Ketika Dunia Tanpa Cahaya


Gelap.
Gulita.
Tak ada cahaya setitik pun.
Apa yang dirasa?
Bagaimana jika rasa itu selamanya?
 *kontemplasi

***
"Menjadi buta itu nasib, tapi mewarnai kebutaan itu pilihan." 

Itulah satu kalimat inspiratif yang disampaikan Ramaditya Adikara saat membuka acara launching novel barunya berjudul "Dunia tanpa Cahaya" di Gramedia Matraman hari ini (Sabtu, 17 Oktober 2015).
Novel "Dunia tanpa Cahaya" terinspirasi dari kisah nyata sang penulis. Menceritakan lika-liku seorang tuna netra yang berjuang menemukan cinta. Ada latar kota favorit saya di novel ini, Palembang. Selengkapnya, baca novelnya saja ya. 

Saat acara ini, Ramaditya juga menunjukkan kemampuannya saat menulis dengan laptop. Kagum! Beliau yang tuna netra, sangat cakap menarikan jemarinya di atas keyboard. Beliau menulis dengan bantuan "screen reader", sebuah aplikasi buatan luar negeri yang akan mengeluarkan suara saat huruf-huruf dituliskan (suara dapat terdengar dengan jelas, dengan ejaan Bahasa Inggris, baik per huruf maupun per kata). Memang sangat membantu beliau yang sangat mengandalkan pendengaran. 

Ada dua penonton yang ditantang untuk menulis satu paragraf saja dengan mata tertutup dengan menggunakan laptop Ramaditya. Sayang, keduanya belum berhasil merangkai satu kata pun dengan benar. Akhirnya, tampillah Dek Echa (usia 4 tahun) menulis "Saya cantik" dengan laptop Ramaditya. Padahal, Echa juga seorang tuna netra. Takjub! Pada kesempatan itu, Echa juga didaulat untuk menyanyikan sebuah lagu berjudul "Sekuntum Mawar" dengan diiringi musik oleh Ramaditya. Bikin gerimis di hati!!! 

Ramaditya berkisah bahwa novel "Dunia Tanpa Cahaya" itu selesai dalam waktu sekitar dua pekan (mulai ditulis pada minggu pertama bulan Mei 2014 dan selesai pada minggu ketiga bulan Mei 2014). Novel ini masuk ke penerbit Desember 2014 dan baru dilaunching pada hari ini, 17 Oktober 2015.

Kata beliau, ada 3 aset yang harus dimiliki seorang penulis, antara lain:
1. Banyak baca
2. Mempunya teman yang banyak
3. Selalu berusaha menjadi pribadi yang baik.

Lewat acara ini menggugah kami bahwa kekurangan fisik bukanlah halangan untuk berkarya. Hari ini kami belajar, seorang tuna netra mampu membuat dunianya lebih berpelangi lewat karya-karyanya. Bagaimana dengan kita yang bisa melihat dunia dengan kedua mata kita?

Mari menulis! Terus semangat merangkai karya!

Salam, Aisya Avicenna
Ketika Dunia Tanpa Cahaya Ketika Dunia Tanpa Cahaya Reviewed by Ahmad Lamuna on 02.07 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.