Pemenang Lomba Peluang Naskah Momen Ramadhan 2015



Bahagia di Balik Kesedihan

Oleh: Rahmat Zubair


Tepat sembilan jam yang lalu, aku menapakkan kaki di tanah Klaten. Kupeluk semilir angin dengan aroma yang berbeda.Lebih mesra walau harus gigil dibuatnya.Jalan-jalan yang lurus dengan lingkungan yang nampak ramah, lampu-lampu penghias jalan, pepohonan dan sawah yang memberi warna hijau tempat ini membuat mata terasa lebih nikmat karena dimanja.Begitupun langit yang tersenyum menyambut kedatanganku ke sini.Gemintang genit menggoda dengan kilaunya yang menyerupa permata.Sederhana, tapi juga istimewa.
Malam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat seperempat jam. Udara dingin ini membuat aku yang cukup lelah berada dalam kereta sejak siang tadi, merasa  ingin segera beristirahat. Walhamdulillah, ada kamar khusus yang disediakan dari pihak pondok pesantren tempat mengajarku saat ini.Ukurannya tidak terlalu besar, namun cukup untuk dihuni oleh 3 orang.Aku, dan kedua temanku lainnya.
Saat kuhempaskan tubuh dan memejamkan mata, telingaku masih terpesona dengan suara-suara merdu nun syahdu.Suara lantunan ayat suci Alqur’an masih terdengar khidmat.Tak salah lagi, itu adalah suara dari anak-anak langit yang singgah di bumi.Merekalah para santri pondok pesantren yang masih setia membersamai Alqur’an di sisa-sisa waktu istirahatnya.Aku kagum dengan mereka. Apalagi ketika teringat akan apa yang telah disabdakan oleh baginda Nabi Muhammad SAW.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad yang hasan, dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhubahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Puasa dan Alqur’an kelak di hari kiamat akan memberi syafa’at kepada seorang hamba. Maka berkatalah puasa, “Ya Rabbi,aku telah menghalangi dia makan dan syahwatnya di siang hari, izinkanlah aku untuk memberi syafaat kepadanya.’ Lalu berkata Alqur’an, ’Ya Rabbi, aku telah menghalangi dia tidur malam, izinkanlah aku untuk memberi syafaat kepadanya,’ berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Kemudian mereka memberi syafaat.”
Maka seketika itu juga, bibirku melafalkan potongan ayat Alqur’an yang alhamdulillah telah kuhafal dengan sempurna. Kubaca surat Al-Baqarah untuk mengantarkan lelah dan kantukku. Dan dengan tidak kusadari, akupun tenggelam dalam bacaan, dan tertidur pulas.
                                                            ****
“Ris, ada apa?” Kulihat temanku Aris yang sedang menggigil kedinginan.Saat itu waktu menunjukkan pukul dua dini hari.Yang ditanya hanya mendesah.Nampaknya dia sedang ditimpa sakit.Kuletakkan punggung tanganku ke keningnya, dan ternyata benar.Nampaknya dia demam.Suhu tubuhnya cukup tinggi.Maka kubalut dia dengan selimut tambahan milikku agar dia tubuhnya kembali mengeluarkan keringat.Kasihan juga dia, mungkin karena perjalanan yang melelahkan.Atau bisa jadi juga karena AC kereta yang menyala terlalu dingin.
Kuoleskan juga minyak kayu putih ke sekujur punggung dan perutnya. Kemudian kuambil segelas air, dan membacakannya dengan surat Al-Fatihah beserta doa yang biasa dibacakan oleh Rasul SAW ketika mengobati sahabatnya yang sakit. Doanya seperti ini, ”Bismillahirrahmaanirrahiim, a’uudzu bi’izzatillahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir. La ba’sa bihi tohuurun in syaa Allah…” lalu kusuruh Aris untuk segera meminumnya.
Ibuku memang selalu seperti itu.saat adik-adikku sakit, ia bersikap tenang dan tidak mau terburu-buru membawanya ke dokter. Memang aku pernah membaca buku tentang “The True Power of The Water.” Di buku karya Dr. Masaru Emoto ilmuwan besar Jepang itu diungkapkan bahwa, jika air dikatakan kata-kata atau kalimat yang baik seperti cinta, damai, dan sebagainya, maka air itu akan membentuk Kristal-kristal yang baik laksana mahkota. Sebaliknya, jika ia diberikan ucapan negative, maka Kristal-kristal yang terbentuk agan berantakan dan tidak beraturan. Sehingga pengaruhnya pun sangat berbeda.
