Cerpen: Calon Suami Ami (Antologi FLP DKI)

Oleh: Andi Tenri Dala F

Bu Ratih, saya seorang anak sulung dari lima bersaudara. Akhir-akhir ini, saya risau sekali. Orang tua saya selalu ditanyai keluarga kami yang lain, mengapa saya belum juga menikah. Para tetangga selalu mengejek saya sebagai perawan tua. Malu sekali di umur 23 ini saya belum mendapat pendamping hidup...
Ami terbelalak membaca rubrik konsultasi psikolog di sebuah tabloid wanita. Lalu, ia terpingkal-pingkal sampai Bunda keluar dari kamar.
“Aduh Ami, ada apa, sih? Bunda kira kamu kesurupan siang bolong gini.”
“Ini Bunda, baca, deh. Ada orang curhat kalau dia perawan tua. Ami kira umurnya sudah empat puluh something. Ternyata masih 23. Itu sih tidak usah pusingin kawin dulu.”
“Tapi kan, dia anak sulung, Mi,” kata Bunda ikut membaca tabloid. “Karena itu, orang tuanya ingin ia cepat menikah. Memang, menurut kamu umur berapa baru cocok memikirkan perkawinan?”
“Yaaa..., 25 atau 26. Hi-hi..., aduh lucu!” kata Ami berusaha mengendalikan tawanya.
Kalau begitu, apa kamu sendiri sudah memikirkan perkawinan juga?” tanya Bunda tiba-tiba menatap anaknya dengan tajam.
Glek! Ami berhenti tertawa. Pukulan yang telak untuknya.
***
Dua minggu setelah membaca tabloid itu Ami gelisah. Ada perubahan besar dalam hidupnya. Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan kini terus menghantuinya. Apakah kehidupan tanpa kehadiran pendamping hidup membuat ia merasa aneh lama-lama?
“Ami, kemarin Pak Jaka menanyakan ke Ayah kapan kamu akan menikah,” kata Ayah ketika sedang makan malam.
“Aduh Ayah, jangan terlalu dipikirkan deh, pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Nanti jodoh datang sendiri,” tanggap Ami yang langsung kehilangan semangat makan.
“Masalahnya, kamu sendiri tidak berusaha mencari pasangan hidup. Setiap hari kamu kerja dari pagi sampai malam. Sabtu dan Minggu mengurung diri di kamar. Ingat Ami, umurmu sudah 28 tahun!”
Ami menghela napas. Memang usianya sudah mendekati kepala tiga. Tapi, ia tidak pernah merisaukan perkawinan. Bahkan, terus terang selama ini ia menikmati kelajangannya.
Setelah dipikir, Ami berusaha tidak terlalu menyalahkan diri kalau kenyataannya hingga kini ia belum menemukan orang yang cocok untuk dijadikan pasangan hidup.
Sudah empat tahun ia bekerja sebagai humas di hotel berbintang lima. Laki-laki di tempat kerjanya banyak. Pilih saja! Ada yang muda sampai tua, sederhana sampai kaya raya, judes sampai ramah, atau berbagai tipe lain.
Anehnya, Ami tidak punya perasaan khusus dengan salah satu di antara mereka. Semua teman laki-lakinya hanyalah sebatas teman profesi.
“Coba lebih aktif meluaskan pergaulan,” kata Ayah membuyarkan lamunannya.
Ami kembali berpikir. Dengan cara apa? Ikut fitness? Aktif di organisasi? Mengajak kenalan seseorang di mal lalu mengajaknya kawin? Hiii....
***
“Hmmm, jadi sekarang orang tuamu mendesak terus supaya kamu cepat-cepat menikah?”
Ami sedang mengobrol dengan Dinda, temannya dari bagian Food and Beverage Department. Saat ini, ia butuh teman untuk mencurahkan hati. Cocok sekali bercerita dengan Dinda yang seusia dengan dirinya dan masih melajang juga.
“Begitulah, Din. Tetangga-tetanggaku juga suka menanyakan langsung ke aku,” keluh Ami. “Yang membuat aku risau, satu per satu teman kampusku menikah. Minggu depan pernikahan Ningsih. Teman kampusku yang satu itu dulu tomboy banget dan selalu bilang mau nikah kalau umurnya 35 tahun. Tiba-tiba, dia sekarang sudah feminin dan akan menikah. Hhh....”
“Kamu sendiri sebenarnya mau cepat bersuami juga nggak?” tanya Dinda sambil meneguk teh yang baru diantar office boy.
Ami berpikir sejenak sebelum menjawab, “Ya, daripada ditanyain orang-orang terus. Lebih baik aku juga cepat-cepat menikah.”
