Ruhani Seorang Da'i



Ketika kita sudah berkomitmen untuk berjuang menegakan kalimat Allah, menyeru manusia untuk hanya tunduk kepada-Nya, maka kita harus sadar bahwa jalan yang kita pilih adalah jalan yang terjal, penuh onak berduri. Jalan da’wah adalah jalan yang penuh gelombang, badai dan berbatu. Sebuah perjuangan yang menguras emosi, tenaga, pikiran, airmata bahkan mungkin darah. Sering kita dibuat tersenyum dan tertawa, tetapi tidak jarang kita dibuat menangis, marah, kecewa, dan sedih.
Karena itu, dalam meniti titian ini diperlukan iman, ikhlas, sabar dan optimis. Iman kepada Allah dan hari akhir karena kesudahan hanyalah milik-Nya. Ikhlas dalam bergerak karena balasan hanyalah dari-Nya. Sabar dalam setiap menghadapi tantangan yang menguras asa. Dan optimis karena kemenangan adalah kepastian.
Intinya adalah kekuatan ruhani seorang da’i merupakan kunci dalam menentukan berhasil/gagalnya sebuah da’wah. Kekuatan ruhani merupakan faktor terpenting yang wajib dimiliki seorang da’i. Sebuah kekuatan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang bertakwa.
Lalu bagaimana cara mendapatkan kekuatan ruhani itu?
DR. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya yang berjudul Tarbiyah Ruhiyah menyebutkan bahwa ada lima faktor penting dalam mencapai takwa.
1.        Mu’ahadah
Mu’ahadah adalah mengingat perjanjian-perjanjian yang telah kita buat kepada Allah. Hendaknya setiap kita menyendiri dan mengingat perjanjian-perjanjian yang telah kita buat kepada Allah. Dengan mu’ahadah kita akan tetap istiqamah dalam melaksanakan syariat Allah
2.        Muraqabah
Muraqabah adalah merasakan keagungan Allah di setiap waktu dan keadaan, serta merasakan kebersamaannya dalam sepi maupun ramai. Dengan muraqabah kita akan ikhlas, karena setiap fi’il adalah untuk-Nya. Dengan muraqabah kita akan istiqamah. Tak terpengaruh oleh situasi dan kondisi.
3.        Muhasabah
Makna muhasabah adalah hendaknya seorang muslim menghisab dirinya setelah melakukan sebuah amal. Apakan amal itu benar-benar semata untuk meraih ridha Allah ataukah tercampur dengan kepentingan pribadi, riya, ujub atau malah telah mengurangi hak-hak orang lain? Apakah amal yang kita lakukan sudah maksimal? Atau dilaksanakan sekedarnya?
Di samping itu muhasabah juga melakukan perhitungan diri antara amaliyah dan dosa. Apakan amaliyah yang kita lakukan sudah cukup menutup dosa? Lalu bagaimana dengan pertobatan?
Dengan muhasabah kita akan terbebas dari penyakit hati.
4.        Muaqabah
Muaqabah adalah pemberian sanksi. Sudah sepatutnya bagi kita jika kita telah melalaikan Allah, kita beri sanksi diri kita sebagai mana orangtua memberi sanksi kepada anaknya yang bersalah. Semoga dengan melakukan muaqabah kita menjadi jera berbuat dosa.
5.        Mujahadah
Mujahadah adalah bersungguh-sungguh dalam melaksanaan ibadah. Di sana ada makna memaksakan diri untuk berbuat yang terbaik, menyerahkan yang terbaik dan mengoptimalkan diri dalam beramaliyah. Ibadah adalah tarbiyah. Dengan mengerahkan kapasitas maksimal, itu artinya kita membangkitkan potensi yang terpendam dalam diri kita. Maka integritas kita akan semakin meningkat.

.

Faktor-faktor yang menumbuh suburkan ruhiyah

Selain faktor-faktor untuk mencapai ketinggian ruhiyah tersebut di atas, buku tersebut juga memaparkan faktor-faktor yang menumbuh suburkannya. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu kelompok yang berkaitan dengan kepekaan jiwa dan kelompok amaliyah lahiriyah.

1.        Yang termasuk kelompok yang berkaitan dengan kepekaan jiwa adalah:
a.        Selalu merasakan muraqabah kepada Allah
Hendaknya kita selalu meyakini bahwa Allah selalu bersama kita dimanapun kita berada. Ia Maha Melihat, Maha Mendengar, juga Maha Mengetahui. Dan dalam muraqabah secara konsisten ini cukuplah kita mencontoh Umar ibn Khattab r.a. Disana ada seorang gembala yang muraqabah, seorang gadis yang muraqabah, juga seorang istri mujahid yang muraqabah.