Aku sempat berpikir dan meresapi sejenak. Ternyata sungguh benar apa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada kita sungguh berkhasiat. Islam telah menganjurkan umat muslim untuk membaca doa dalam setiap amal perbuatan. Salah satunya adalah berdoa sebelum makan atau minum.Begitupun setelahnya.Dan mungkin begitulah hasilnya. Jika air itu diucapkan dengan kata-kata baik saja bisa mengubah kondisi air menjadi baik, bagaimana dengan doa? Pasti jadi lebih baik dan sempurna khasiatnya.
“Kau tidur dengan apa, Zub?” tanya Aris dengan suara gemetar.
“Tenang saja, jangan dipikirkan.Aku memang terbiasa tidur sedikit, apalagi kalau di tempat baru.Lagipula, aku kebelet mau ke kamaar mandi juga,” jawabku.
“Oh, begitu. Yasudah, terima kasih ya jasanya,”
“Sama-sama, Akhy…,”
Saat Aris mulai memejamkan matanya lagi, aku segera melangkah menuju kamar mandi.Karena dirasa tanggung, maka aku berwudhu dan melawan sisa-sisa kantuk untuk melangkahkan kaki menuju masjid.Lagi-lagi, aku kembali dibuat takjub oleh banyaknya sosok yang menghidupkan malam.Para santri ada yang sholat tahajud, ada pula yang sedang menghapal ataupun mengulang hapalannya.
Aku masuk, kemudian memulai dengan sholat tahiyyatul masjid yang disambung dengan sholat tahajjud 8 rakaat dan witir sebanyak 3 rakaat.
Seusai salam, doa penuh harap kupanjatkan kepada sebaik-baiknya tempat meminta. Dia Maha Pengabul doa, apalagi di saat-saat seperti ini. Dulu, ustadz yang pernah mengajarkanku di pesantren pernah berpesan, “Tahukah kalian akan kunci kesuksesan yang kalian impi-impikan itu?Jangan kau tinggalkan qiyamullail, serta jangan berhenti untuk menghidupkan Alqur’an.”
Dan semua pesannya sangat jelas dalam ingatan. Walau terkadang aku memang masih sering lalai, namun aku yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang selalu berusaha berbuat kebaikan untuk mengharap ridho dan rahmat-Nya. Dan akupun mulai belajar untuk membiasakan diri mengamalkan kedua hal tersebut.Maka darinya, tak luput doaku terpanjat agar aku sukses dimasukkan ke dalam golongan orang-orang sabar, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shalih.
Masih berselimut udara dingin, membuat tubuh menggigil dan meraasa selalu ingin kembali ke ranjang dan berselimut lagi.Mata pun jadi kembali terasa berat.Maka kupaksakan diri untuk bangkit berdiri, tak mau mengalah dengan kantuk.Apalagi, di sekelilingku ada beberapa anak yang masih semangat menghafal Alqur’an.
Kulirik ke setiap sudut masjid, memperthatikan bagaimana semangat mereka mengejar ridho Allah lewat lantunan ayat suci-Nya.Namun, ada seorang anak di pojok kanan masjid yang terlihat sedang menangis tersedu-sedu. Maka, sengaja kuhapiri ia karena penasaran. Kubatasi jarak antara aku dan dia sejauh 2 meter di belakangnya.
“Ya Allah, sebentar lagi datang bulan suci nun agung.Maka kuatkan aku, dan kokohkan langkahku untuk menyelesaikan hafalan ayat-ayat-Mu pada bulan itu.Sudah teramat rindu aku ingin berjumpa dengan ayah dan ibuku.Maka berilah kesempatan diriku untuk mempersembahkan mereka mahkota terindah.Yang kupasang sendiri di kepala mereka.Agar mereka terlihat lebih tampan dan cantik. Pun agar mereka tidak selalu merasa kegelapan di alam sana” Begitulah bunyi doayang dihaturkan dari bibir seorang anak kecil seusia bangku sekolah SMP. Dan itu amat membuatku terpukul.Siapakah aku, dibanding anak langit berhati mulia ini?
Air mataku pun ikut meleleh.
                                                            ****