Dinda tersenyum. “Sebenarnya, kita lebih baik menikah kalau sudah siap fisik dan mental. Seringkali, orang mengulur-ulur pernikahan dengan alasan belum siap mental. Tapi, apa yang terjadi? Dengan mengulur malah membuat orang santai dan tidak memikirkannya lagi.”
Ami termenung. Benar juga kata Dinda. Dulu, waktu ia berumur dua puluh dua tahun dan baru lulus kuliah, ia merencanakan akan menikah di umur 25. Lalu, saat 25 tahun sudah usianya, ia mengulurkan lagi niat menikah menjadi 28. Bahkan, ia sempat berniat menikah umur 32 tahun saja. Tapi, bagaimana kalau keterusan? 35, 37, 40, astagfirullah, cepat ditepiskannya pikiran menyeramkan itu.
Tidak dapat dipungkiri, sekarang ia mulai mendambakan kehadiran seorang pasangan hidup perlahan-lahan. Ia ingin berumah tangga dan mempunyai anak-anak. Ke mana kelak uangnya yang sudah begitu banyak dihasilkan kalau bukan ke anak-anaknya?
“Oh iya, Ami! Aku sampai lupa,” ucap Dinda memotong lamunan Ami sambil menyodorkan sesuatu. “Ini undangan perkawinanku bulan depan. Datang ya di akad dan resepsinya.”
“Haaahh?!”
***
Bunda masuk ke kamar Ami sambil menari-nari. Anaknya sampai geli melihatnya, mirip balerina. Pasti ada kabar baik, tebak Ami.
“Ami sayang. Kamu ingat Tante Adisti teman pengajian Bunda, kan?” tanya Bunda dengan mata berbinar-binar.
Ami mengangguk.
“Dia ingin menjodohkan kamu dengan putra bungsunya!” Bunda menjerit senang.
“Loh, kenapa Bunda tidak tanya kesediaanku dulu?” tanya Ami.
Ia tidak tahu harus merasa senang atau sewot. Sejak dulu, ia tidak pernah suka dengan perjodohan. Tapi, apakah ia sekarang membutuhkannya?
“Jangan kesal dulu, Ami. Bunda sudah bertemu dengan dia. Namaya Fahrul. Wow, Ami! Anak itu tampan, baru lulus S2 dari Inggris, sudah punya usaha sendiri, soleh, sopan, santun...,” jelas Bunda bertubi-tubi mendeskripsikan anak temannya. “Dan kata Tante Adisti, Fahrul juga mau berkenalan dengan kamu.”
Gantian mata Ami berbinar-binar bak mata tokoh komik Jepang. Laki-laki yang bernama Fahrul itu sepertinya mendekati sempurna! Cocok untuk dijadikan suami.
“Hari Minggu depan Tante Adisti dan Fahrul mau datang ke rumah kita. Katanya Fahrul mau takabur sama kamu.”
“Ta’aruf mungkin Bunda. Bukan takabur!”
“Eh iya. Pokoknya begitu, deh. Kamu harus menyiapkan dirimu sebaik mungkin Ami.”
Ami duduk tegap lalu memegang tangan Bundanya.
“Bunda, mulai sekarang Ami akan mempersiapkan diri menjadi ibu rumah tangga. Ami mau belajar masak, nyuci, nyapu, nyetrika, dan lain-lain. Biar suami Ami tidak menyesal telah memilih aku sebagai istri.”
“Ami sayaaang,” Bunda langsung memeluk anak semata wayangnya penuh keharuan.
***
Sudah satu pekan Mbak Hani, Mbak Lusi, dan Mbak Restu kegirangan. Para pembantu di rumah Ami menjadi santai semenjak Ami mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dalam hati, para pembantu itu sempat menyangsikan kesungguhan anak majikan mereka karena merapikan seprai tempat tidur saja Ami tidak bisa.
Namun, Ami membuktikan kesungguhan dirinya kepada Ayah dan Bunda. Sudah satu pekan, Ami bangun lebih awal untuk mencuci pakaian setelah salat dan mandi. Sebelum berangkat kantor, lengkap dengan pakaian kerja Ami menyempatkan diri menyapu rumah dan halaman. Pedagang sayur keliling saja sampai kagum. Mereka pikir kok ada pembantu baru bergaya manajer lagi menyapu di depan rumah.
Hari besar yang ditunggu tiba. Tante Adisti datang ke rumah membawa anaknya yang akan dijodohkan dengan Ami.
“Aduh Ami, kamu sudah besar. Dengar-dengar karirmu makin meningkat saja, ya? Lihat deh Fahrul! Ami cantik, kan?” tanya Tante Adisti yang super ramah itu.
Ami tersipu malu. Dia memerhatikan Fahrul. Benar apa kata Bunda. Laki-laki itu tampan dan sopan. Hanya terlalu pendiam.
