Pemenang Sayembara Cerpen Isra Mi'raj 2015



Malam Perjalanan Istimewa
Oleh: Nia Hanie

Duduk santai di atas sofa empuk sambil menikmati rintikan air hujan yang turun sore itu, Nuha dengan mushaf di tangannya perlahan melantunkan ayat Al-qur’an. Surat Al-Israa yang sedang dibaca terjemahannya, membuatnya bertanya-tanya begitu tiba di ayat pertama yang menceritakan kejadian malam perjalanan Nabi Muhammad Saw. dari masjid Haram ke masjid Al-aqsha. Gadis yang sedang beranjak remaja ini mulai rajin mengaji sejak bergabung dengan ekskul rohis di sekolahnya. Demi memuaskan rasa keingintahuannya mengenai apa yang terjadi di malam perjalanan Nabi Saw. itu, Nuha menemui ayahnya yang agak sibuk dengan majalah politik yang sedang dibacanya.
“Yah, buat apa Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari masjid Haram ke masjid Al-aqsha?”, Nuha mulai membuka diskusi dengan ayahnya yang tidak berpaling dari majalah di tangannya.
“Oh, itu namanya isra’ mi’raj.” Jawaban ayahnya yang begitu singkat membuatnya semakin penasaran. Isra’ mi’raj, kata yang tidak asing baginya. Remaja penyuka hujan ini seperti pernah mendengarnya, tapi tidak tahu pasti apa yang dimaksud.
“Ceritain dong tentang perjalanan isra’ mi’raj itu, yah!” Pintanya.
“Nuha, ayah gak bisa cerita sekarang. kamu gak liat ayah sedang baca?” Seru lelaki berpostur tegap itu dengan sinis.
Nuha kecewa dengan sikap ayahnya yang tidak mengabulkan keinginannya itu. Dia pun berlalu dari hadapan Sang Ayah menuju kamar. Rintik hujan masih menemaninya. Mushaf yang tadi dibacanya tertinggal di ruang tamu. Nuha tidak bermaksud untuk melanjutkan bacaannya, malah menuju laptopnya untuk mencari tahu sendiri apa itu isra’ mi’raj.
Begitu koneksi internet tersambung, Ia pun langsung memainkan jarinya di atas keyboard. “Isra mi’raj” kata yang ia ketik di kolom pencarian. Tak perlu waktu lama, keluarlah semua artikel yang berhubungan dengan peristiwa besar itu. melihat begitu banyaknya sumber, Nuha pun jadi bingung, sumber yang mana yang akan dibukanya. Tak terasa azan maghrib terdengar sayup-sayup di telinganya. Ya, suara azan memang tidak terdengar begitu jelas dari rumahnya yang jauh dari masjid.
Nuha meninggalkan laptopnya yang masih menampilkan hasil pencarian tadi begitu saja. Remaja 13 tahun ini teringat pesan guru agama di sekolah untuk selalu shalat tepat waktu. Dengan terburu-buru dia menuju kamar kecil untuk berwudhu. Dia sempatkan untuk menoleh ke ruang tamu, sekedar memastikan apakah Ayahnya masih di sana atau tidak. Namun tak dia temui sosok Ayahnya di sana. Nuha agak penasaran untuk mengetahui dimana keberadaan Ayahnya. Lantas dia menuju dapur, ternyata Ayahnya ada di sana sedang menerima telepon.
“Jadi begini Pak, saya sudah berusaha untuk mencari pinjaman uang untuk itu.”
“Mohon bapak beri saya waktu sedikit lagi.”
“Iya betul, memang perjanjiannya begitu. Saya pasti akan memenuhi janji Pak. Bapak tolong bersabar dulu.”
“Baik Pak, saya janji. Jangan khwatir.”
Nuha memperhatikan raut wajah Ayahnya yang kurang menyenangkan. Dia menerka-nerka apa yang sedang dibicaraka Ayahnya di telepon. Melihat Si Ayah yang kelihatannya masih lama bicara di telepon, Nuha pun mendekat bermaksud untuk mengingatkan Ayahnya bahwa waktu maghrib sudah tiba. Dia memberi isyarat dengan menunjuk jam tangan dan sedikit gerakan takbiratul ihram, berharap Ayahnya mengerti apa yang dia maksud. Tetapi lelaki single parent itu hanya mengangguk saja sambil terus berbicara di telepon.
Jam istirahat sekolah, Nuha teringat sesuatu yang belum Ia dapatkan jawabannya semalam. Akhirnya gadis berambut lurus itu menemui seorang teman yang juga anggota rohis, Icha, seorang gadis berjilbab yang selalu ceria karena segaris senyum tak pernah hilang dari bibirnya.
“Cha, lo kan anaknya alim nih. Lo pasti tau kan kisah tentang perjalanan Nabi Muhammad dari masjid Haram ke masjid Al-aqsha?”
“Ehmm,,ya sedikit banyak aku tau kisah itu. Emang kenapa?”
“Ceritain ke gue dong Cha, please!”
“Kamu mau tau banget ya?” Balas Icha sambil tersenyum. “boleh aja sih. Tapi jangan aku ya yang cerita. Biar lebih detil dan kamu ngerti, gimana kalo Abiku aja yang cerita?”
“O, gitu. Terus kapan gue ketemu Abi lo?”
“Besok setelah pulang sekolah ke rumah aku gimana?”
“Wah, boleh tuh Cha. Ya udah gue minta ijin sama bokap dulu kalo gitu. Thank you Ichaaaa.” Nuha berlalu setelah sebelumnya mencubit pipi Icha hingga si empunya merasa kesakitan dan sedikit malu di depan teman-teman lain yang berada di dalam kelas. Icha sempat cemberut ke arah Nuha, tapi bukan Icha namanya kalau tidak tersenyum.