Matahari sudah hampir tenggelam.Selepas ashar tadi, para santri terlihat amat senang setelah melakukan pawai penyambutan bulan suci Ramadhan.Wajah-wajah surga itu terlihat berseri.Entah sudah ke berapa kalinya aku dibuat kagum sekaligus malu.Ya Rabbi, terimakasih Engkau telah mengirimkan mereka sebagai pemicu diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.Gumamku.
Jadwal imam tarawih kali ini adalah Ustadz Umar.Beliau adalah lulusan Universitas Al-Azhar Kairo yang telah menyempurnakan hapalan Alqur’an, beserta sanad hapalannya.Baru saja tadi siang aku mengenalnya.Namun, rasanya aku begitu mengaguminya.Dari tutur kata dan sikapnya benar-benar sangat dijaga.
Begitupun dengan Ustadz Darus yang tadi juga sempat menyapa dan mengobrol bersama.Hampir sama sikapnya sebagai penghapal Alquran seperti Ustadz Umar. Umurnya masih dua puluh tiga tahun.Itu berarti beliau sudah dua dua tahun lebih tua di atasku.Tapi subhanallah, dalam sikap kalem dan rendah hatinya, ternyata beliau justru sudah memiliki dua sanad hapalan Alqur’an dari para syaikh di Mekkah.Akupun jadi agak minder.
“Ustadz Darus, bagaimana sih cara menghapal atau memurojaah hapalan agar ngelotok di otak?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.
“Antum salah besar, Akh …” jawabnya pendek.
“Lho, maksudnya apa?” Keningku semakin mengkerut kebingungan.
“Alquran itu bukan untuk disimpan di otak, tapi di hati.Apapun itu, jika kita tidak mampu menaruh atau menyimpannya di hati, maka akan dengan mudah hilang,” jelasnya santai.
“Begitu pula Jibril menyampaikan wahyu agung ini kepada Rasulullah SAW. Coba deh kamu ingat-ingat ayat mana yang menjelaskan hal ini?” lanjutnya.
“Surat Al-Baqarah kan?Kalau nggak salah masih di juz 1 ayat 97. ‘Qul man kaana ‘aduwwal-lijibriila fainnahu nazzalahu ‘alaa qolbika bi iznillah,”
“Tepat sekali! Barokallahu fiikum, rasulullah adalah satu-satunya yang tak akan pernah lupa dengan Alqur’an walaupun satu huruf. Kenapa?Karena Allah langsung menurunkannya lewat perantara Jibril tepat ke hatinya,” Ustadz Darus kembali menjelaskan.
“Tapi, bukannya setiap bani Adam tidak akan luput dari dosa dan khilaf atau lupa?” balasku.
“Ya, ana sendiri sangat setuju dengan pendapatmu itu.manusia memang tidak akan pernah luput dari lupa. Tapi, yang perlu kita perbaiki sekarang adalah bagaimana kita bisa menghapal atau menjaga dengan segenap ketulusan, agar bisa nempel di hati,” timpal Ustadz Darus sambil menunjuk ke dadanya.
Akupun terdiam dalam syahdunya waktu di antara maghrib dan isya. Rasanya ingin menangis terharu, apalagi membayangkan betapa aku masih banyak sekali kekurangan.Suara lantunan Alqur’an masih terdengar beriringan.Suasana masjid yang ramai itu mencipta kedamaian.Membuat hati terasa sejuk, dan terharu.
                                                            ****
Waktu shalat isya tiba.Kami shalat isya dan kemudian dilanjutkan dengan tarawih sebanyak 8 rakaat beserta witir sebanyak 3 rakaat.Hari pertama berjalan begitu nikmat.Begitupun dengan hari-hari berikutnya.Apalagi dengan suara para imam yang amat merdu, membacakan 1 juz setiap malamnya membuat suasana Ramadhan begitu mengharu biru.Aku tersentuh.Baru kali ini aku merasa setenang ini.
Kemudian tiba jua di hari ke sepuluh puasa.Namaku tercantum dalam jadwal imam shalat tarawih untuk malam ke sebelasnya. Aku sudah cukup siap dengan juz 11 yang akandibacakan nanti. Semoga saja tidak ada halangan agar tarawihnya juga semakin khidmat.Gumamku penuh harap.
Namun di hari ke sepuluh ini, ada salah satu santri didik yang sudah menyelesaikan hapalannya.Aku memang belum tahu pasti siapa orangnya.Karena tidak mungkin juga bagi seorang pendidik baru sepertiku, sudah langsung menghapal 400 santri di sini.Penasaranku membuatku bertanya pada salah seorang santri.
“Assalamualaikum.Siapa nama kamu, Nak?” tanyaku pada seseorang yang bercelana biru.
