Gaya dan Kepribadian Seorang Penulis



Banyak yang mempersamakan antara gaya bahasa dengan gaya penulisan. Tetapi apakah benar-benar sama? Menurut saya tidak.

Gaya bahasa (pemajasan) adalah merupakan teknik pengungkapan bahasa, yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan/yang tersirat. Gaya bahasa juga disebut sebagai figures of thought.

Beberapa contoh gaya bahasa:
1.      Perbandingan/Persamaan.
-          Perbandingan langsung (simile) biasanya menggunakan kata-kata: seperti, laksana, bagaikan, mirip dll
Contoh : Dukuh Paruk kelihatan remang seperti kerbau besar yang sedang tidur lelap.
-          Perbandingan tidak langsung (metafora) tidak menggunakan kata-kata : seperti, laksana, bagaikan, mirip dll
Contoh : Dukuh Paruk yang remang adalah kerbau besar yang sedang tidur.
2.      Pertautan.
Contoh : Ia suka membaca Tohari
3.      Hiperbola (Pelebih-lebihan)
Contoh : Dukuh Paruk memiliki kebodohan yang langgeng.

Sedangkan gaya penulisan (figures of speech) atau biasa juga disebut dengan gaya penceritaan (pada fiksi) adalah merupakan teknik pengungkapan cerita.

Mengenai gaya penulisan ini, ada dua buah cerita yang ingin saya sampaikan disini.

Yang pertama. Seorang teman pernah bertanya kepada saya. Bagaimana bisa membuat cerpen seperti saya? Saya tanyakan kepadanya, kenapa harus seperti saya? Kenapa tidak membuat cerpen seperti yang selama ini ia buat? 

Lain waktu saya mengomentari cerpen teman saya yang lain. Mengapa ceritanya selalu buram dan hitam. Mengapa ia tidak pernah sekalipun pernah membuat cerpen seperti saya yang penuh warna ceria? Ia yang sudah sepuluh tahun lebih menjadi penulis itu menjawab tidak bisa.

Teman saya ini -melihat jam terbangnya- jauh lebih senior daripada saya. Tentu saja kualitas cerpennya pun jauh lebih bagus ketimbang saya yang baru menjadi calon penulis. Tetapi mengapa ia tidak bisa membuat cerpen seperti yang saya buat? Apakah karena ia kurang latihan? Tidak mungkin!

Sesungguhnya jawaban dari kedua kasus diatas adalah karena menulis bukanlah sebuah pekerjaan teknis semata. Menulis juga merupakan sebuah pekerjaan ekspresif. Karenanya dalam menulis, kita tidak akan pernah bisa menjadi orang lain. Sekuat apapun kita berusaha untuk menirunya. 

Dalam menulis, setiap orang memiliki gaya penulisan yang berbeda-beda. Hal ini tergantung dari watak dan kepribadian masing-masing penulis. Cerita-cerita yang dibuat oleh Zaenal Radar dan Novia Syahidah sangat-sangat berbeda. Begitu juga karya Helvy Tiana Rosa jika dibandingkan dengan karya-karya adiknya, Asma Nadia. Bahkan kita dapat dengan sangat mudah mengenali gaya penulisan seorang penulis senior walaupun ia menggunakan nama samaran baru.

Gaya penulisan, bukanlah sebuah unsur karya yang perlu dipelajari secara khusus. Ia muncul dengan sendirinya dari kedalaman jiwa. Karenanya ia tidak dapat dipaksakan oleh siapapun.

Lalu bagaimana kita mencari dan menemukan gaya penulisan kita?

Saya tidak pernah mencari gaya penulisan saya. Dan saya juga tidak pernah mencoba untuk mengubah gaya penulisan saya. Semua mengalir begitu saja. Karena bagi saya, untuk mengubah gaya penulisan, sama dengan mengubah kepribadian saya. 

Sedangkan untuk menemukan gaya penulisan kita sama dengan kita mencoba mengenali kepribadian kita. Untuk mengenali gaya penulisan kita tentu dengan banyak menulis dan membaca ulang karya kita. Maka setelah beberapa karya kita hasilkan, kita akan mengenali gaya penulisan kita sendiri. 

Satu pesan yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini berdasarkan uraian diatas adalah, jadilah diri kita sendiri! Tulislah sebuah karya sesuai dengan apa yang keluar dari dalam jiwa kita sendiri. Karena sebuah tulisan yang kita tulis dari dalam jiwa kita, akan lebih kuat, dibanding apabila kita menulis hanya dengan mengandalkan teknik kepenulisan semata.
Gaya dan Kepribadian Seorang Penulis Gaya dan Kepribadian Seorang Penulis Reviewed by Ahmad Lamuna on 04.54 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.