b.        Mengingat kematian dan kehidupan sesudahnya
Apabila seorang mukmin senantiasa mengingat bahwa kematian pasti menjemputnya, lalu ia akan ditanya dalam kesendiriannya dalam kubur, tentu hatinya akan peka kepada perasaan takut kepada Allah, jiwa/raganya akan tergerak untuk beramal shalih demi membawa bekal kepada hari yang dijanjikan. Karenanya maka dzikrul maut adalah sesuatu yang urgent untuk dilakukan.
Bahkan Rasulullah pun menegaskan bahwa mukmin yang paling jenius adalah mukmin yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak persiapannya untuk menghadapinya.
Itulah makannya para ulama generasi salaf, sering berkumpul pada malam hari hanya untuk membicarakan kematian kemudian mereka menangis seakan-akan  dihadapan mereka ada jenazah.
Saya rasa cukuplah dengan perkataan Hamid al-Qushairy bahwa: ”Kita semua yakin dengan akan datangnya maut, namun kita tidak mempersiapkan diri. Kita semua yakin akan surga, namun kita tidak beramal untuknya. Dan kita semua yakin akan adanya neraka namun kita tidak merasa takut kepadanya. Lalu atas dasar apa kita bersuka ria?”
c.        Membayangkan hari Akhirat dan hal-hal yang berkaitan dengannya
Ketika kita membayangkan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh ahli surga dan ahli neraka, kejadian di padang mahsyar, dibaginya catatatan amal perbuatan, perjalanan pada titian sepertujuh rambut, maka kita akan terlecut untuk beribadah dan bersungguh-sungguh mendekatkan dirinya pada Allah. Bahkan seluruh jiwa/raga akan bangkit untuk melaksanakan amal shalih untuk hari akhir nanti agar kita termasuk orang-orang yang saling ridha kepada Allah.
Karena itu marilah kita bayangkan peristiwa-peristiwa itu.
Di mana kita dibangkitkan dari kubur dalam telanjang bulat dengan cemas yang mengabut cuaca
Di mana mentari mengusap kepala dan peluh mengolam laut
Di mana bumi menjadi saksi bicara dan kita tak mampu berharap
Di mana kita melupa siapa di atas mizan, di depan kitab perbuatan dan pada titian jahanam
Di mana jasad menghianati nafsu dan lisan
Marilah kita ingat pula tentang gelapnya jahanam, tentang dalamnya neraka, tentang bahan bakarnya yang adalah batu dan kita, tentang gada-gadanya yang tak mampu jin dan manusia mengangkatnya bersama, tentang busuk baunya, tentang zaquum, juga tentang airmata darah ahli neraka yang memarit.
Tetapi jangan pula dilupakan bahwa Allah juga telah menyiapakan untuk hamba-hamba-Nya yang shalih apa yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terbetik di dalam hati manusia. Yakni diperkenankan untuk melihat Allah secara langsung sebagai nikmat yang terbesar.

2.        Faktor-faktor Amaliyah Lahiriyah
Amaliyah yang menumbuh suburkan ruhiyah sebenarnya banyak sekali, tetapi ada beberapa yang terpenting. Diantaranya
a.        Tilawah Al-Qur’an dengan mentadabburinya
Bacaan yang disertai tadabbur yang khusyu’ mampu mempertajam pandangan yang sudah tumpul, pemusnah pandangan yang sempit dan obat bagi hati yang sakit. Hendaknya kita menjadikan al-Qur’an sebagi sahabat yang tak pernah kita tinggalkan barang sehari. Karena dengan Al-Qur’an kita menjadi dekat dengan Allah. Ialah furqan yang membedakan haq dan batil. Biarkan Qur’an menyapa hati, ruh dan fikiran kita. Dengan menjadikan Qur’an sebagai rujukan kita tak akan tersesat dalam berjalan.
b.        Hidup bersama dengan Rasulullah dan mencontoh sirahnya yang Agung
Beruntunglah kita sebagai umat Muhammad saw. Karena beliau adalah uswah hasanah, qudwah shalihah dan panutan terbaik di dunia ini. Allah terlah memilihkan bagi kita sosok tanpa cela untuk diikuti. Seorang raja yang juga rahib. Seorang bijaksana yang juga pemberani.
Sudah sepatutnya seorang da’i mencontoh Rasulullah dalam beragama dan keduniawian. Dalam ibadah, dalam kezuhudan, ketakwaan, kesabaran dan kelembutan, keteguhan prinsip, keberanian, kekuatan fisik, serta kehangatan cintanya.
c.        Selalu menyertai orang-orang pilihan yang mereka yang berhati bersih dan mengenal Allah.
Seseorang itu bersama dengan orang yang dicintainya. Karena itulah kita patut untuk bergaul dan bersama dengan orang-orang yang shalih dan ikhlas. Kita memerlukan mereka karena mereka akan menjaga ketakwaan kita. Meliputi lingkungan kita dengan dzikir dan ketaatan. Saling menasehati dalam kebenaran, dalam kesabaran dan dalam kasih sayang. Hidup seorang mukmin dengan orang yang salih seperti hidup seekor ikan di dalam kolam.
Sungguh indah ukhuwah dalam iman dan ketakwaan, percintaan dalam pengabdian, persaudaraan dalam jihad dan kebenaran, dan kasih-sayang dalam penghambaan.

