Daun Impian dan Harapan

Jepang, di suatu masa...

Aku duduk sendiri di salah satu taman di sudut kota Tokyo. Ibukota Jepang sejak tahun 1868 ini bisa dikatakan kawasan metropolitan paling besar. Di pangkuanku terhampar sebuah buku yang masih terbuka. Aku sedang membaca buku tentang Shodo (seni menulis indah huruf Jepang). Ya, aku pengagum seni Jepang. Di sebelah kananku, masih ada beberapa dorayaki di kotak makanan dan sebotol minuman yang belum kuhabiskan. 

Hari itu adalah awal musim gugur tahun ini. Tak heran banyak sekali daun berjatuhan. Terserak di tanah. Begitu pun di bangku tempatku duduk.
Aku masih menikmati sore itu dengan membaca. Tanganku membolak-balik halaman buku. Setiap kali selesai membaca beberapa paragraf, mata ini tak lepas dari urutan kata dalam buku. Menelusuri makna dari setiap kalimat yang tersusun di sana. Tak ada rasa terganggu dengan daun-daun yang sesekali jatuh menimpanya. Sementara di kejauhan, ada beberapa anak kecil yang berlarian sambil tertawa riang. Mereka bermain, menikmati sore yang indah itu.

Srekk… srekk…. Terdengar langkah. Aku menoleh. Srekk… srekkk…srekkk… Terdengar lagi langkah kaki bergesekan dengan daun-daun. Seorang ibu tua sedang memunguti daun-daun, tangan kirinya menggenggam kantung kain. Isinya daun-daun kering.

Aku tertegun. Heran. Aku mendekati sang nenek dan menyapanya.
“Hajimemashite. Indonesia no Aisya desu.”
“Hajimemashite. Watashi wa Yashi desu.”
(Lanjut… masih dalam bahasa Jepang ^^)
“Ibu sedang apa?”
“Aku sedang mengumpulkan daun.”

Mata tuanya terus menjelajah, mengamati hamparan daun di taman itu.
Aku sedang mencari daun-daun terbaik untuk kujalin menjadi mainan anak-anak di sana.”
Satu dua daun dimasukkan ke kantung kain. Aku beringsut. Buku di pangkuan kuletakkan kemudian kembali bertanya, “Sejak kapan ibu melakukannya?

Setiap musim gugur aku lakukan ini untuk anak-anak. Akan kubuatkan selempang dan mahkota daun buat mereka. Jika aku dapat  banyak daun, akan kubuatkan pula ikat pinggang. Ah, mereka pasti senang.” Mata tua itu berbinar. Syal di lehernya berjuntai di bahu. Tangannya kembali memasukkan beberapa daun.

“Tapi Bu, sampai kapan Ibu lakukan ini? Anak-anak itu pasti akan membuat semuanya rusak setiap kali mereka selesai bermain. Lagipula, terlalu banyak daun yang ada di sini. Ini musim gugur, daun itu akan terus jatuh layaknya hujan,” lagi-lagi aku bertanya, “Apa Ibu tak pernah berpikir untuk berhenti?”

Berhenti? Berpikir untuk berhenti? Memang, anak-anak itu akan selalu merusak setiap rangkaian daun yang kubuat. Mereka juga akan selalu membuat mahkota daunku koyak. Selempang daunku juga akan putus setiap kali mereka selesai bermain. Tapi, itu semua takkan membuatku berhenti,”. Ibu tua itu menarik nafas dalam. Ia membetulkan letak syal di lehernya.

“Masih ada ribuan daun yang harus kupungut di sini. Masih ada beberapa kelok jalan yang harus ketempuh. Waktuku mungkin tak cukup untuk memungut daun yang ada di sini. Tapi, aku tak akan berhenti.”

“Akankah aku berhenti dari rasa bahagia hati yang telah kutemukan? Akankah aku berhenti memandang keceriaan dari binar mata anak-anak itu? Akankah aku menyerah dari kedamaian yang telah aku rasakan setiap musim gugur? Tanyanya retoris.

Tidak, Nak! Aku tidak akan berhenti untuk kebahagiaan itu. Aku tidak akan berhenti hanya karena koyaknya mahkota daun atau ribuan daun lain yang harus kupungut.”

Tangan tua itu kembali meraih sepotong daun. Lalu, dengan suara pelan ia berbisik. “Ingat Nak, jangan berhenti. Jangan pernah berhenti untuk berusaha.”

***
Larik-larik senja telah muncul, menerobos sela-sela pohon, membentuk sinar-sinar panjang dan berpendar.
***
Sahabat, adakah di antara kita yang pernah ingin berhenti berjuang dalam medan dakwah pena ini? Adakah di antara kita yang pernah merasa menjadi penulis paling malang di dunia? Adakah di antara kita yang pernah berpikir untuk tidak mau mewujudkan impian-impian kita menjadi seorang penulis dengan banyak karya yang bermanfaat?

Ada banyak dari kita yang mungkin pernah berpikir untuk menyerah karena begitu banyaknya tantangan yang dihadapi oleh seorang penulis. Namun, apakah kita harus berhenti berusaha ketika melihat “mahkota-mahkota daun” impian kita koyak? Haruskah kita berhenti saat “selempang daun” harapan yang kita sandang putus? Akankah kita menyerah saat “rangkaian daun” kebahagiaan kita tak terbentuk? Saya percaya, ada banyak pilihan untuk itu. Beragam pilihan akan muncul di kepala kita saat dihadapkan pada kenyataan pahit.

Lalu, akankah kita surut melangkah, saat kita melihat ada ribuan “daun tantangan” yang harus kita pungut? Akankah kaki kita menyerah ketika kita bertemu dengan hamparan “daun ujian” di depan kita saat menulis? Agaknya, kita harus ingat perkataan ibu tua itu, “Jangan pernah berhenti untuk berusaha. Jangan pernah menyerah untuk kebahagiaan yang akan kita raih.”

Masih ada berjuta daun harapan lain yang masih dapat kita pungut. Di depan sana, masih terhampar berjuta daun impian lain yang memberikan kita beragam pilihan. Mungkin jalan kita di dunia kepenulisan ini masih berkelok, masih panjang, namun daun-daun itu ada di sana. Berjuta daun kebahagiaan lain masih menunggu untuk kita rajut, jalin, anyam, dan susun. Daun kebahagiaan itu bisa diwujudkan dalam rangkaian kata yang kita tulis dengan niat yang tulus dan  sepenuh kekuatan cinta sehingga akan banyak pembaca di luar sana yang akan menikmatinya dengan binar kebahagiaan serupa, bahkan lebih bercahaya.

JANGAN MENYERAH!
JANGAN PERNAH MENYERAH!
TERUSLAH MENULIS!
Karena ALLAH SELALU BERSAMA HAMBA-NYA YANG SABAR DAN MAU BERUSAHA DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH!!!
***
Ya Rabbi… bimbinglah kami…untuk merangkai kata menjadi lebih berarti....

(Kisah Nenek pemungut daun tersebut diadaptasi dari buku Kekuatan Cinta” karya Irfan Toni Herlambang, Pustaka Saksi 2003).

Sumber foto : http://dream-land96.blogspot.co.id
Daun Impian dan Harapan Daun Impian dan Harapan Reviewed by Aisya Avicenna on 4:35 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.