Afalaa Tatafakaruun?



Banyak yang beranggapan bahwa kebaikan seseorang itu tergantung dari bagaimana dia berperilaku dengan mengenyampingkan tentang bagaimana cara dia berpikir. Padahal, justru Islam sangat memperhatikan pentingnya cara berpikir. Karena dari cara berpikir yang benar itulah yang akan memicu cara perilaku yang benar.

Sebegitu pentingnya cara berpikir dalam Islam karena melindungi cara berpikir ini merupakan salah satu dari maqashid syariah. Salah satunya adalah dengan mengharamkannya khamr. Termasuk juga pada hal-hal yang melecehkan cara berpikir seperti mengundi nasib dan berjudi.

Untuk lebih memahami betapa pentingnya cara berpikir dalam Islam, marilah kita tinjau pada awal-awal kenabian. Dimana terminologi kafir belum digunakan. Pada saat itu term yang digunakan untuk orang-orang non muslim adalah Al Jahil/Jahiliah(Kebodohan).

Jahiliyah adalah kondisi kehidupan yang seluruh aspeknya jauh dari nilai-nilai wahyu. Jahiliyah mengantarkan manusia kepada Al Wahm(kebingungan) dan Az-Zann(Asumsi). Sementara wahyu mengantarkan manusia kepada Al-Ilm wal Yaqin(Ilmu dan Keyakinan). Sedangkan menurut Malik bin Nabi dalam Syuruth An Nahdhah disebutkan bahwa kejahilan tidak pernah menanam pemikiran, melainkan hanya memancangkan berhala. Dan berhala disini (dalam konteks Malik bin Nabi) adalah doktrin, dogma dan asumsi-asumsi jahiliah(Qs Ali Imran 154). 

Jelas bahwa lawan Jahiliyah adalah Ilmu. Maka dapat dipahami bahwa ayat Al Quran pertama kali turun adalah Al Alaq ayat 1-5 yang berbicara tentang kelahiran sebuah peradaban. Adapun kata-kata kunci dari ayat-ayat tersebut adalah Membaca(2x), Ilmu(3x), Pena(1x), Penciptaan(2x).
Lihatlah! Betapa Islam memandang penting kegiatan berpikir, sehingga hal tersebut didahulukan sebelum perintah yang lain. 

Bahkan ada kata hadits nabi  yang menyebutkan berpikir sesaat lebih besar pahalanya dari pada shalat sunnah sepanjang semalam. Hal ini karena kegiatan berpikir akan membawa kemanfaatan yang lebih besar kepada masyarakat, dibanding shalat sunnah sepanjang malam tadi. 

Umar bin Abdul Aziz pernah mengatakan bahwa barang siapa beramal tanpa ilmu, maka unsur merusaknya lebih besar dibanding maslahatnya.(Manaqib Umar bin Abdul Aziz dalam Nazharat fi Risalati Ta’lim)

Alangkah eloknya ketika hafalan yang kita miliki tersebut berbanding sejajar dengan pemahaman yang dalam terhadap hafalan tersebut. Alangkah indahnya ketika kita mengetahui rahasia-rahasia agama yang hanya diberikan kepada orang yang faqih. 

Hal tersebut semua diperoleh dari kegiatan berpikir. Tafakur dan merenung. Menepi sejenak dari kegaduhan untuk berkontemplasi terhadap rahasia dibalik ciptaan Allah. 

Syekh Nawawi Banten menyebutkan ada lima hal yang patut dipikirkan oleh seorang muslim yaitu:
1.       Berpikir tentang ayat-ayat Allah. Baik ayat qauliyah maupun kauniyah. Maka buahnya adalah iman dan yakin
2.       Berpikir tentang nikmat-nikmat Allah akan membuahkan syukur
3.       Berpikir tentang janji-janji Allah maka buahnya adalah kerinduan dengan akhirat
4.       Berpikir tentang ancaman Allah maka buahnya adalah kewaspadaan terhadap maksiat
5.       Berpikir tentang sejauh mana ketaatan kepada Allah maka buahnya adalah takut.

Karena itu acap kali Al Quran bertanya: Afalaa taqiluun? Afalaa tatafakaruun?

Berpikirlah dan pahamilah.

Karena setan tidak pernah menyerah untuk menyesatkan manusia. Setan selalu membuat paham-paham sesat bertabur gula yang menjauhkan manusia dari Tuhannya. Ia tidak pernah lelah untuk mencari celah kelengahan seorang hamba. 

Bara dendam terusirnya dari surga telah membuatnya bersumpah:
“Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Qs Al Araaf : 16-17)

Waspadalah! 

Jadilah seperti Al Faruq yang setan takkan berani melalui jalan yang sama dengannya. Karena ketinggian pemahamannya terhadap agama ini. 

Jadilah orang yang ditakuti setan karena kefaqihannya. Lalu dengan kefaqihan tersebut mampu mematahkan argumentasi sesat. Dan membuatnya teronggok disudut menyesali nasib.

Maka bacalah!
Bacalah atas nama Tuhanmu. Lalu pahami.
Dan ketahuilah!
Ketahuilah sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah.
Afalaa Tatafakaruun? Afalaa Tatafakaruun? Reviewed by Ahmad Lamuna on 3:03 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.