d.        Dzikir kepada Allah dalam setiap waktu dan kesempatan
Dzikir adalah mengingat Allah dalam semua kondisi. Dzikir terdiri atas dzikir hati, pikirian, lisan dan perbuatan. Dzikir perbuatan mencakup tilawah, ibadah dan menuntut ilmu.
Berdzikirlah dengan sungguh-sungguh secara kontinu. Semoga kita naik ke ketinggian rohani, mendapat kehormatan dalam munajat, menjadi seorang yang khusyu’, dan tak pernah terbetik dalam maksiat kepadanya.
e.        Menangis kepada Allah dalam waktu khalwat
Kala kita berkhalwat, membayangkan keberpalingan kita dan kemaksiatan yang kita perbuat, membayangkan akhirat dan bekal yang telah kita persiapkan untuknya, membandingkan kualitas ibadah kita dengan para salafus-shalih, maka semoga hati menjadi trenyuh, jiwa menjadi bergetar, dan tanpa terasa airmata jatuh di pipi. Tak hanya itu, hendaknya kita mampu menangis karena: takut riya dalam ibadah, takut ujub dalam kecukupan, takut nifaq dalam bergaul, dan takut sombong dalam berhias. Sungguh dosa-dosa itu tak pernah kita sadari menyelusup dengan halus ke dalam hati yang merasa aman dalam pengabdian kepada Allah.
Orang yang paling takut adalah orang yang paling mengenal dirinya dan Rabb-nya. Karena itulah Allah telah  memberikan keistimewaan pada tangisan kita hari ini dengan tawa diakhirat kelak.
Orang yang menangis berada dalam naungan pada hari tak ada naungan kecuali naungan Allah. Orang yang menangis, akan terbebas dari azab Allah. Orang yang menangis berada dalam ampunan dan maghfirah-Nya. Dan orang yang menangis berada dalam limpahan cinta dan kasih-Nya.
f.         Bersungguh-sungguh membekali diri dengan Ibadah nafilah.
Ibadah nafilah merupakan sarana pembekalan diri seorang hamba apabila si hamba merasa kurang dengan kewajiban-kewajiban yang telah ia laksanakan. Semoga dengan ibadah nafilah kita diangkat ke tempat yang terpuji.
Sebenarnya banyak sekali ibadah nafilah yang dapat dilaksanakan, beberapa yang terpenting di antaranya : Shalat Lail, Shalat Dhuha, Shalat Awwabin,  Shaum Senin-Kamis, Shaumu-Daud, Shaum Yaumul-‘Arafah, Shadaqah Nafilah dll.

Pengaruh Tarbiyah Ruhiyah dalam Pembinaan, Perbaikan dan Pembaharuan Ummat
Apabila kita telah  memancarkan rohani, berhubungan erat dengan Allah dan ketakwaan, maka tersingkaplah makna dan hakikat. Terbukalah rahasia-rahasia yang hanya dapat di tangkap oleh orang yang jenius dan takwa.
Apabila jalan rohani telah kita daki. Dan derajat takwa telah kita raih. Cinta kasih-Nya telah meliput diri. Maka Cahaya Iman akan memancar dalam setiap desah nafas. Cahaya itu akan menyapa sekeliling bagai mentari. Jika cahaya itu menyirami hati yang kerontang, maka suburlah hati itu. Jika cahaya itu menyinari kegelapan batin, tentu teranglah ia.
Maka jalan da’wah akan terasa mudah, perjuangan akan terasa ringan, dan pengorbanan menjadi suatu kejamakan.
Kekuatan ruhani inilah yang nantinya menjadi senjata yang mematahkan tiang pancang kebatilan, menghancurleburkan kemaharajalelaan, dan proklamator kemenangan da’wah dan peradaban islam.
Semoga kita mewujudkannya. Amin.
Ruhani Seorang Da'i Ruhani Seorang Da'i Reviewed by Ahmad Lamuna on 7:33 AM Rating: 5

4 comments:

  1. Aamiin. Gimana caranya berdzikir setiap saat?

    ReplyDelete
  2. Sebutlah Allah (dalam hati) dalam setiap keluar masuknya nafas.

    ReplyDelete
  3. Masya' Allah. Makasih banyak A Mumun.
    Request artikel khusus tentang zikir Allah yang diucapkan setiap saat ini dong kalo boleh...misalnya meliputi: gimana kalau sedang bicara, sesulit apa ngebiasain diri seperti itu, dsb...kalo bisa lebih ke aplikasinya, bukan dalilnya.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.