“Nak Fahrul. Ayo cobain kue-kuenya. Ini semua bikinan Ami, loh. Masih ada cake di belakang. Nanti Tante ambilkan,” kata Bunda. “Ami spesial belajar masak untuk kamu.”
“Bunda,” bisik Ami tajam. Mukanya memerah. Tapi Bundanya malah terus berbicara.
“Malah sekarang Ami sudah bisa nyuci baju, ngepel, pokoknya sudah pintar mengurus rumah.”
Duh Bunda ini. Jadi ketahuan deh Ami aslinya manja dan semua kerjaan selalu dikerjakan pembantu dulu, rutuk Ami dalam hati. Ami yang masih memerah melirik ke Fahrul. Tapi, yang dilirik dari tadi menunduk menatap lantai. Ami sampai ikut-ikutan melihat ke lantai. Ada apa di lantai? Apa dia kurang bersih mengepel? Tapi sepertinya tidak.
“Ngomong-ngomong, kamu mau kan cepat-cepat menikah?” tanya Tante Adisti di tengah perbincangan. “Daripada melajang lama-lama. Gadis cantik seperti kamu harus ada yang punya.”
“Iya Tante. Saya juga pengen cepat menikah. Capek dibilang perawan tua melulu dan ditanyain orang-orang.”
Ups! Tiba-tiba Ami menutup mulutnya. Apa yang baru dikatakan barusan? Bunda dan Tante Adisti melongo mendengar perkataannya. Fahrul juga sampai menoleh tapi cepat menatap lantai kembali.
“Eh tunggu, Tante ambil cake buatan Ami dulu ya,” kata Bunda mencairkan suasana yang kaku gara-gara ucapan putrinya.
Kue cantik buatan Ami sudah terhidang di meja ruang tamu. Bunda memberikan satu potong dan disodorkan ke Fahrul.
“Cobain, Nak Fahrul. Cake bikinan Ami tidak kalah dengan yang ada di kafe-kafe dan hotel-hotel mahal,” promosi Bunda.
Fahrul mengucapkan terima kasih lalu mulai menyendokkan kuenya. Ami melirik lagi ke arah Fahrul. “Duh, gayanya cool sekali!” gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba, raut wajah Fahrul berubah. Tampak dengan susah-payah ia mengunyah dan menelan kue yang sudah di dalam mulut. Tante Adisti dan Bunda bingung melihat Fahrul menikmati kue dengan wajah sangat aneh.
Merasa ada yang tidak beres, Ami menyendok sepotong kecil kuenya dan mulai mengunyah. Kali ini, raut wajahnya ikut berubah.
***
“Hua-ha-ha-ha-ha!!!”
“Ayah, berhenti ketawa dong! Mbak Hani sih, taruh bubuk vanili dan garam di tempat yang mirip,” Ami menceritakan dengan kesal kepada Ayah.
Ayah yang baru pulang dari Palembang dan tidak turut menyaksikan proses ta’aruf itu tertawa terpingkal-pingkal sampai sakit pinggangnya.
“Lagian, kamu tidak coba dulu kuenya.”
“Tapi kan, Ami mau kue itu baru dipotong di depan mereka,” ujar Ami kesal karena tidak mendapat pembelaan dari Ayah.
”Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!” balas Ayah dan Ami serempak menyambut Bunda.
Bunda pulang sambil tersengal-sengal. Ia mengeluarkan sesuatu dari tas. Sebuah kartu hijau muda kecil untuk Ami.
“Dari Fahrul, Mi. Cepat buka. Apa katanya?”
Ami berdebar-debar membuka kartu itu. Sebuah surat yang pendek.

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ukhti Ami yang baik,
Saya menghargai usaha Ukhti yang telah mempersiapkan diri untuk menjadi istri yang baik. InsyaAllah, itu bisa dijalankan meskipun sudah menikah nanti. Namun, yang paling penting untuk saya adalah kesiapan Ukhti sendiri untuk menikah, bukan karena beban desakan orang tua atau panggilan perawan tua oleh orang lain.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Fahrul

Ami melipat kartu itu lalu mendekapnya. Tinggal Ayah dan Bunda yang bingung dan ingin tahu apa yang tersirat dari senyuman anak mereka.[]

Bona Indah, 26 Mei 2004


Andi Tenri Dala adalah Ketua FLP Jakarta periode 2004-2006. Cerpen ini pertama kali dimuat dalam buku antologi FLP DKI berjudul “Putri Surat Cinta” (Lingkar Pena Publishing House, 2005).
Cerpen: Calon Suami Ami (Antologi FLP DKI) Cerpen: Calon Suami Ami (Antologi FLP DKI) Reviewed by ADP on 21.54 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.