Penulis Jadi-jadian



Membuat buku itu gampang!

Yang penting ada naskah. Maka tinggallah dicetak.

Akan tetapi setelah itu, kita akan berhadapan dengan para pembaca yang akan mengritisi karya yang sudah terbit itu. Pembaca yang telah mengorbankan uangnya untuk membaca karya yang bermutu. Pembaca yang akan kecewa apabila mendapatkan buku yang dibelinya ternyata jauh berada dibawah ekspektasinya. Dan pembaca yang akan mencoret nama kita karena ‘rusak’nya karya kita itu. 

Maka matilah karir kepenulisan kita. 

Maka janganlah menjadi penulis jadi-jadian. Penulis yang kurang sabar dalam berproses untuk menjadi.
Kurang sabar dalam belajar.  Kurang sabar dalam membaca. Maka membacalah. Pertama membaca buku EYD dan Kamus Tata  Bahasa Indonesia . Seorang penulis wajib memiliki buku  petunjuk EYD. EYD dan Tata Bahasa yang baik akan membantu pembaca untuk menikmati bacaannya dan menangkap dengan jelas maksud pengarangnya. Maka barang siapa yang tidak memiliki buku petunjuk EYD, (kalau anda seorang muslim) sebaiknya anda mengundang saya untuk menakbirkan anda empat kali.

Manfaat membaca bagi seorang penulis adalah bahwa dengan banyak membaca maka kosa kata anda akan semakin kaya. Membaca sedikit-banyak akan membantu meningkatkan ketrampilan  komunikasi tulis anda. Dan tanpa sadar  bacaan yang ada baca akan menjadi benchmarking anda dalam menulis.

Masih tentang manfaat lain dari membaca. Dengan membaca maka tulisan anda akan sangat kuat argumentasinya.  Karena begitu banyaknya pengetahuan yang anda peroleh dari membaca, anda akan mampu melihat suatu persoalan secara komprehensif. Struktur logika andapun terasah. 

Yang paling penting dari membaca,  anda akan dapat menunjukan point of interest dari tulisan anda.
Maka janganlah menjadi penulis jadi-jadian. Penulis yang kurang sabar dalam berproses untuk menjadi.
Kurang sabar dalam berlatih. 

Menulis adalah ketrampilan. Ia adalah kecerdasan psikomotorik. Maka dalam menulis, yang penting adalah bukan teorinya. Ia tak ubahnya seperti bermain gitar, berenang atau berolahraga. Maka pelatihan-pelatihan menulis yang  anda ikuti tak akan ada gunanya kalau anda tidak pernah memegang pena atau mengentakkan jemari anda di papan tuts untuk merangkai kata menjadi kalimat. 

Maka nasihat yang paling baik bagi seorang calon penulis adalah menulislah sebanyak-banyaknya. Sediakan waktu anda setiap hari untuk menulis.  Dan penuhilah isi keranjang sampah di rumah anda dengan tulisan anda.  

Menulislah tanpa peduli apakah tulisan anda akan dimuat di media, atau tidak. Hal itu tidak penting saat ini. Yang penting apakah anda sudah menulis hari ini atau belum? 

Bersabarlah! Kelak  akan tiba masanya tulisan anda dimuat di media massa. 

Dengan menulis lebih banyak, paling tidak akan meningkatkan kecepatan menulis anda. Dan dengan meningkatnya kecepatan menulis anda, maka akan meningkatkan produktifitas tulisan anda.

Maka janganlah menjadi penulis jadi-jadian. Penulis yang kurang sabar dalam berproses untuk menjadi.
Kurang sabar dalam menyunting naskah. 

TULISAN TERBAIK TIDAK PERNAH DITULISKAN!  Begitulah kata Muhammad Diponegoro dalam bukunya. Maksudnya adalah tulisan terbaik tidak pernah dituliskan dalam sekali duduk. Draft pertama bukanlah tulisan yang sudah ‘jadi’. Draft pertama adalah bentuk kasar dari tulisan kita. Harus ada proses penyuntingan. Bukan sekadar edit kecil, tetapi juga mungkin adalah tulis ulang. Baca ulang tulisan yang telah kita tulis. Lihat kerangka logikanya, alur berfikirnya, unsur-unsur instrinsiknya, tata tuturan dan juga bahasanya. Jadi jangan pernah mengirimkan naskah yang berupa draft pertama.

Saya sangat yakin kalau anda juga sebenarnya kurang puas dengan tulisan draft pertama anda. Anda akan sangat tahu bagian mana yang harus diperbaiki. Maka perbaikilah tulisan anda. 

TULIS ULANG!

Lalu suntinglah sampai anda sendiri dan orang-orang terdekat anda juga puas. Dan kirimlah naskah terbaik anda ke media manapun yang menjadi target anda.

Maka janganlah menjadi penulis jadi-jadian. Penulis yang kurang sabar dalam berproses untuk menjadi.
Kurang sabar dalam mengirim naskah. 

Jangan harap naskah yang akan anda kirim akan dimuat oleh media yang anda tuju. Lupakanlah naskah itu. 
Duduklah kembali dan buat naskah yang lain. Lalu kirimlah naskah terbaik yang lain. 

Biarkan Tuhan bekerja untuk anda.
Penulis Jadi-jadian Penulis Jadi-jadian Reviewed by Ahmad Lamuna on 5:30 PM Rating: 5

1 comment:

Powered by Blogger.