Malam itu Nuha memutuskan untuk meminta ijin pada Ayahnya. Setelah melalui percakapan yang cukup alot antara anak dan ayah, akhirnya Nuha diijinkan dengan syarat tidak pulang malam. Gadis itu pun loncat kegirangan. Ayahnya hanya heran saja melihat tingkah anaknya yang berlebihan. Bagaimana tidak, Nuha memang jarang sekali diijinkan untuk pergi keluar untuk sekedar bersosialisasi dengan teman-temannya. Sejak Ibunya meninggal, Nuha lebih sering di rumah bersama Ayahnya. Perubahan yang cukup drastis dari gadis berkacamata itu adalah dia menjadi lebih perhatian dengan shalat lima waktu yang selama ini jarang Ia lakukan.
Ayahnya yang mengetahui perubahan itu, tidak terlalu mempersoalkannya. Menurutnya itu adalah suatu perubahan yang baik, meskipun dirinya sendiri masih sering mengabaikan perintah Allah yang satu itu. Nuha selalu berusaha mengingatkan Sang Ayah untuk shalat. Ayahnya hanya mengiyakan saja, terkadang Ia melakukannya, namun sering juga lupa. Menurutnya shalat itu tidak harus dipaksa, jika Ia ingin melakukannya, maka Ia akan melakukannya dengan keinginan sendiri bukan dari orang lain.
Nuha memperhatikan raut wajah ayahnya yang sedikit gelisah. Ingin sekali dia bertanya apa yang sedang dialaminya, namun ia mengurungkan niat, khawatir Ayahnya berubah pikiran.
“Cha, kita naik apa ke rumahmu?” Tanya Nuha antusias.
“Naik bajaj aja ya, deket koq.” Icha menjawab masih dengan senyum manisnya.
Bajaj berhenti persis di depan sebuah rumah yang cukup asri dengan rimbunnya pohon dan tanaman bunga. Nuha terpesona oleh indahnya tanaman yang terawat dengan rapi dan indah.
“Hei, yuk masuk.” Icha menepuk bahu Nuha yang disapa sejak tadi, tapi tidak direspon.
“Rumahmu enak ya cha, adem. Gue suka deh.”
“Terima kasih. Ini semua berkat tangan terampil ibuku yang pandai merawat tanaman. Dulu umi adalah florist, dia suka sekali dengan bunga. Makanya jadi begini deh rumah kami sekarang.”
“oooh, gitu.” Kacamatanya berguncang akibat kepala Nuha yang manggut-manggut.
Ibu Icha adalah seorang yang sangat ramah, membuat Nuha merasa nyaman berada di sana. Setelah menyelesaikan makan siang kami, Nuha membantu Icha mencuci piring. Sedangkan Ayah Icha sudah menunggu di ruang tengah. Begitu tuntas tugas kami, kami langsung menuju tempat di mana Ayah Icha berada.
“Bi, dimulai aja. Supaya Nuha tidak pulang terlalu sore.” Pinta Icha.
“Baiklah. Kalau begitu Abi ingin tau dulu, kira-kira bagian apa yang membuat Nuha penasaran dengan perjalanan Nabi dari masjid Haram ke masjid Al-aqsha?” Tanya Abi Icha dengan sopan.
“Semuanya Pak, kalau boleh.” Jawab Nuh sekenanya sambil memperliatkan deretan giginya yang cukup rapi.
“Ok. Kita mulai saja. Bismillahirrahmaanirrahiim.” Abi memulai.
Anas bin Malik mengisahkan bahwa, Nabi Saw. bercerita.
“Suatu malam aku didatangi oleh buraq. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Ia merendahkan tubuhnya, lalu aku segera menungganginya hingga sampai di Baitul Maqdis.  Tiba di Baitul Maqdis,  aku mendirikan shalat sebanyak dua rakaat. Lalu datanglah jibril dengan membawa semangkuk arak dan semangkuk susu, aku pun memilih susu.” Seru Al-‘Amin.
“Kamu telah memilih fitrah.” Ucap Jibril.
Lalu malaikat Jibril membawaku naik ke langit pertama dan bertemu dengan Nabi Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku. Setelah itu kami naik ke langit kedua dan bertemu Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria. Mereka pun menyambutku dan berdoa untukku. Selanjutnya Jibril membawaku ke langit ketiga, di sana aku bertemu dengan Nabi Yusuf a.s. yang telah dikaruniakan kedudukan yang sangat tinggi. Dia menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keempat, kali ini Nabi Idris a.s yang menyambut dan mendokanku dengan kebaikan.
Di langit kelima aku bertemu dengan Nabi Harun a.s. seperti yang lainnya, dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Tiba di langit keenam aku bertemu dengan Nabi Musa, dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian Jibril membawaku ke lapisan langit yang terakhir, langit ketujuh. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim Alaihissalam, dia sedang menyandar di Baitul Makmur.
Kemudian aku dibawa ke tujuan terakhir yaitu Sidratul Muntaha, yang daun-daunannya besar seperti telinga gajah dan ternyata buahnya sebesar tempayan. Ketika aku menaikinya dengan perintah Allah, maka Sidratul Muntaha berubah. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku berupa kewajiban shalat lima puluh waktu sehari semalam.
Wangi harum teh hangat buatan umi Icha tercium dari jarak jauh membuat Nuha kurang konsentrasi.
