materi yang disampaikan oleh Penulis 50 buah buku.

Helvy Tiana Rosa membuka kajian dengan membacakan sebuah Puisi menggetarkan hati berjudul 'Fisabilillah' yang dibuat tahun 1992, dan rencananya akan dijadikan soundtrack Film 'Ketika Mas Gagah Pergi'.

Pendiri Teater Bening itu mengatakan, mengapa da'wah sulit sekali nyatel dibenak masyarakat dan sulit sekali mendekatkan ummat Islam. Padahal seharusnya Da'wah bisa dilakukan melalui pendekatan dengan berbagai cara. Akal budi manusia, berbudidaya akan menghasilkan sebuah Ide, Aktifitas dan Bahasa. Dengan Bahasa akan terciptalah sebuah budaya dan kehidupan sosial. Bagian perangkat itu antara lain adalah kesenian. 

Dakwah melalui budaya. Di Asia, banyak Negara semakin berkembang melalui budaya. Contoh : Korea. Mereka memperkenalkan negaranya melalui musik, film dan bahasa. Hingga banyak sekali kita saksikan sebagian anak-anak muda di Indonesia begitu menggandrungi budaya Korea. Mirisnya, banyak muslimah yang ikut-ikutan histeris, manakala melihat artis-artis Negeri ginseng itu beraksi diatas panggung. Sedangkan acara konser tersebut bercampurnya antara lelaki dan perempuan. Sayangnya, Indonesia masih sebagai Negara pemamah budaya asing (Luar Negeri).

Budaya sebagai kesenian, dan seni terkait dengan ekspresi. Kesenian merupakan ekspresi mendekatkan diri kita Kepada ALLAH Subhanallahu Ta'ala.

Wanita yang lahir di Sumatera Utara pada tahun 1970 berkata :
"Saya tidak ingin menulis agar terkenal di dunia, tetapi ingin menulis agar terkenal di akherat."


Prof. Dr. Kuntowijoyo, seorang budayawan, sastrawan, dan sejarawan di Indonesia mengemukakan bahwa kesenian merupakan ekspresi dari keislaman memiliki 3 karakteristik: 
1. Berfungsi sebagai ibadah, tazkiyah, dan tasbih : Sarana mendekatkan kita Kepada ALLAH Ta'ala.
2. Memiliki identitas kelompok (komitmen)
3. Sebagai syiar (lambang kejayaan)



Pengarang sekaligus Produser Film "Ketika Mas Gagah Pergi" menghubungkan idialisme syiar Islam terhadap film perdananya tersebut :

1. Pemerannya harus sesuai dengan tokoh KMGP (harus sama keshalihannya).

2. Bila film KMGP disaksikan oleh 1 juta penonton atau lebih, maka keuntungannya akan disumbangkan untuk sarana pendidikan sekolah anak-anak di Indonesia Timur.

3. Tidak ada adegan bersentuhan (bukan mahram) antara artis ikhwan dan akhwat dalam film.
4. Membela Palestina dalam beberapa scene.

Langkah penerapan strategi budaya (khususnya) bagi para Dai :
1. Sebagai penganalisis budaya dalam masyarakat. 
Misalnya persamaan simbolis antara budaya yang ada dengan Islam. Seperti cara para wali songo menyebarkan Da'wah.

2. Sebagai penafsir budaya. 
Simbol yang telah ada di masyarakat jangan dihilangkan, tetapi diganti/dimasukan dengan ruh-ruh Islam.

3. Sebagai penyelaras budaya. 
Melengkapi seni budaya yang sudah ada sebelumnya.
4. Sebagai penemu budaya. 
Contoh : Membuat karya-karya sastra Islami.



Kegelisahan akan minimnya buku-buku sastra Islami membuat dosen berprestasi yang biasa disapa Bunda Helvy akhirnya membuat sebuah komunitas bagi para penulis, yaitu Forum Lingkar Pena (FLP) pada tahun 1997. Maka lahirlah warna baru dalam sastra Indonesia. Sebuah Da'wah budaya melalui sastra.

Umar bin Khattab mengatakan :
"Ajarkan sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani."
Sastra dapat membuat orang menjadi berani (menyuarakan isi hati/ pendapatnya yang ada dalam benak) dan juga mengajarkan empati. 
Para tokoh terkenal dan Ulama besar di Indonesia banyak yang mencintai sastra. Contoh : Ir.Soekarno, Mohammad Hatta, Buya Hamka, dan masih banyak lagi.
Lebih lanjut beliau mengatakan dengan semangat. Bahwa menjadi keresahan bersama akan adanya tayangan televisi yang tidak mendidik, musik anak-anak yang kurang, dan beberapa media yang merusak generasi. Untuk itu kita harus memiliki pejuang-pejuang konten untuk mengisi syiar/ dakwah sastra.
"Siapkah kita menjadi pejuang konten?"

Jadikan konten dalam gadget kita menjadi media da'wah. Da'wah itu harus merangkul, bersinergi dan sama-sama memberi kekuatan.


Diakhir materi, Kakak kandung Asma Nadia ini mengingatkan jamaah untuk memperkenalkan sastra pada anak-anak sejak usia dini. Karya-karya sastra yang dapat mendekatkan diri Kepada ALLAH Ta'ala. Berikanlah kata-kata indah dan buku-buku sastra untuk mereka baca. Bila telah beranjak dewasa, mereka akan mencoba mengeluarkan kata-kata indah tersebut, baik melalui lisan maupun tulisan.

Hasan al Bana mengatakan : "Membaca dan menulis itu seperti sepasang sepatu."

Pesan beliau sebelum menutup kajian Islam di ruang utama Masjid Al-Azhar :

"Menulislah 1 buku sebelum mati untuk menuliskan jejakmu di dunia, agar mengguncang peradaban."

Tentulah buku yang baik dan bermanfaat agar dapat dikenang dan menjadi ladang amal kita di akherat.

Demikian materi Da'wah Budaya yang disampaikan peraih The 500 Most Influential Muslims in The World (500 Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia), dari Royal Islamic Studies Centre, Jordan dan Georgetown University selama tiga tahun berturut-turut (2009 - 2011). 

Siapkah kita menjadi pejuang-pejuang konten untuk mengisi syiar/dakwah sastra?

"Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." 
(QS. Ali 'Imran : 104)


Semoga bermanfaat.



Ruang utama Masjid Agung Al-Azhar
Jakarta



Da'wah Budaya Da'wah Budaya Reviewed by Era Elenra on 00.36 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.