Cahaya dalam Kegelapan



oleh: Rahmat Zubair

Perhatikanlah kehidupan dari seorang tunanetra. Ia hidup dalam kegelapan yang pekat tanpa cahaya. Tak pernah tahu warna langit, awan, tumbuhan, air, dan lain sebagainya. Jangankan berlari, melangkah pun harus pelan-pelan dan penuh kehati-hatian. Takut dirinya tersandung atau tersungkur ke lubang.

Sekarang, bayangkan bahwa orang itu adalah diri kita. Rasanya mungkin akan amat menyakitkan dan sangat menyiksa. Tak bisa melihat keindahan dunia sebagaimana apa yang biasa kita dengar dari cerita orang-orang di sekitar. Tak leluasa memanfaatkan kaki untuk pergi jalan-jalan kemanapun tanpa ragu dan takut akan tersandung atau terperosok ke jurang. Dan tak bisa pula berlari sekencang mungkin untuk menggapai apa yang ingin dicapai, seperti orang-orang yang tergila untuk mengejar dunia.

Namun, kebanyakan dari kita sudah salah mengartikan definisi dari kata “buta”. Buta yang sesungguhnya bukanlah mereka yang rusak matanya hingga tak bisa melihat segala keindahan perhiasan yang ada di dunia. Melainkan hakikat arti dari buta itu sendiri adalah hilangnya cahaya yang terdapat dalam hati kita. Dan yang jadi pertanyaannya saat ini adalah, apa sebenarnya yang dimaksud dengan cahaya yang ada dalam hati itu?

Cahaya itu adalah Allah SWT. Allah sendiri sudah menyebutkan perumpaan itu dalam ayat-Nya yang termaktub indah dalam Alqur’an surat An-Nuur ayat 35. Yang mana Allah telah mensifati diri-Nya kemudian dilanjutkan dengan sederet penjelasan untuk memberi tahu dimana bisa kita dapatkan cahaya itu.

“Allah adalah (pemberi) cahaya bagi langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya (Allah) adalah seperti sebuah ‘misykah’ (lubang pada dinding yang tidak tembus) yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam kaca. (Dan) kaca itu seakan-akan bintang yang berkilauan (seperti mutiara) yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang ‘mubarak’ (banyak berkahnya), (yaitu) pohon zaytun yang tumbuh bukan di sebelah timur (sesuatu) dan bukan pula di sebelah barat(nya),  yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu."

Ada beberapa pendapat para ulama yang mendefinisikan kata “cahaya” dalam potongan ayat di atas. ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari apa yang dikatakan Abdullah bin Abbas menyebutkan bahwa yang dimaksud dari ayat, “Allah (pemberi) cahaya bagi langit dan bumi”  yaitu Allah adalah pemberi petunjuk kepada makhluk langit dan bumi. Sama halnya dengan Ibnu Jarir yang memilih pendapat bahwa arti cahaya yang dimaksud dalam ayat adalah petunjuk-Nya.

Sedangkan Ibnu Juraij berkata, Mujahid dan Abdullah bin Abbas berkata tentang ayat yang sama, yaitu akan maksud dari cahaya bahwa Allah pemberi cahaya bagi langit dan bumi. Menurutnya, itu berarti Allah-lah yang mengatur segala urusan yang ada di langit dan bumi, termasuk urusan bintang-bintang, matahari, dan bulan.

Belum lagi Abu Ja’far Ar Razi yang meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab tentang firman Allah yang masih membahas tentang cahaya sesuai dengan riwayat qira’ah atau bacaan dari Sa’id bin Jubair bin Qais bin Sa’ad dari Abdullah bin Abbas bahwa Allah memulai dengan menyebut cahaya-Nya, kemudian perumpamaan cahaya yang dimaksud itu tertuju pada orang mukmin. Yaitu mukmin yang Allah resapkan dalam hatinya keimanan dan Alqur’an ke dalam dadanya.

Oleh karenanya, Allah menyamakan kemurnian hati seorang mukmin dengan lentera dari kaca yang tipis dan mengkilat, kemudian menyamakan hidayah Alqur’an dengan minyak zaitun yang bagus lagi bersih dan jernih, bercahaya dan tegak, tidak kotor dan tidak bengkok.