“Boleh gabung?” Wanita yang berpostur tinggi itu mengusik konsentrasi kami dengan sesuatu yang sejak tadi diharapkan. Beberapa cangkir teh hangat dan kue kering sudah tersaji di meja ruang tengah tempat mereka berkumpul.
“Umi tau aja yang kita mau.” Icha menyambut dengan wajah tidak sabar ingin menikmati tea break yang dibawa uminya.
Abi Icha dan Nuha hanya tersenyum bahagia menyambut teh hangat dan kue kering itu. “Yuk minum tehnya Nuha, biar lebih seger denger ceritanya.” Nuha yang duduk disamping Icha tidak ragu untuk mengambil cangkir tehnya sambil tersenyum, “Makasih bu, enak sekali tehnya.”
“Jadi mau dilanjut gak nih ceritanya? Sampai dimana tadi ya?” Abi Icha menanyakan kepada anak-anak gadis itu untuk memastikan kalau mereka menyimak dengan seksama cerita yang disampaikannya tadi.
“Eehm,,,tadi itu sampe Nabi Muhammad mendapat wahyu shalat lima puluh waktu.” Nuha mengingatkan.
“Oh, ya. Benar. Lalu…”Abi Icha melanjutkan.
Ketika aku turun dan bertemu dengan Nabi Musa. Dia bertanya, “Apakah yang telah difardhukan Tuhanmu kepada umatmu?”
“Shalat lima puluh waktu sehari semalam.” Jawab Rasul.
“Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya.”
Kemudian aku kembali kepada Tuhan, “Wahai Tuhanku berilah keringanan kepada umatku.”
Lalu Allah Subhanahu wata’ala mengurangi lima shalat dari yang sebelumnya. Setelah itu aku kembali turun dan bertemu Nabi Musa, aku berkata, “Allah telah mengurangi lima shalat.”
“Umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu dan minta keringanan lagi.” Ujar Nabi Musa.
Sementara itu aku masih bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa, sampai Allah berfirman, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Aku fardhukan lima waktu sehari semalam. Setiap shalat fardhu dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat. Maka itulah lima puluh shalat fardhu. Begitu juga barang siapa yang berniat melakukan kebaikan tetapi tidak melakukannya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barang siapa berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak dicatat baginya sesuatu pun. Lalu jika dia mengerjakannya, maka dicatat baginya satu kejahatan.”
Aku pun turun kepada Musa, dia masih saja berkata,”Kembailah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan.”
“Aku terlalu banyak berulang-ulang kembali kepada Tuhanku, sehingga membuat aku malui kepada-Nya.” Sanggah Nabi Muhammad.
“Nah, itulah kisah perjalan isra’ mi’raj Nabi kita, Nuha. Sejak saat itu sampai sekarang, perintah shalat sudah sangat ringan sekali. Hanya lima kali sehari. Tapi sayangnya masih banyak umat Islam yang belum menunaikan kewajiban ini. Padahal shalat wajib ini adalah amal yang pertama kali akan dihisab nanti diakhirat. Jika shalat kita baik, maka baik pula amalan kita yang lain. sebaliknya jika shalat kita buruk, buruk pula amalan lainnya.” Abi menyimpulkan.
Nuha semakin sadar dan paham tentang perintah shalat setelah mendengar kisah isra’ mi’raj ini. Dia teringat diri dan Ayahnya yang masih belum sempurna dalam mendirikan shalat. Betapa Allah sudah sangat baik kepada hambaNya. Dia telah mengurangi jumlah shalat yang tadinya sangat berat bagi kita menjadi hanya sedikit saja, yaitu lima kali sehari. Nuha berniat untuk menceritakan hal ini kepada Ayahnya jika sampai rumah nanti.
Setelah selesai diskusi dan tanya jawab dengan Abi Icha, Nuha pun pamit untuk pulang. Hari belum gelap ketika dia tiba di rumah. Icha masuk ke rumah dan langsung mencari keberadaan Ayahnya. Dia tidak menemukannya di ruang tamu atau dapur, lalu dia memeriksa ke kamar Ayahnya. Benar saja Ayahnya sedang berada di kamar dalam keadaan sedang bersujud di atas sajadah. Hati Nuha saat itu begitu bahagia melihat Ayahnya sudah mulai melakukan shalat. Dia pun bangga dengan Ayahnya.
“Alhamdulillah.” Ucapnya dalam hati, tidak lupa tersenyum.
Nuha memperhatikan wajah Ayahnya yang kelihatan lebih cerah dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Dia pun ingin tua apa yang terjadi sehingga membuat Ayahnya berwajah ceria. Belum lagi dia bertanya, Laki-laki yang sangat disayanginya itu mulai menceritakannya lebih dulu.
“Kamu tau Nuha, hari ini Ayah senang sekali. Ayah dapat proyek besar dari kantor, dan pastinya Ayah akan segera melunasi biaya sewa rumah kita yang sempat tertunda beberapa bulan lalu. Alhamdulillah, Allah masih memberi kepercayaan pada kita. Makanya kita harus terus bersyukur ya, Nuha” Jelas Ayahnya.
Ooh, mungkin ini alasan Ayah mengerjakan shalat yang kulihat tadi.” Ucap Nuha dalam hati. Dia berharap dalam hati, semoga Ayahnya mulai sadar dan akan melaksanakan shalat seterusnya. Nuha pun tersenyum ke arah Ayahnya.
                                                                ***