“Waalaikumussalam, Ustadz.” Bocah itu merunduk penuh santun, kemudian mencium tanganku yang menyalaminya.
“Oh iya, dengar-dengar, ada yang sedang menyelesaikan hapalannya ya?Siapa dia dan halaqah siapa?” tanyaku menginterogasi.
“Iya ada. Namanya Ibnu Hajar Al-Atsqalani, anak kelas delapan A. kebetulan sekelas denganku. Dia juga satu halaqah denganku bersama Ustadz Darus,” jawabnya meyakinkan.
“Oh begitu ya.Kalau begitu, boleh minta tolong sampaikan kalau saya mau ketemu dia nanti ba’da ashar di masjid, ya!”
“Insya Allah nanti saya sampaikan ya, Ustadz.”
“Oke syukron,”
Aku semakin penasaran, siapa gerangan bocah kelas 8  yang sudah menyempurnakan hapalan Alquran secepat itu. maka tibalah waktu yang ditunggu. Dan dia benar-benar dating menghampiriku.
“Assalamualaikum, Ustadz. Saya Ibnu Hajar. Ada pesan dari teman saya kalau antum memanggil saya.Benarkah itu?”Bocah itu kupersilakan duduk di sampingku.Wajahnya teduh dan berseri.Tidaj salah lagi, dialah orang yang dulu pernah kulihat menangis saat qiyamullail saat itu.
“Oh iya benar.Ustadz sengaja memanggilmu.Ke sini lebih dekat, Nak.Ada yang mau kubicarakan denganmu,” ajakku sambil meraih pundakknya.
Aku pun berbincang sekitar tiga puluh menit.Ternyata, dia adalah seorang yatim piyatu. Kedua orangtuanya meninggalkannya saat ia masih berusia lima tahun. aku sungguh tak menyangka kalau keadaannya memang seperti itu.
Sejak awal, aku memang salut padanya.Atau bisa dibilang iri dengan tekad baja yang dimilikinya. Sejak kehilangan itu, ia benar-benar bertekad menjadi seorang penghapal Alquran semuda mungkin. Dan Alhamdulillah, cita-citanya pun bisa tercapai saat ini. Pagi tadi saat halaqah Alqur’an, dia menyetorkan hapalan terakhirnya.Ustadz Darus pun mendoakannya. Dalam hati, akupun berdoa agar dia menjadi ulama yang bisa membangun peradaban qur’ani di Indonesia khususnya.
Namun, ada kabar buruk yang menimpanya.Diam-diam, ternyata dia juga sedang mengidap penyakit mematikan tanpa sepengetahuan yang lainnya.Kondisinya memang sehat-sehat saja, namun ada kelainan pada organ tubuhnya. Hingga selepas sholat maghrib, ia pun menutup lembaran hidup mulianya. Ibnu Hajar Al-Atsqalani meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah.
Setelah berbuka puasa dan shalat maghrib, ia muraja’ah hapalannya di masjid. Karena belum istirahat, ia bersandar ke tembok melepas lelah. Dalam keadaan bibir merapal ayat suci-Nya, dia pun akhirnya dipanggil oleh Allah SWT.Bibirnya menyunggingkan senyum laksana anak-anak surga.Semua terharu dan ikut berduka cita.Namun, ada kebahagiaan besar di balik kesedihan atas kepergiannya.Dia adalah penuntut ilmu.maka, sebelum ia kembali pulang ke rumahnya, berarti dia masih berada di jalan Allah. Semoga, dia termasuk ke dalam golongan para syuhada.

                                                            --TAMAT--

Biodata Penulis
Nama pena : Rahmat Zubair. Saat ini tergabung di FLP Jakarta, Pramuda 19.


Catatan dari Divisi Karya FLP Jakarta
Rahmat Zubair merupakan pemenang pertama dalam Peluang Naskah Momen Ramadhan yang diadakan internal oleh FLP Jakarta periode 14 Juni s/d 31 Juli 2015. Walau masih ada kekurangan, tetapi naskah di atas tergolong memenuhi kriteria-kriteria yang ditentukan dan Divisi Karya sengaja tidak melakukan pengeditan untuk menjaga orisinalitas. Pemenang telah mendapatkan hadiah bingkisan berupa sebuah karya dari penulis ternama; Sinta Yudisia, piagam dari Divisi Karya FLP Jakarta dan karyanya berhasil dimuat di sini. Selamat ya, Rahmat! :)
Jakarta, 16 Agustus 2015 




Pemenang Lomba Peluang Naskah Momen Ramadhan 2015 Pemenang Lomba Peluang Naskah Momen Ramadhan 2015 Reviewed by Divisi Karya FLP Jakarta on 4:58 AM Rating: 5
Powered by Blogger.