Hati kita memang sudah sangat gelap, dan kita sudah sesat! Mengapa?

Masih ingatkah kita dengan sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah bin ‘Amr , bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, kemudian Allah memberi cahaya-Nya kepada mereka. Barangsiapa mendapat cahaya-Nya pada saat itu, maka ia telah mendapatkan petunjuk. Dan barangsiapa yang tidak mendapatkannya, berarti dia telah sesat.”

Lantas, mengapa kebanyakan kita justru malah membiarkan kebutaan hati ini menguasai dirinya? Membiarkan jiwa tertidur, hidup dalam kegelapan yang tiada cahaya sedikitpun di dalamnya. Dan jikalah seorang hamba-Nya yang sudah ‘bangun’ pun bertanya, “Lalu, bagaimana kiranya kami bisa mendapatkan cahaya itu kembali? Apakah Allah tega membiarkan kami dalam kegelapan hati seperti ini?”

Huwa Rahmaanur Rahiim. Allah-lah satu-satunya dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia menyebutkan dengan penuh kasih bagaimana cara yang perlu kita lakukan, agar senantiasa bisa merebut cahaya atau petunjuk-Nya lagi supaya tak termasuk golongan yang sesat.

Ayat An-Nuur selanjutnya langsung menjawab sekaligus menjadi sebuah penjelasan, tepat pada ayat 36-38. Yang pertama, adalah hendaknya kita banyak bertasbih kepada Allah SWT terlebih di tempat-temat mulia seperti masjid. Muliakanlah nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang. Bisa dengan berzikir, ataupun meninggikan dan menghidupkan Alqur’an. Sebagaimana ayatnya, “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang.” (An-Nuur:36)

Kemudian yang kedua, hendaknya kita sebagai hamba-Nya yang mengharap cahaya-Nya  tidak tergiur atau tersilaukan dengan perniagaan dan jual beli, hingga kita dibuat lalai dari mengingat-Nya, dari mendirikan sembahyang, dan dari membayar kewajiban berzakat. Maka dengan begitu, maka hati kita pun cenderung akan selalu takut kepada Allah. Dan rasa takut itu juga merupakan bagian dari hidayah Allah.  Dan sampailah pada saat Allah akan memberikan apa yang telah dijanjikan berupa balasan kebaikan.

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.(Mereka yang mengerjakan demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (An-Nuur:37-38)

Mari raih cahaya yang telah hilang! Mari dekap dan jangan biarkan hangatnya berakhir dan lepas begitu saja. Karena sungguh kita benar-benar akan terperosok ke lubang neraka jika hati gelap tanpa cahaya. Dan sungguh kita benar-benar menjadi orang paling merugi jika hati telah buta!

"اللهم اجعلنا يا كريم  بتذ كيرك منتفعين, ولكتابك ورسولك متٌبعين, و على طاعتك مجتمعين, و توفٌنا يا ربنا مسلمين, و الحقنا باالصالحين, ووالدينا و احبابنا برحمتك يا ارحم الراحمين."
            “Ya Allah Yang Maha Mulia, jadikanlah kami hamba-Mu yang selalu meraup manfaat dari berdzikir kepada-Mu, dan menjadi orang-orang yang mengikuti ajaran kitab dan Rasul-Mu, dan orang-rang yang selalu berkumpul dalam ketaatan kepada-Mu. Dan panggillah kami menuju-Mu dalam keadaan muslim, masukkanlah kami bersama golongan orang-orang yang shalih, juga bersama orangtua kami dan orang-orang yang kami cintai dengan rahmat-Mu yang luas. Sungguh Engkaulah sebaik-baiknya Yang Maha Pengasih.


Cahaya dalam Kegelapan Cahaya dalam Kegelapan Reviewed by Ahmad Lamuna on 21.27 Rating: 5

2 komentar:

  1. Luar Biasa...satu shabtku nh...smoga Allah beri kmudahan dlam stiap guratan penanya....mnjdi kebrkahan bgi yang mmbca tulisan2 beliau..amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Rabb... wa iyyakum ya akhii. Semoga Allah pun akan memudahkan segala urusan dan cita antum... menjadi lebih bermanfaat untuk negeri khususnya ummat islam semuanya... :)

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.