Biodata Penulis 
Nama lengkap Rukhaniyah, biasa dipanggil Nia. Berdomisili di Condet, Jakarta Timur. Saat ini tergabung di FLP Jakarta, Pramuda 19. Menulis baru saya gemari dua tahun terakhir ini. Tulisan-tulisan sederhana saya dapat dibaca di www.nulisajayuk.blogspot.com.


Catatan dari Divisi Karya FLP Jakarta
Rukhaniyah merupakan pemenang pertama dalam Sayembara Cerpen Isra Mi'raj yang diadakan internal oleh FLP Jakarta periode 11 April s/d 11 Mei 2015. Walau masih ada kekurangan, tetapi naskah di atas tergolong memenuhi kriteria-kriteria yang ditentukan dan Divisi Karya sengaja tidak melakukan pengeditan. Pemenang telah mendapatkan hadiah bingkisan berupa sebuah karya dari penulis ternama; Pipit Senja, piagam dari Divisi Karya FLP Jakarta dan karyanya berhasil dimuat di sini. Selamat ya, Nia! :)

Jakarta, 24 Mei 2015



Pemenang Sayembara Cerpen Isra Mi'raj 2015 Pemenang Sayembara Cerpen Isra Mi'raj 2015 Reviewed by Divisi Karya FLP Jakarta on 6:47 PM Rating: 5

4 comments:

  1. Alhamdulillaah... Selamat ya untuk Nia.
    Semoga semakin bagus dalam karya-karya selanjutnya...Aamiin ❤

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah, terima kasih untuk semua apresiasinya. Semoga bisa membuat tulisan yang lebih baik lagi kedepannya. Aamiin.

    Happy writing ^^

    ReplyDelete
  3. Semoga kemenangan ini tidak membuat Nia merasa puas. Selamat ya

    ReplyDelete

Powered by Blogger.